Opini
Sasak Terapung di Palung Formalisme Agama
Pesantren secara simbolik melahirkan elite baru dalam agama yang semakin meninggikan jurang antara masyarakat bawah dengan para elite baru tersebut.
Di Lombok, perubahan ini menciptakan dinamika baru di mana kelompok-kelompok keagamaan mulai membangun batas-batas yang lebih ketat, memisahkan (kami) dari (mereka), menciptakan persaingan antar kelompok, persinggungan antar ormas, dan dalam beberapa kasus terendus memperburuk ketegangan sosial.
Semakin agama dilembagakan, semakin ia kehilangan fleksibilitasnya. Michel Foucault dalam Discipline and Punish (1975) menunjukkan bagaimana institusi membentuk individu melalui sistem disiplin dan kontrol. Dalam konteks pesantren di Lombok, struktur hierarkis dan aturan ketat membentuk pola pikir dan perilaku santri, menciptakan norma-norma yang harus diikuti. Tetapi dalam proses ini, ruang bagi ekspresi spiritual yang lebih bebas semakin sempit. Jika dahulu para Tuan Guru ngamari memiliki kebebasan untuk mengajar dengan pendekatan yang fleksibel dan sesuai dengan kebutuhan masyarakat, kini pesantren menciptakan standar tertentu yang harus diikuti.
Ketika agama menjadi semakin formal, ia juga semakin rentan terhadap eksploitasi politik. Jose Casanova dalam Public Religions in the Modern World (1994) menunjukkan bahwa ketika agama masuk ke dalam ruang publik dalam bentuk yang terlalu formal, ia sering kali kehilangan daya spiritualnya dan berubah menjadi alat politik. Di Lombok, formalisasi agama telah memberi pengaruh besar kepada para Tuan Guru yang memiliki pesantren dan melekat pada ormas tertentu. Mereka bukan hanya sekadar pemimpin spiritual, tetapi juga memiliki pengaruh dalam politik. Hubungan antara pesantren dan kekuasaan menjadi semakin erat, dan dalam banyak kasus, agama digunakan sebagai alat untuk memperkuat posisi politik dan ekonomi kelompok tertentu.
Di tengah semua perubahan ini, Sasak kehilangan figur-figur spiritual yang cair, mereka yang tidak terikat pada institusi, tetapi tetap memiliki pengaruh besar dalam kehidupan masyarakat. Jika dahulu para Tuan Guru ngamari seperti Tuan Guru Lopan dan TGH Mutawalli Jerowaru bisa bergerak bebas dan mengajar tanpa batasan formal, kini figur-figur seperti mereka semakin sulit ditemukan. Agama yang dahulu hadir secara organik dalam kehidupan masyarakat Sasak kini menjadi bagian dari institusi yang memiliki aturan dan batasan yang lebih ketat.
Realitas paling genting dalam masyarakat Sasak bukan hanya kehilangan guru agama yang ngamari, tetapi juga kehilangan figur-figur tengah, mereka yang bisa berdiri di antara semua golongan tanpa terperangkap dalam sekat-sekat eksklusivitas. Sasak bukan lagi entitas yang bernafas sebagai bangsa, tetapi semakin larut dalam konstruksi sosial yang terkotak-kotak: terpecah ke dalam kelompok Tuan Guru A dan Tuan Guru B, terseret ke dalam kamar-kamar organisasi keagamaan yang berseberangan. Tidak ada lagi tokoh agama yang melintas batas, yang bergerak dari kampung ke kampung tanpa membawa bendera ponpes, masjid, kelompok dan ormas apa pun, menyentuh realitas masyarakat Sasak yang miskin, mengangkat semangat mereka untuk bertahan hidup dalam akidah Islam meski dalam situasi sepekat apa pun.
Jika dahulu Tuan Guru Lopan hadir sebagai guru agama yang merakyat, mendekati mereka yang terpinggirkan, menyentuh Sasak yang terbaikan, mengayomi Sasak bodoh dan jauh dari Muhammad, kini figur semacam itu semakin menghilang, tergantikan oleh tokoh agama yang kian eksklusif, berilmu tinggi, berlatar belakang pendidikan formal yang mapan. Tokoh agama yang dipuja dan dihormati secara berlebihan oleh jamaahnya. Tokoh agama yang kehilangan akses terhadap denyut kehidupan akar rumput masyarakat Sasak yang tersembunyi di kampung-kampung, ditutupi oleh suara speaker melaung-laung dari menara masjid yang megah.
Krisis ini semakin nyata ketika institusi pesantren yang asasnya sebagai pusat ilmu dan kebijaksanaan kini juga menciptakan elitisme agama. Guru agama yang dulunya hadir untuk mengayomi semua lapisan masyarakat dari maling hingga ahli ibadah, dari jilbaber hingga mereka yang masih bergelut dalam kemaksiatan, dari Sasak yang pintar hingga mereka yang buta huruf, dari Sasak yang beraroma wangi hingga mereka yang masih embeng bais kini semakin sulit ditemukan.
Figur guru yang menjauh dari politik kuasa, yang melihat Sasak sebagai bangsa yang mesti diselamatkan dari kemiskinan dan keterjajahan, semakin kerontang oleh dinamika keagamaan yang semakin berorientasi pada dominasi kuasa dan pengaruh politik. Inilah kenyataan genting yang dihadapi Sasak, di tengah semakin banyaknya tokoh agama yang lahir dari pesantren dan perguruan tinggi, tetapi justru kian terkotak dalam bingkai yang membatasi kebersamaan sebagai satu bangsa.
Kegentingan tersebut tentu saja menjadi ancaman yang sangat serius di tengah peradaban agama di Lombok yang semakin menjulang sebagai buah dari formalisasi agama. Di balik semua kemajuan yang tampak megah, benih-benih keterbelahan dalam masyarakat Sasak semakin tumbuh subur, hanya menunggu waktu untuk dipanen dalam era kekacauan sosial yang memprihatinkan. Situasi ini, suka atau tidak suka, sadar atau tidak sadar, sebenarnya telah berlangsung setiap hari di berbagai tempat di Lombok, menjelma dalam ketegangan sosial yang senyap tetapi nyata. Jika tidak diberikan perhatian yang serius oleh orang Sasak sendiri, perpecahan ini bukan sekadar ancaman, tetapi dapat menjadi arus deras yang menggerus Sasak sebagai sebuah bangsa, mencabut akar kebersamaan yang telah lama mengikat mereka dalam satu entitas kultural yang dibangun sejak era Selaparang Islam.
Oleh kerana itu, kecemerlangan formalisme agama dalam membangun infrastruktur keagamaan wajiblah diiringi dengan suprastruktur yang tetap berpijak pada realitas sosial yang membumi. Keberhasilan membangun masjid yang megah, pesantren yang menjulang, dan melahirkan semakin banyak tokoh agama, tidak seharusnya mencabut Sasak dari akar mereka sendiri. Justru, yang diperlukan adalah keseimbangan antara kemajuan dan keluwesan sosial, agar agama tidak sekadar menjadi simbol kejayaan materialistik, tetapi tetap menjadi ruh yang mempersatukan dan mengayomi seluruh lapisan masyarakat Sasak tanpa sekat apa pun jua.
Persoalannya, apakah akan ada lagi figur penengah di kalangan masyarakat Sasak?
Malaysia, Bulan Puasa 2025.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/lombok/foto/bank/originals/Guru-Salman-Faris.jpg)