Senin, 18 Mei 2026
NTB Makmur Mendunia
NTB Makmur Mendunia

Pesan Ramadan

Manajemen Konsumsi dan Paradoks Puasa Ramadan

Konsep kesederhana yang diajarkan Ramadan menjadi sulit untuk dijelaskan di saat perubahan budaya konsumsi masyarakat ini.

Tayang:
Editor: Sirtupillaili
TRIBUNLOMBOK.COM
Prof. Dr. Kadri, M.Si - Penulis merupakan Guru Besar Ilmu Komunikasi, Universitas Islam Negeri (UIN) Mataram. 

Oleh: Prof. Dr. Kadri, M.Si 
Guru Besar Ilmu Komunikasi UIN Mataram

Bulan Ramadan selalu terkait dengan persoalan makanan. Perubahan waktu makan dan menu makanan dari biasanya juga dipastikan terjadi. Kebutuhan dan perminataan yang tinggi terhadap menu-menu berbuka puasa tidak bisa dielakkan, dan kehadiran penjual makanan di bulan suci Ramadan begitu massif terjadi, baik pengusaha lama yang memperluas/memperbanyak volume jualannya maupun pendatang baru yang memanfaatkan momen tentingginya permintaan pasar. 

Namun fenomena tersebut acap kali menyisahkan persoalan duniawi seperti kelangkaan bahan kebutuhan pokok, tingginya harga, munculnya kasus makanan berbahan pengawet, dan pelbagai persoalan lainnya. 

Semua persoalan tersebut bisa diminimalisir jika masyarakat muslim tidak terlalu ekstrem mengubah tradisi atau manajemen konsumsinya selama Ramadan, dengan cara menjadikan makanan bukan sebagai hal yang perioritas selama Ramadan karena berpuasa hanya merubah waktu makan, bukan mengganti menu makan menjadi lebih mewah dan banyak. 

Dalam konteks inilah pentingnya manajemen konsumsi yang berorientasi pada kebutuhan bukan pada keinginan apalagi nafsu yang berlebihan.

Kehadiran bulan Ramadan sering kali diikuti beberapa persoalan duniawi yang disebabkan oleh ulah manusia, baik secara personal maupun secara kelembagaan seperti negara. Pelonjakan harga kebutuhan pokok (seperti daging sapi, cabe, dan lainnya) adalah salah satu permasalahan yang senantiasa dipikirkan pemerintah menjelang dan saat ramadan.

Kehadiran negara dengan regulasinya yang tepat sangat diperlukan untuk mengatasi hal ini. Permasalahan rutin duniawi di level personal atau kelompok masyarakat saat bulan suci Ramadan biasanya terkait dengan penemuan bahan makanan yang menggunakan pengawet atau bahan kimia lainnya yang tidak sehat, dan aksi sweeping penjual makanan di pagi dan siang hari oleh oknum kelompok ormas atau aparat pemerintah seperti polisi pamong praja.    

Sejatinya persoalan-persoalan tersebut tidak harus rutin hadir setiap bulan Ramadan bila diantisipasi secara serius oleh pemerintah, pelaku bisnis, dan rakyat sebagai konsumen. 

Munculnya permasalahan-permasalahan tersebut bisa jadi disebabkan oleh ketidakseriusan pemerintah untuk membuat regulasi yang solutif dan mengawalnya dengan sebaik-baiknya. Persoalan serupa juga sangat mungkin disebabkan oleh minimnya kerelaan pengusaha untuk jujur dan fair serta bijak dalam berbisnis. 

Baca juga: Puasa dan Komunikasi Sebagai Nutrisi Jiwa Raga

Tetapi kita tidak boleh lupa bahwa faktor manajemen konsumsi kita yang belum ideal saat ramadhan turut menjadi penyebab munculnya persoalan duniawi tersebut. Bila tiga unsur tersebut (pemerintah, pengusaha, dan konsumen) bisa berkontribusi sesuai kapasitasnya masing-masing secara konsisten, maka kemungkinan terulangnya problem-problem duniawi saat ramadhan seperti di atas tidak akan terjadi, atau paling tidak bisa diminimalisir. 

Kebijakan (regulasi) pemerintah hanya bisa mengatur distribusi dan harga, yang semuanya lebih banyak terkait dengan pengusaha. Kebijakan operasi pasar yang dihajatkan untuk rakyat pun dinilai belum bisa menuntaskan problem kelangkaan dan naiknya harga kebutuhan pokok. 

Cara dan pola pendekatan seperti tersebut dinilai tidak solutif dan belum berefek massif bagi terurainya persoalan tahunan di setiap Ramadan. “Keserakahan” pengusaha yang mengabaikan regulasi acap kali dituding sebagai penyebab tidak efektifnya regulasi yang ditelorkan pemerintah. Perilaku nakal oknum pengusaha tersebut ditumbuhsuburkan oleh belum maksimalnya pemerintah untuk mengawal kebijakannya sendiri. 

Bila regulasi masih dianggap tumpul dan komitmen pengusaha susah diharapkan, maka tumpuan solusinya terletak pada kesadaran konsumen. Kesadaran tersebut antara lain diaplikasikan dalam bentuk membudayakan tradisi konsumsi yang tepat selama bulan Ramadan. 

Ramadan harus diprioritaskan sebagai bulan untuk memperbanyak  nutrisi rohani, dan bukan untuk dijadikan sebagai ajang merubah kualitas menu-menu bagi kebutuhan jasmaniah. Melonjaknya harga kebutuhan pokok antara lain disebabkan oleh adanya perubahan menu makanan para syaimin dan syaimat selama bulan ramadhan. 

Perubahan tersebut akan mempengaruhi tingginya permintaan kebutuhan bahan pokok, yang tidak seimbang dengan ketersediaan bahannya di pasar. Kelangkaannnya pun bisa disebabkan karena ketidaktepatan pengaturan atau akibat permainan para pengusaha nakal dengan berbagai modus operannya. 

Sumber: Tribun Lombok
Halaman 1/2
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved