Anak Muda Bayan Menjaga Warisan Wetu Telu di Lombok Utara
Anak muda Bayan, pewaris masyarakat adat ‘Wetu Telu’ berjuang melawan stigma dengan cara kreatif mengikis pandangan skepti
Penulis: Sirtupillaili | Editor: Facundo Chrysnha Pradipha
Anak-anak muda Bayan, pewaris masyarakat adat ‘Wetu Telu’ berjuang melawan stigma. Dengan cara-cara kreatif mereka mengikis pandangan skeptis terhadap komunitas Wetu Telu di Lombok Utara
Laporan Wartawan TribunLombok.com, Sirtupillaili
TRIBUNLOMBOK.COM, LOMBOK UTARA – Mahniwati (30), terseyum kecut saat ditanya pengalamannya mendapat stigma negatif sebagai komunitas Wetu Telu.
Pikirannya menerawang ke tahun 2010 silam. Kala itu dia baru masuk kuliah di Universitas Mataram.
Perempuan Dusun Dasan Baro, Desa Karang Bajo, Kecamatan Bayan, Lombok Utara, Nusa Tenggara Barat (NTB) ini syok ketika ditanya asal usul oleh satpam kampus.
Mahniwati yang baru masuk kota dengan polos memperkenalkan diri dari Bayan, Lombok Utara.
Tapi reaksi sang satpam membuatnya kaget.
”Oh...(orang Wetu Telu) yang tiga waktu salatnya itu?” tutur Mahni, menirukan perkataan satpam tersebut.
Baca juga: Laskar Sasak Motori Acara Adat ‘Nyentulak’, Doa Bersama Tolak Bala dan NTB Bebas Covid-19
Dia sangat kaget mengetahui pandangan orang tentang kampung halamannya.
Tidak hanya satpam, teman dan orang-orang di lingkungan kualiahnya pun berpikir sama.
Baca juga: Dirjen KSDAE: Konservasi SDA Gunung Rinjani Harus Libatkan Masyarakat Adat
Sebagai perempuan Bayan, Mahniwati sedih dengan pandangan sebagian orang yang berkembang tentang kampung halamannya.
Mereka dicap Islam sesat oleh sebagian kalangan.
Masyarakat Wetu Telu dianggap hanya menjalankan salat tiga kali sehari.
Bahkan Wetu Telu pernah dimasukkan Majelis Ulama Indonesia (MUI) dalam daftar aliran sesat.
Pandangan tersebut menimbulkan stigma cukup berat bagi anak muda seperti Mahniwati.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/lombok/foto/bank/originals/kopi-nina-bayan-milik-mahniwati.jpg)