Beras Bukan Lagi Penyumbang Utama Inflasi
Dalam dua tahun terakhir, tata niaga dan pasokan beras nasional sudah jauh lebih sehat.
Ringkasan Berita:
- Dalam dua tahun terakhir, tata niaga dan pasokan beras nasional sudah jauh lebih sehat.
- Dari 11 komoditas pangan utama yang dikendalikan pemerintah, delapan di antaranya kini sudah berstatus swasembada penuh.
TRIBUNLOMBOK.COM — Kementerian Pertanian (Kementan) memastikan ketersediaan pangan nasional berada dalam kondisi aman sekaligus menjadi pilar menjaga inflasi nasional tetap terkendali.
Stabilnya pasokan beras dan komoditas pangan strategis lainnya terbukti menekan inflasi, di mana beras yang sebelumnya kerap menjadi pemicu utama kini relatif terjaga stabil.
Berdasarkan data terbaru dari Badan Pusat Statistik (BPS), angka inflasi tahunan (year on year) pada Mei 2026 tercatat sebesar 3,08 persen, dengan inflasi bulanan (month to month) berada di angka 0,28 persen.
Kepala BPS, Amalia Adininggar Widyasanti, menjelaskan bahwa momentum Iduladha tahun ini mencatatkan pergerakan harga yang jauh lebih tenang jika dibandingkan dengan periode Idulfitri.
“Untuk Mei 2026 inflasi month to month sebesar 0,28 persen. Kalau dibandingkan dengan momen Idulfitri, inflasi pada momen Iduladha relatif lebih rendah. Untuk komoditas pangan, andilnya terhadap inflasi Mei juga tidak terlalu tinggi,” ujar Amalia (15/6/2026).
Baca juga: NTB Alami Deflasi Tipis 0,08 Persen pada Mei 2026 Dibanding April, Inflasi Tahunan 3,78 Persen
Beberapa komoditas yang masih memberikan andil terhadap inflasi Mei antara lain cabai merah, minyak goreng, bawang merah, tomat, dan bensin.
Menteri Dalam Negeri Muhammad Tito Karnavian menegaskan bahwa dalam dua tahun terakhir, tata niaga dan pasokan beras nasional sudah jauh lebih sehat.
"Beras relatif terjaga dan selama dua tahun terakhir tidak lagi menjadi penyumbang utama inflasi. Daging ayam ras, daging sapi, gula pasir, dan telur ayam ras juga berada dalam kondisi baik," urai Tito.
Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menyatakan bahwa ketahanan pangan nasional semakin kokoh.
Dari 11 komoditas pangan utama yang dikendalikan pemerintah, delapan di antaranya kini sudah berstatus swasembada penuh.
Sementara itu, sisa tiga komoditas lainnya yakni bawang putih, kedelai, dan daging sapi masih harus dipenuhi sebagian melalui jalur impor.
Menteri Amran merujuk pada standar organisasi pangan dunia (FAO) untuk memperkuat klaim keberhasilan ini.
“Berdasarkan konsensus FAO, impor di bawah 10 persen sudah termasuk swasembada. Kebutuhan kita sekitar 68 juta ton, produksi mencapai 73 juta ton. Impor hanya sekitar 3,5 juta ton atau sekitar 4 persen. Jadi saat ini kita sudah swasembada pangan,” tegas Mentan.
Langkah Stabilisasi Harga dan Distribusi
Guna menjaga tren positif inflasi ini, Mentan Amran menyiapkan dua instrumen intervensi strategis untuk mengatasi anomali distribusi di lapangan:
1. Aktivasi Pasar Murah Bersama Bulog dan ID Food
Kementan menginstruksikan seluruh Gubernur, Bupati, dan Walikota untuk bekerja sama dengan Bulog dan ID Food dalam menggelar pasar murah, khususnya untuk komoditas beras, ayam, dan telur. Langkah ini diambil karena saat ini peternak ayam ras dan telur sedang menghadapi tekanan akibat penurunan harga di tingkat produsen, sehingga pemerintah perlu hadir sebagai offtaker (penyerap hasil panen) untuk menjaga keseimbangan harga pasar.
| Harga Cabai Tembus Rp100 Ribu per Kilogram di Lombok Timur |
|
|---|
| Kasus Mafia Pangan 2024-2025 Didominasi Komoditi Beras, Proyeksi Kerugian Rp99,35 Triliun Per Tahun |
|
|---|
| 2.231 Izin Distributor Pupuk Dicabut |
|
|---|
| Warga Praya Timur Serbu Gerakan Pangan Murah Jelang Hari Idul Adha 1447 |
|
|---|
| Kementan Perketat Pengawasan Kesehatan Hewan Jelang Idul Adha |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/lombok/foto/bank/originals/beras_pasar_lombok_timurjpg.jpg)