Breaking News:

Anak Muda Bayan Menjaga Warisan Wetu Telu di Lombok Utara

Anak muda Bayan, pewaris masyarakat adat ‘Wetu Telu’ berjuang melawan stigma dengan cara kreatif mengikis pandangan skepti

TribunLombok.com/Sirtupillaili
Mahniwati menunjukkan Kopi Nina Bayan miliknya, di Desa Karang Bajo, Kecamatan Bayan, Lombok Utara, Minggu (18/4/2021). 

Penyebabnya, saat itu kantor Pengadilan Agama sangat jauh.Karena masih bergabung dengan Kabupaten Lombok Barat. Tapi saat ini, persoalan tersebut sudah teratasi.

Ketiga, aspek kebijakan publik.Tidak adanya payung hukum yang melindungi masyarakat adat membuat mereka rentan mendapat perlakuan eksklusi sosial.

Tapi kini sudah terbit Peraturan Daerah (Perda) Lombok Utara Nomor 6 Tahun 2020 tentang Perlindungan dan Pengakuan Masyarakat Hukum Adat.

Yusuf Tantowi, aktivis Somasi NTB yang mendampingi masyarakat adat Wetu Telu waktu itu menilai, saat ini sudah banyak perbaikan dibandingkan situasi pada 2016 atau 5 tahun lalu. Terutama dari sisi akses pelayanan publik. 

Tapi aspek penerimaan sosial masih menjadi persoalan yang perlu terus diperbaiki. 

Kalangan muda Wetu Telu, kata Yusuf, lebih merasakan dampak stigma dibandingkan golongan tua.

”Mereka menghadapi tantangan lebih besar karena banyak berinteraksi dengan orang di luar komunitas mereka,” katanya.

Misalnya, anak-anak muda pergi kuliah berhadapan dengan pandangan-pandangan Islam yang berbeda.

Kelompok yang tidak setuju akulturasi Islam dan budaya lokal berusaha mempengaruhi anak muda Wetu Telu. Tradisi-tradisi Wetu Telu dianggap haram.   

Sehingga saat pulang kampung, pemuda ini menjadi enggan meneruskan adat dan budaya.

Hal ini menjadi masalah serius bagi eksistensi masyarakat Wetu Telu.

Menurutnya, pemerintah harus memberikan perhatian khusus terhadap masyarakat adat Wetu Telu.

Keberadaan mereka bukan sekedar menjaga eksistensi komunitas adat.

Masyarakat Wetu Telu dengan nilai-nilai kearifan lokalnya menjadi jaminan hutan di kawasan Gunung Rinjani tetap lestari.

Rintis Sekolah Adat

Menghilangkan stigma tidak mudah.

Renadi, selaku tokoh muda pewaris Wetu Telu prihatin. Dia pun tidak tinggal diam.

Baca juga: Menteri Sandiaga Uno Ajak Warga Dunia Berwisata ke Senggigi

Pria yang sehari-hari bekerja sebagai guru ini proaktif memperkenalkan tradisi, adat, dan budaya masyarakat Wetu Telu.

Harapannya, stigma yang bertahun-tahun hidup di benak banyak orang akan hilang.

SEKOLAH ADAT: Anak-anak muda Bayan diskusi dan belajar bahasa Inggris bersama mahasiswa asing, di Sekolah Adat Bayan.
SEKOLAH ADAT: Anak-anak muda Bayan diskusi dan belajar bahasa Inggris bersama mahasiswa asing, di Sekolah Adat Bayan. (Dok. Renadi)

Renadi juga mengajak anak muda Bayan memperdalam pengetahuan tentang identitas Wetu Telu.

Hal ini sangat penting. Sebab banyak generasi muda Bayan tidak mampu menjelaskan Wetu Telu ketika ditanya orang lain.

”Karena transfer ilmu pengetahuan para tokoh (adat) ke generasi muda terputus,” katanya.

Sementara untuk menjawab stigma itu, mereka harus memahami Wetu Telu secara mendalam.

Renadi kemudian menggagas Sekolah Adat Bayan.

Melalui sekolah itu, dia berharap anak-anak muda tertarik mempelajari lebih dalam tentang akar budaya mereka sendiri.

”Tujuannya supaya ada transfer pengetahuan dari tokoh adat ke generasi muda,” harap alumnus STKIP Hamzanwadi Selong ini.

Sekolah Adat Bayan terbuka bagi siapa saja yang berminat belajar tentang adat Wetu Telu.

Kegiatan belajarnya berupa diskusi, belajar tembang, termasuk mempelajari seluk beluk dan hukum adat Bayan.

Di samping itu, sekolah adat ini juga mengajarkan para pemuda bahasa Inggris dan pariwisata.

”Materi bahasa asing dan pariwisata cukup lama kami perdebatkan,” katanya.

Pelajaran bahasa asing dan pariwisata dimasukkan agar peserta didik bisa menjelaskan tentang adat Bayan ke orang asing.

Sisi pariwisata dimasukkan agar mereka paham bagaimana mempertahankan budaya, tapi juga mendatangkan keuntungan secara finansial.

”Kelas ini justru paling banyak peminatnya,” kata Renadi, tersenyum.

Untuk pelajaran bahasa asing, kadang ada mahasiswa luar negeri yang sedang studi tentang Bayan diajak mengajar.

Sementara di kelas belajar tembang dan diskusi, dia mendatangkan para tokoh adat.

Sayangnya kelas belajar tembang paling sedikit peminatnya.

Jumlah pemuda yang ikut belajar di Sekolah Adat Bayan ini baru 37 orang.

Sebagai Kepala Sekolah Adat Bayan, Renadi tidak mau memaksa semua pemuda ikut belajar.

”Kami tidak memaksa orang yang tidak mau ikut, berapa saja tidak masalah,” katanya.

Pertemuan di Sekolah Adat Bayan dilakukan secara berkala dalam kelas-kelas diskusi.

”Karena sekarang lagi pandemi, jadi belum pernah buka lagi,” tuturnya. 

Menurutnya, Sekolah Adat Bayan masih butuh banyak pembenahan.

Dia membutuhkan lebih banyak tenaga pengajar dan buku-buku bacaan terkait.

Saat ini, pembelajaran masih bersifat diskusi-diskusi.

Transfer pengetahuan hanya melalui diskusi biasa.

”Karena itu kami sedang menyusun kurikulumnya,” katanya.

Menulis Buku hingga Menjadi YouTuber

Baca juga: Isu Terorisme Tidak Pengaruhi Pariwisata NTB, TNI-Polri Jamin Keamanan Wisatawan

Di samping membuka Sekolah Adat, Renadi juga memperkenalkan adat dan budaya Bayan melalui internet.

”Banyak di antara kami (pemuda Bayan) menjadi YouTuber, kontennya berisi tentang adat budaya,” katanya. 

SESEPUH BAYAN: Dua sesepuh masyarakat adat WetuTelu duduk di rumah adat, di Desa Bayan, Kabupaten Lombok Utara. Foto ini diambil 17 Januari 2016.
SESEPUH BAYAN: Dua sesepuh masyarakat adat WetuTelu duduk di rumah adat, di Desa Bayan, Kabupaten Lombok Utara. Foto ini diambil 17 Januari 2016. (TribunLombok.com/Sirtupillaili)

Mereka ingin memperkenalkan masyarakat Wetu Telu dalam kehidupan sehari-hari.

Renadi dan beberapa temannya pun rajin merekam setiap acara-acara adat.

Mereka rela menghabiskan banyak waktu untuk membuat konten di YouTube.

Selain itu, mereka juga pernah menulis buku tentang masyarakat adat Bayan tahun 2016.

Buku berjudul “Dari Bayan untuk Indonesia Inklusif” merupakan upaya masyarakat Bayan menjelaskan tentang makna Wetu Telu sebenarnya.

Buku tersebut diterbitkan setelah mendapat pendampingan dari Somasi NTB.

Melalui buku itu mereka menjelaskan lebih detail tentang jati diri orang Bayan.

Sekaligus upaya mereka membantah hasil-hasil riset yang menyudutkan mereka.

Dalam buku ini Renadi menulis artikel berjudul “Kosmologi WetuTelu”. Dia berusaha menjelaskan makna Wetu Telu.

Wetu Telu, kata Renadai, bukan waktu tiga atau tiga kali waktu salat.

Istilah Wetu Telu terdiri dari kata ‘Wetu’ yang berarti keluar atau muncul.

Kemudian ‘Telu’ berarti tiga.

Masyarakat Wetu Telu menyakini alam semesta terwujud melalui tiga proses utama, yaitu menganak (melahirkan), menteloq (bertelur), dan tioq (tumbuh).

Berdasarkan konsep ini masyarakat Wetu Telu meyakini bahwa semua mahluk hidup tercipta melalui tiga proses tersebut.  

Selain Renadi, dalam buku itu juga ada Raden Sawinggih, tokoh muda Bayan yang menulis artikel berjudul “Jati Diri Orang Bayan”. 

“Menyamakan Wetu Telu dengan waktu tiga seraya membenturkannya dengan waktu lima adalah kekeliruan besar...” tulis Raden Sawinggih, dalam buku tersebut.

Kopi Perempuan Bayan

Lain Renadi lain pula Mahniwati.

Putri Kabupaten Lombok Utara (KLU) 2014 ini memilih menggeluti sektor ekonomi kreatif.

KOPI BAYAN: Mahniwati menunjukkan Kopi Nina Bayan miliknya, di Desa Karang Bajo, Kecamatan Bayan, Lombok Utara, Minggu (18/4/2021).
KOPI BAYAN: Mahniwati menunjukkan Kopi Nina Bayan miliknya, di Desa Karang Bajo, Kecamatan Bayan, Lombok Utara, Minggu (18/4/2021). (TribunLombok.com/Sirtupillaili)

Kini dia lebih dikenal sebagai pendiri Kopi Nina Bayan (KON Bayan).

Melalui seduhan kopinya, Mahniwati punya misi memperkenalkan jati diri masyarakat adat Bayan kepada masyarakat luas.

Nama ‘Kopi Nina Bayan’sendiri diambil dari kata ‘Nina’ berarti perempuan dan Bayan berarti kopi berasal dari daerah Bayan.

Kopi Nina Bayan merepresentasikan budaya dan dirinya sebagai wanita Wetu Telu dari Bayan. 

Perempuan yang akrab disapa Mahni ini merintis usaha kopinya sejak 2017.

Tahun 2018, ketika usaha kopinya mulai tumbuh, dia semakin sadar perempuan Bayan berperan besar proses pembuatan kopi.

Mulai dari proses penanaman, pengeringan, hingga disuguhkan ke dalam secangkir kopi.

Melalui kopinya dia terus memperkenalkan masyarakat Bayan kepada dunia luar. Sampai hari ini, usaha kopi tersebut masih dia tekuni.

Dengan cara-cara seperti itu, lambat laun pandangan orang luar tentang masyarakat Wetu Telu di Bayan berubah.

Orang semakin banyak tahu sisi-sisi positif masyarakat Bayan yang mempertahankan adat istiadat dan budaya.

”Berpengaruh sih (cara ini) untuk mengurangi stigma,” kata Mahni.

Melalui kopi itu dia banyak bercerita tentang masyarakat adat Bayan. 

Tidak hanya kopi, melalui pakaian tenun khas Lombok Utara dia menceritakan jati diri masyarakat adat Bayan.

”Dari tenun saja kita bisa bercerita filosofinya. Misalnya warna hitam melambangkan masyarakat adat, terus warna warni melambangkan perempuan,” katanya.

Ada juga anak muda Bayan yang membuat miniatur masjid kuno Bayan dari bambu.

”Dari sana mereka bisa menceritakan tentang masyarakat adat Wetu Telu di Bayan,” katanya.

Di samping itu, anak muda pun ikut belajar tentang budayanya sendiri. ”Bukan hanya untuk orang luar saja,” katanya.

Saat ini, pemuda Bayan lebih terbuka dan berani tampil menunjukkan dirinya sebagai bagian dari masyarakat adat Wetu Telu.

Di kampus-kampus tempat mereka kuliah, telah dibentuk perkumpulan. Bahkan banyak yang aktif terlibat dalam pentas seni budaya. 

Kondisi itu berbeda dengan pengalamannya ketika menjadi mahasiswa di Universitas Mataram tahun 2010.

Saat ini menurutnya sudah lebih baik.

Masyarakat sudah lebih menerima mereka dan stigma mulai berkurang.

Meski demikian dia tidak menafikan stigma itu masih hidup di sebagian kecil orang.

Mahni menyadari stigma juga dialami banyak masyarakat adat di Indonesia. Seperti Sunda Wiwitan, Kaharingan, dan lainnya.

Mereka mendapat diskriminasi karena keyakinannya.

”Kalau kami di sini muslim dan kami pelaksana adat,” katanya.

Ritual adat masyarakat Wetu Telu justru sangat kental dengan ajaran-ajaran Islam.

Pintu Masuk Islam

Kentalnya nuansa Islam dalam setiap ritual adat tidak lepas dari sejarah masuknya Islam di Pulau Lombok.

Bayan merupakan salah satu gerbang masuknya Islam ke Lombok. Masjid Kuno Bayan Beleq menjadi saksi bisunya.

PERMUKIMAN: Permukiman masyarakat komunitas WetuTelu, di Desa Karang Bajo, Kecamatan Bayan, Lombok Utara, Minggu (18//4/2021)
PERMUKIMAN: Permukiman masyarakat komunitas WetuTelu, di Desa Karang Bajo, Kecamatan Bayan, Lombok Utara, Minggu (18//4/2021) (TribunLombok.com/Sirtupillaili)

Masjid yang didirikan abad ke-17 ini diperkirakan menjadi masjid pertama di Pulau Lombok.

Kepala Bagian Humas dan Protokol Setda Kabupaten Lombok Utara Mujaddid Muhas berharap, tidak perlu ada lagi diskriminasi dan stigma yang mendiskreditkan kelompok tertentu, termasuk warga Wetu Telu

”Arah kebijakan pemda yakni pengayoman semua golongan,” katanya.

Pada prinsipnya, Pemda Lombok Utara menghargai keberagaman asal usul, adat istiadat yang berkembang menjadi tradisi dan tumbuh di tengah masyarakat.

”Selain dilindungi undang-undang, komunitas Wetu Telu di Lombok Utara telah berlangsung lama, dengan historisitas turun temurun,” katanya.

Akses pelayanan publik terhadap mereka dilakukan setara dengan masyarakat lainnya.

”Pemda mengatensi keberadaan Komunitas Wetu Telu, justru menambah khazanah keberagaman autentik kebudayaan,” tandasnya.

(*)

Catatan : Tulisan ini merupakan bagian dari program Workshop dan Story Grant Pers Mainstream yang digelar Serikat Jurnalis untuk Keberagaman (SEJUK) bekerjasama dengan Norwegian Embassy untuk Indonesia.

Penulis: Sirtupillaili
Editor: Facundo Chrysnha Pradipha
Sumber: Tribun Lombok
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved