Breaking News:

Anak Muda Bayan Menjaga Warisan Wetu Telu di Lombok Utara

Anak muda Bayan, pewaris masyarakat adat ‘Wetu Telu’ berjuang melawan stigma dengan cara kreatif mengikis pandangan skepti

TribunLombok.com/Sirtupillaili
Mahniwati menunjukkan Kopi Nina Bayan miliknya, di Desa Karang Bajo, Kecamatan Bayan, Lombok Utara, Minggu (18/4/2021). 

Ritual-ritual adat yang dipertahankan masyarakat Wetu Telu dianggap menyimpang dari ajaran Islam.

Situasi itu membuat masyarakat adat tidak nyaman. Terutama generasi muda.

Mereka yang merantau untuk kuliah malu menunjukkan identitas sebagai masyarakat adat Wetu Telu Bayan.

”Bila kuliah di luar daerah, mereka hanya memperkenalkan diri dari Lombok atau Mataram saja,” katanya.

Menurut Renadi, stigma inilah yang paling berat mereka rasakan.

Dari sisi akses pelayanan publik, mereka sudah mendapat pelayanan lebih baik dibandingkan sebelum-sebelumnya. ”Sudah tidak ada masalah soal itu,” katanya.

Solidaritas Masyarakat untuk Transparansi (Somasi) NTB tahun 2016 memetakan tiga problem utama dihadapi masyarakat adat Wetu Telu.

Pertama, aspek penerimaan sosial. Masih ada kelompok masyarakat yang memandang secara negatif eksistensi mereka.

Kedua, aspek pelayanan sosial. Tahun 2016, Somasi NTB menemukan masyarakat Desa Karang Bajo dan Desa Bayan banyak belum memiliki akta pernikahan.

Sehingga berpengaruh untuk pengurusan administrasi kependudukan seperti KTP dan kesulitan mengakses bantuan modal usaha di bank.

Halaman
1234
Penulis: Sirtupillaili
Editor: Facundo Chrysnha Pradipha
Sumber: Tribun Lombok
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved