Breaking News:

Anak Muda Bayan Menjaga Warisan Wetu Telu di Lombok Utara

Anak muda Bayan, pewaris masyarakat adat ‘Wetu Telu’ berjuang melawan stigma dengan cara kreatif mengikis pandangan skepti

TribunLombok.com/Sirtupillaili
Mahniwati menunjukkan Kopi Nina Bayan miliknya, di Desa Karang Bajo, Kecamatan Bayan, Lombok Utara, Minggu (18/4/2021). 

Sebagai perempuan Bayan, Mahniwati sedih dengan pandangan sebagian orang yang berkembang tentang kampung halamannya.

Mereka dicap Islam sesat oleh sebagian kalangan.

Masyarakat Wetu Telu dianggap hanya menjalankan salat tiga kali sehari.

Bahkan Wetu Telu pernah dimasukkan Majelis Ulama Indonesia (MUI) dalam daftar aliran sesat.

Pandangan tersebut menimbulkan stigma cukup berat bagi anak muda seperti Mahniwati.

Meski demikian, dia berusha menjelaskan dengan kepala dingin setiap orang bertanya. Bahwa stigma yang berkembang tidak benar.

”Saya jelaskan. Tapi tidak bisa saya jelaskan secara detail sih. Kalau mau tahu lebih detail langsung ke masyarakat adatnya,” tutur perempuan yang akrab disapa Mahni ini. 

Meski stigma itu mulai berkurang, tapi belum sepenuhnya hilang dari benak sebagian orang.

Hal sama dirasakan Renadi (39), pemuda Bayan yang juga dari Desa Karang Bajo.

Berkembangnya pandangan yang keliru terhadap komunitas WetuTelu di Bayan terus menyudutkan mereka.

Halaman
1234
Penulis: Sirtupillaili
Editor: Facundo Chrysnha Pradipha
Sumber: Tribun Lombok
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved