Ramadhan 2025

Batas Waktu Qadha Puasa Ramadhan dan Hukumnya Apabila Terlambat Mengganti

Terdapat perbedaan pendapat di kalangan para ulama mengenai waktu batas akhir qadha puasa Ramadhan.

pexels.com
Ilustrasi buka puasa. Terdapat perbedaan pendapat di kalangan para ulama mengenai waktu batas akhir qadha puasa Ramadhan. 

Ulama Hanafiyah berkata; Boleh mengakhirkan qadha puasa Ramadhan secara mutlak dan tidak berdosa, meskipun puasa Ramadhan berikutnya sudah tiba.

Hukum Qadha Puasa Ramadhan

Lalu bagaimana jika belum mengganti atau qadha puasa Ramadhan di tahun sebelumnya?

Dinukil dari laman Bimas Islam, bagi orang yang terlambat meng-qadha-kan puasa sampai datang Ramadhan berikutnya padahal mempunyai kesempatan untuk melaksanakannya, memiliki konsekuensi, yakni:

pertama, wajib meng-qadha puasa: Ini adalah kewajiban utama yang harus dipenuhi. Qadha puasa dilakukan dengan cara mengganti hari-hari puasa yang ditinggalkan di bulan Ramadhan sebelumnya.

Kedua, wajib membayar fidyah: Fidyah adalah denda yang diberikan kepada fakir miskin sebagai ganti dari puasa yang tidak terlaksana.

Besaran fidyah adalah satu mud makanan pokok untuk setiap hari puasa yang ditinggalkan. Satu mud setara dengan 675 gram beras atau 543 gram gandum.

إذا أفطر أياما من شهر رمضان لعذر أو غيره، فالأولى به أن يبادر بالقضاء، وذلك موسع له ما لم يدخل رمضان ثان، فإن دخل عليه شهر رمضان ثان صامه عن الفرض، لا عن القضاء، فإذا أكمل صومه قضى ما عليه، ثم ينظر في حاله، فإن كان أخر القضاء لعذر دام به من مرض أو سفر، فلا كفارة عليه، وإن أخره غير معذور فعليه مع القضاء الكفارة عن كل يوم بمد من طعام، وهو إجماع الصحابة، وبه قال مالك، وأحمد، وإسحاق، والأوزاعي، والثوري .

Artinya: Ketika seseorang membatalkan puasa bulan Ramadhan beberapa hari karena faktor uzur atau hal yang lain, maka hal yang utama baginya adalah segera mengqadha’i puasanya. Mengqadha’ ini bersifat muwassa’ (luas/panjang) selama tidak sampai masuk Ramadhan selanjutnya. Jika sampai masuk waktu Ramadhan selanjutnya maka ia berpuasa fardhu, bukan puasa qadha.

Dikutip dari laman Bimas Islam, Syekh Abdurrahman Al-Juzairi dalam Fikih Empat Madzhab Jilid 2 menyebut bahwa tidak ada batas waktu mengganti utang puasa Ramadhan.

Qadha puasa dapat dilakukan kapan saja selama di luar hari-hari yang dilarang untuk berpuasa, seperti dua hari raya, hari tasyrik, hari bernazar puasa, dan hari-hari di bulan Ramadan.

Dalam kitab Al-Mausu'ah Al-Fiqhiyah Al-Kuwaitiyah, utang puasa Ramadan boleh dilakukan kapan saja, baik setelah tahun puasa Ramadan yang ditinggalkan atau tahun-tahun berikutnya.

Sementara itu, ulama Syafi'iyah dan Hanabilah berpendapat batas waktu mengganti utang puasa Ramadan yakni hingga datangnya waktu puasa Ramadan tahun selanjutnya.

Puasa ganti dapat dilakukan pada hari-hari terakhir menjelang bulan Sya'ban, bulan terakhir sebelum Ramadan.

Ibnu Rusyd, Bidayatul Mujtahid fi Nihayatil Muqtashid, [Beirut, Darul Kutub Al-Ilmiyyah: 2013 M/1434 H], cetakan kelima, halaman 287) mengatakan batas waktu qadha puasa menurut pendapat yang lebih kuat, yaitu bahwa batas waktu qadha puasa Ramadhan adalah sebelum datangnya bulan Ramadhan berikutnya. Artinya, di bulan Sya'ban, kendatipun sudah lewat pertengahan masih tetap diperbolehkan qadha puasa.

Halaman
123
Sumber: Tribun Lombok
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved