Opini
80 Tahun Kemerdekaan, Paradoks Pendidikan Indonesia
Tingkat kesejahteraan guru yang masih banyak jauh dari harapan berdampak pada kualitas guru dan siswa.
Tingkat kesejahteraan guru yang masih banyak jauh dari harapan ini berdampak pada kualitas guru dan siswa. Guru tidak akan mampu mengajar dengan tenang ketika untuk memenuhi kehidupan pangan hari esok pun masih bingung. Sehingga, proses transfer of knowledge tidak berjalan maksimal. Murid datang ke sekolah hanya untuk mencatat bukan berdiskusi, hanya untuk menghafal bukan bertanya, hanya untuk lulus bukan untuk faham. Lalu kita sebut itu sebagai pendidikan?. Kegiatan semacam ini membutuhkan energi yang ada pada diri seorang guru yang sudah terbebas dengan urusan perut esok mau makan apa. Sehingga, banyak guru honorer terutama yang lebih fokus mencari pendapatan tambahan menjadi tukang ojek, peternak, petani, pedagang, dan lainnya, sehingga profesi guru hanya jadi pekerjaan sampingan. Dengan demikian, bagaimana mau menuntut kualitas siswa pada guru dalam kondisi di atas.
Berdasarkan laporan Program for Internasional Student Assesement (PISA) yang dirilis tiap tiga tahun sekali, pada tahun 2022 Indonesia berapa diuratan 69 dari 80 negara anggota. Program penilaian ini mengukur kemampuan siswa setingkat SMA dalam hal Literasi, Numerasi dan Sains. Hasilnya terbilang masih belum memuaskan.
Siswa Indonesia berada diurutan 11 terbawah, bahkan tertinggal cukup jauh dengan Vietnam dan Brunai. Di level Asia Tenggara pun siswa Indonesia berada di level 4 terbawah (goodstats.id). Bagaimana tidak, dibanyak sekolah se tingkat menengah atas juga masih terdapat banyak siswa yang belum lancar membaca. Jika kemampuan literasi membaca saja masih belum lancar bagaimana bisa faham akan substansi materi apa yang dibaca.
Di sekolah, ruang kelas seringkali penuh dengan suara satu arah, murid hanya mencatat, sesekali intrupsi angkat tangan tapi bukan untuk bertanya melainkan untuk izin ke toilet. Ruang kelas yang baik bukanlah kelas yang sunyi, tapi memberi ruang bagi semua untuk bertanya, menanggapi dan mencari tau. Begitulah pendidikan tumbuh, bukan dari satu suara tapi keberanian mendengarkan dan merespon. Siswa tidak hanya disuruh menulis dan menghafal, tapi juga berdiskusi dan berdialog.
Dengan begitu, siswa akan tau cara mengajukan pertanyaan, berani menyanggah, menyampaikan pendapat dan bernalar. Belum lagi perpustakaan sering kali terlihat rapi, menandakan siswa jarang berinteraksi dengan buku-buku didalamnya. Perpustakaan menjadi ruang yang paling membosankan bagi siswa, padahal dari ruangan itulah seluruh hasil pemikiran dan ilmu terkumpul untuk dikembangkan.
| Ketika Angka Ketimpangan Gender Turun, Mengapa Perempuan NTB Masih Tertinggal? |
|
|---|
| Menolak Kereta Gantung Rinjani, Menjaga Harga Sebuah Keaslian |
|
|---|
| Insentif Kendaraan Listrik : Dari Kebijakan Nasional ke Praktik Daerah |
|
|---|
| Daycare dan Luka yang Tak Terlihat: Adakah yang Gagal pada Pedagogi Kita? |
|
|---|
| NTB Kunci Teluk Saleh: Wisata Tumbuh, Ekologi Tetap Lestari |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/lombok/foto/bank/originals/Kirab-Bendera-Pusaka-Merah-Putih_20250817_1554122jpg.jpg)