Kamis, 7 Mei 2026
NTB Makmur Mendunia
NTB Makmur Mendunia

Opini

Ramadan Bukan Meritokrasi: Kritik atas Logika Kompetisi dalam Ibadah

Ramadhan bukan meritokrasi. Ia adalah ibadah ubudiyah yang sepenuhnya kembali kepada Allah, bukan sistem distribusi prestasi spiritual.

Tayang:
Editor: Sirtupillaili
TRIBUNLOMBOK.COM
Dr H Ahsanul Khalik - Penulis merupakan alumni Pascasarjana UIN Mataram dan kini menjabat sebagai Kepala Dinas Komunikasi Informatika dan Statistik (Diskominfotik) Provinsi NTB. 

Oleh: Dr. H Ahsanul Khalik 
Kadis Kominfotik NTB & Keluarga Besar Alumni Pasca Sarjana UIN Mataram

Menyebut Ramadhan sebagai meritokrasi bukan sekedar kekeliruan istilah. Ia adalah kekeliruan cara berpikir. Ia memindahkan logika kompetisi dunia ke ruang penghambaan yang sepenuhnya milik Allah.

Munculnya ungkapan “meritokrasi Ramadhan” untuk menggambarkan bahwa bulan suci adalah arena perlombaan spiritual, di mana siapa paling banyak amalnya, ia paling tinggi derajatnya. Sekilas terdengar inspiratif. Namun secara konseptual, istilah ini problematik. Ia menggeser orientasi puasa dari ubudiyah menuju performativitas; dari ketundukan kepada Allah menuju kalkulasi capaian.

Masalahnya bukan pada semangat berlomba dalam kebaikan. Islam jelas mengajarkan fastabiqul khairat. Masalahnya adalah pada kerangka berpikir yang digunakan.

Ramadhan bukan meritokrasi. Ia adalah ibadah ubudiyah yang sepenuhnya kembali kepada Allah, bukan sistem distribusi prestasi spiritual antar manusia. Di sinilah letak masalahnya. Ramadhan tidak lahir dari logika kompetisi, tetapi dari logika penghambaan.

Baca juga: Manajemen Konsumsi dan Paradoks Puasa Ramadan

Meritokrasi dan Logika Pengukuran

Dalam teori sosial modern, meritokrasi adalah sistem distribusi status berdasarkan kemampuan dan prestasi individu. Michael Young dalam "The Rise of the Meritocracy" menggambarkannya sebagai tatanan sosial yang menempatkan manusia menurut capaian terukur. Max Weber menyebut rasionalisasi sebagai ciri utama modernitas, di mana segala sesuatu dinilai melalui ukuran, efisiensi, dan performa.

Meritokrasi adalah anak kandung logika pengukuran itu.

Tetapi puasa tidak tunduk pada mekanisme pengukuran manusia. Ia tidak memiliki instrumen verifikasi publik. Tidak ada panel penilai, tidak ada sistem ranking, tidak ada legitimasi sosial atas “derajat” spiritual seseorang.

Ketika istilah meritokrasi dipindahkan ke dalam Ramadhan, yang terjadi bukan sekedar metafora kreatif. Yang terjadi adalah sekularisasi bahasa ibadah yang merupakan pemaksaan kategori sosiologis ke dalam wilayah teologis.

Meritokrasi bekerja dalam relasi horizontal antar manusia. Puasa bekerja dalam relasi vertikal antara hamba dan Allah. Keduanya tidak berada dalam horizon makna yang sama.

Tujuan Puasa: Takwa, Bukan Superioritas

Alquran menegaskan: “Wahai orang-orang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” (QS. Al-Baqarah: 183)

Tujuan puasa adalah takwa, yang merupakan kesadaran mendalam akan pengawasan Allah. Bukan prestasi. Bukan pengakuan sosial. Bukan klasifikasi derajat yang bisa diumumkan.

Dalam Ihya’ Ulumuddin, Imam Al-Ghazali menjelaskan tingkatan puasa: puasa orang awam, puasa orang khusus, dan puasa orang paling khusus. Tingkatan ini bukan struktur kompetisi, melainkan kedalaman batin yang bahkan pelakunya sendiri tidak boleh merasa memilikinya. Amal yang paling tinggi justru semakin membuat pelakunya merasa kecil.

Hadis qudsi menegaskan: “Puasa itu untuk-Ku dan Aku sendiri yang akan membalasnya.”

Kalimat ini memutus logika meritokrasi sejak awal. Jika puasa sepenuhnya milik Allah, maka manusia tidak memiliki otoritas untuk mengubahnya menjadi sistem evaluasi sosial.

Sumber: Tribun Lombok
Halaman 1/2
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved