Senin, 18 Mei 2026
NTB Makmur Mendunia
NTB Makmur Mendunia

Kuliner Bima

Mengenal Buras Hijau Khas Bima, Si Gurih Pengganti Lontong yang Menggoda Selera

Buras hijau khas Melayu Bima memiliki ukuran besar, rasa gurih berlemak, dan warna alami dari daun pandan.

Tayang:
Editor: Laelatunniam
TribunLombok.com
KULINER BIMA - Buras khas Bima. Buras hijau khas Melayu Bima memiliki ukuran besar, rasa gurih berlemak, dan warna alami dari daun pandan. Proses pembuatannya panjang, meliputi pencampuran santan, pencetakan presisi, dan perebusan selama 2,5-4 jam. 

Ringkasan Berita:
  • Buras hijau khas Melayu Bima memiliki ukuran besar, rasa gurih berlemak, dan warna alami dari daun pandan.
  • Proses pembuatannya panjang, meliputi pencampuran santan, pencetakan presisi, dan perebusan selama 2,5–4 jam.

TRIBUNLOMBOK.COM - Selama ini, nama Buras selalu identik dengan kuliner khas Makassar.

Namun, jika Anda berkunjung ke Kelurahan Melayu di Kota Bima, Anda akan menemukan varian Buras yang memiliki karakter dan keunikan tersendiri.

Berbeda dengan versi Makassar yang mungil, Buras ala warga Melayu Bima tampil dengan ukuran yang lebih besar dan cita rasa yang lebih berlemak.

Keunikan Buras Bima ini terletak pada tampilannya yang berwarna hijau segar dan aromanya yang wangi.

Warna tersebut didapatkan secara alami dari perasan daun pandan, bukan pewarna buatan.

Proses pembuatannya menuntut kesabaran.

Tahap awal dimulai dengan merendam beras selama 30 menit sebelum dicuci bersih.

Kunci kelezatannya ada pada penggunaan santan yang sangat kental. Untuk menghasilkan rasa yang nendang, setiap satu kilogram beras setidaknya membutuhkan santan dari dua butir kelapa utuh.

Beras kemudian dimasak bersama santan, air pandan, dan garam hingga menjadi adonan setengah matang yang kental.

Keunikan lain terletak pada cara pembentukannya. Adonan yang sudah mengental dicetak secara manual menggunakan bantuan pipa atau lembaran plastik kaku agar bentuknya konsisten dan padat.

Kepadatan ini sangat krusial, jika terlalu lembek, Buras akan hancur saat proses perebusan.

Pemilihan pembungkus pun menjadi aturan yang tidak tertulis. Masyarakat setempat sangat menghindari penggunaan daun pisang selain jenis pisang kepok.

Pasalnya, daun pisang jenis lain dipercaya dapat meninggalkan noda kemerahan pada permukaan Buras, sehingga warna hijau cantiknya tidak akan terlihat maksimal.

Sajian ini bukanlah makanan instan. Setelah dibungkus dan diikat kuat dengan tali, Buras harus direbus kembali dalam waktu yang cukup lama. Jika menggunakan kompor gas, dibutuhkan waktu sekitar 2,5 jam.

Namun, jika menggunakan metode tradisional, proses pemasakan bisa mencapai 4 jam demi memastikan tingkat kematangan yang sempurna hingga ke bagian dalam.

Bagi warga Melayu Bima, Buras adalah hidangan istimewa yang wajib hadir di meja makan saat hari raya Idul Fitri maupun Idul Adha. Rasanya belum lengkap jika menyantap Buras tanpa pendamping yang tepat.

Biasanya, kudapan ini disandingkan dengan gulai daging.

Sumber: Tribun Lombok
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved