Berita Lombok Tengah

Lombok Tengah Mulai Bagikan BLT BBM, Warga: Senang Seminggu, Sengsara Selamanya

Sejumlah masyarakat di Lombok Tengah telah menerima bantuan langsung tunai (BLT) sebagai kompensasi dampak kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM).

Penulis: Sinto | Editor: Robbyan Abel Ramdhon
TRIBUNLOMBOK.COM/SINTO
Ratusan masyarakat antre di Kantor Pos Sengkol, Lombok Tengah untuk mengambil uang BLT BBM, Jumat (9/9/2022). 

Laporan Wartawan Tribunlombok.com, Sinto

TRIBUNLOMBOK.COM, LOMBOK TENGAH - Sejumlah masyarakat di Lombok Tengah telah menerima bantuan langsung tunai (BLT) sebagai kompensasi dampak kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM).

Puluhan hingga ratusan masyarakat dari berbagai desa di Kecamatan Pujut, berbondong-bondong datang ke Kantor Pos Sengkol, Lombok Tengah, Jumat (9/9/2022) untuk menerima bantuan tersebut.

Sebelum menerima uang, ada petugas khusus yang mengecek kelengkapan berkas dari para warga yang menerima bantuan.

Selanjutnya para warga diminta antri, mereka yang lansia dan memiliki penyakit diberikan prioritas khusus dengan didampingi petugas

Baca juga: Jokowi: Pemerintah Berupaya Lindungi Rakyat dari Gejolak Harga Minyak Dunia

Sebelum menerima bantuan uang sebesar Rp500 ribu, petugas kembali memastikan dokumen dan E-KTP yang dibawa.

Petugas melakukan pemindaian dengan aplikasi smartphone untuk mengecek kevalidan data.

Sementara dokumen fisik dikumpulkan, selanjutnya saat menerima uang masing-masing warga juga harus didokumentasikan menggunakan kamera handphone yang dibawa petugas.

Setiap warga yang lolos seleksi akan mendapatkan bantuan tunai sebesar Rp500 ribu.

Baca juga: Ongkos Ojol dan Bus Naik! Berikut Rincian Tarif yang Akan Berlaku

Berdasarkan pantauan Tribunlombok.com di kantor Pos Sengkol, Lombok Tengah tampak antrean warga mengular.

Seorang warga bernama Jayadi, asal Desa Rembitan, Lombok Tengah mengaku sejak awal sangat keberatan dengan kenaikan harga BBM.

Menurut Jayadi, adanya uang BLT ini hanya sebagai pemuas sementara saja.

Namun, dampak panjang yang akan dihasilkan jauh lebih besar dan merugikan masyarakat.

"BLT ini sebagai penyenang kita masyarakat miskin saja. Kita bahagia seminggu tapi sengsara selamanya," jelas Jayadi yang sehari-hari bekerja sebagai petani ini.

Jayadi mengungkapkan, uang BLT tersebut hanya mampu memenuhi kebutuhan keluarganya selama seminggu.

Namun, selebihnya setelah satu minggu berlalu, ia harus memikirkan lagi cara menghidupi keluarganya akibat kenaikan harga barang dan jasa.

"Sembako, ikan, dan banyak lagi naik semua. Jadi memang luar biasa dampak dari kenaikan BBM ini. Kami harus banting tulang lagi," tutup Jayadi.

Sumber: Tribun Lombok
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    Tribun JualBeli
    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved