Opini
Lebaran Topat dan Ingatan: Menjaga Makna di Tengah Perubahan
Lebaran Topat bukan hanya warisan masa lalu, tetapi juga pedoman nilai untuk menghadapi kehidupan masa kini.
Oleh: Ahsanul Khalik - Kadis Kominfotik NTB
Di halaman terbuka, di pesisir, dan di ruang-ruang komunal masyarakat Lombok, Lebaran Topat selalu hadir sebagai perayaan yang riuh sekaligus hangat. Ketupat beterbangan dalam tradisi Perang Topat, tawa pecah di antara warga, dan do'a-do'a mengalir dalam suasana kebersamaan yang sulit ditemukan di hari-hari biasa.
Namun di balik riuh itu, tersimpan satu hal yang sering luput disadari: Lebaran Topat bukan sekedar tradisi yang diwariskan, tetapi juga ingatan kolektif tentang bagaimana masyarakat Sasak memahami ibadah, kebersamaan, dan kehidupan itu sendiri.
Lebaran Topat memiliki akar yang panjang dalam sejarah masyarakat Sasak. Ia berangkat dari tradisi agraris masa lampau, yang merupakan ritual syukur atas hasil panen yang menempatkan kebersamaan dan penghormatan terhadap alam sebagai nilai utama.
Ketika Islam datang dan berkembang di Lombok pada abad ke-16 hingga ke-17, tradisi ini tidak ditinggalkan. Para ulama justru merangkulnya, memberi makna baru yang selaras dengan nilai-nilai keislaman.
Dari proses inilah lahir Lebaran Topat sebagaimana dikenal hari ini. Ia terhubung dengan rangkaian ibadah Ramadhan, Idul Fitri, dan puasa sunah Syawal. Penetapan hari ke-7 Syawal bukan sekedar kebiasaan, tetapi mencerminkan penyempurnaan spiritual setelah menjalani puasa wajib dan sunah.
Dalam kerangka ini, Lebaran Topat bukan sekadar perayaan, melainkan penutup perjalanan ibadah yang utuh.
Ketupat bukan sekedar makanan. Ia adalah simbol yang menyimpan makna yang dalam. Anyaman janur yang membungkusnya mencerminkan kompleksitas kehidupan yang penuh simpul, penuh proses, dan membutuhkan kesabaran. Tidak ada anyaman yang terbentuk tanpa ketekunan, sebagaimana kehidupan tidak pernah berjalan tanpa ujian.
Bentuknya yang segi empat melambangkan keseimbangan: hubungan manusia dengan Allah, dengan sesama, dan dengan alam. Ini adalah prinsip hidup masyarakat Sasak yang menempatkan harmoni sebagai fondasi.
Sementara itu, beras di dalamnya melambangkan harapan akan kehidupan yang bersih dan berkah. Ketika ketupat matang, ia menjadi satu kesatuan yang utuh, sebagaimana manusia yang telah melalui proses penyucian diri.
Dalam makna religius, ketupat menjadi simbol tertutupnya dosa setelah Ramadhan dan puasa Syawal. Ia bukan hanya makanan yang dibagikan, tetapi simbol hati yang kembali bersih.
Lebaran Topat tidak dapat dipisahkan dari praktik puasa sunah Syawal. Setelah menjalani Ramadhan, umat Islam dianjurkan melanjutkan dengan puasa enam hari sebagai penyempurna.
Masyarakat Sasak kemudian memaknai hari ke-7 Syawal sebagai momentum syukur dan penyucian yang lengkap. Di sinilah ibadah tidak berhenti pada hubungan dengan Allah, tetapi menjelma dalam hubungan sosial.
Ketupat dibagikan, silaturahmi diperkuat, dan hubungan yang renggang dipulihkan. Tradisi ini menghidupkan nilai tasyakkur dan ta’awun dalam praktik nyata.
Lebaran Topat biasanya diikuti dengan tradisi Perang Topat, yang menjadi ekspresi paling khas. Sekilas, ia tampak seperti permainan saling lempar. Namun di balik itu, tersimpan makna yang lebih dalam.
| Ketika Angka Ketimpangan Gender Turun, Mengapa Perempuan NTB Masih Tertinggal? |
|
|---|
| Menolak Kereta Gantung Rinjani, Menjaga Harga Sebuah Keaslian |
|
|---|
| Insentif Kendaraan Listrik : Dari Kebijakan Nasional ke Praktik Daerah |
|
|---|
| Daycare dan Luka yang Tak Terlihat: Adakah yang Gagal pada Pedagogi Kita? |
|
|---|
| NTB Kunci Teluk Saleh: Wisata Tumbuh, Ekologi Tetap Lestari |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/lombok/foto/bank/originals/Khalik-AK-26.jpg)