Pesan Ramadan
Ramadan dan Momentum Revitalisasi Peran Masjid
Mendorong revitalisasi peran sosial masjid sama dengan membawa masjid dalam pusaran persoalan sosial untuk dijadikan sebagai wadah konsolidasi.
Oleh: Prof. Dr. Kadri, M.Si
Guru Besar Ilmu Komunikasi UIN Mataram
Masjid adalah salah satu tempat yang ramai ketika bulan Ramadan menyapa setiap tahunnya, terutama saat pelaksanaan sholat Taraweh. Walaupun ramenya di awal Ramadan, tetapi masjid tetap menjadi epicentrum aktivitas ibadah yang, seperti takjil saat berbuka, tadarus, i’tiqaf, pembayaran zakat fitrah dan zakat mal, pengajian, lomba-lomba kegiatan religius untuk anak, santunan anak yatim dan fakir miskin, serta pelbagai aktivitas khas Ramadan lainnya.
Volume aktivitas yang tinggi di masjid saat Ramadan membuat pengelola atau pengurus takmir masjid menjadi lebih sibuk dan bekerja ekstra dibanding hari-hari biasanya. Fakta tersebut menunjukkan bahwa masjid kala Ramadan menjadi penghimpun umat untuk melaksanakan perintah agama secara berjamaah.
Fungsi masjid seperti ini menempatkan rumah ibadah umat Islam ini sebagai tempat strategis yang tidak hanya sebagai pusat ibadah ritual tetapi juga berpotensi menjadi ruang konsolidasi agenda-agenda sosial yang berdimensi duniawi. Moment Ramadan bisa dijadikan sebagai spirit awal menuju revitalisasi peran masjid dalam aspek ritual dan sosial.
Revitalisasi peran masjid dalam konteks tulisan ini lebih ke aspek sosial karena persoalan ritual di masjid telah perform dengan standar ritual yang digariskan oleh ajaran Islam.
Mendorong revitalisasi peran sosial masjid sama dengan membawa masjid dalam pusaran persoalan sosial untuk dijadikan sebagai wadah konsolidasi dan ruang pemberi solusi. Terkadang kita masih menemukan fenomena sosial yang kontras dari eksistensi mulia masjid.
Baca juga: Mengasah Kecerdasan Komunikasi Antarbudaya Selama Puasa Ramadan
Masjid sebagai tempat para ustad menceramahkan ayat-ayat tentang kebersihan sebagaian dari iman, justru di sekitarnya di kelilingi oleh sampah. Atau masjid sebagai tempat mengajarkan ayat-ayat tentang pelestarian lingkungan justru di sampingnya ada gunung yang gundul karena ulah tangan-tangan manusia yang hanya mengejar keuntungan materi dengan jumlah tak seberapa di bandingkan dengan efek banjir yang akan menimpa warga sekitar.
Dalam konteks inilah revitalisasi fungsi sosial masjid itu penting untuk mengembalikan citra masjid sebagai rumah ibadah yang cinta kebersihan dan penjaga lingkungan.
Pilihan untuk revitalisasi peran sosial masjid seperti di atas sama dengan mengembalikan fungsi masjid seperti zaman Rasulullah yang memiliki fungsi multidimensi, tidak hanya sebagai pusat ibadah, tetapi juga pusat pemerintahan, sosial, dan aktivitas ekonomi.
Semangat historis tersebut harus direvitalisasi terutama saat banyak persoalan sosial yang berlangsung di seputar masjid seperti saat ini. Dalam aspek ekonomi dan keuangan misalnya, masjid harus didorong sebagai pusat pengembangan ekonomi mikro di level komunitas.
Momentum Ramadan bisa dijadikan sebagai awal untuk memulai hal tersebut, apalagi saat Ramadan, amalan kebaikan meningkat di semua sektor, bersamaan dengan tingginya volume aktivitas masyarakat di masjid di bulan suci tersebut. Oleh karena itu, Ramadan adalah momentum yang tepat untuk mentransformasi peran masjid agar lebih produktif dan berdampak jangka Panjang.
Dalam aspek ekologi, keberadaan masjid harus dimanfaatkan sebagai pusat literasi, konsolidasi, dan aksi pelestarian lingkungan. Masjid sebagai pusat literasi ekologi mesti menginisiasi adanya literatur (buku, konsep ceramah dan materi khutbah) ramah lingkungan, kajian-kajian khusus (tematik) tentang kebersihan dan pelestarian alam.
Anak-anak yang belajar ngaji di masjid tidak hanya didorong untuk lancar membaca al-Qur’an tetapi juga sadar dan mencintai lingkungan. Kita tidak ingin anak-anak kita pintar ngaji tapi pulang ngaji membuang sampah di sembarang tempat. Jadi literasi al Qur’an dan agamanya harus sejalan dengan tingkat literasi ekologisnya.
Di samping sebagai pusat literasi ekologi, masjid juga dapat didorong sebagai pusat konsolidasi dan aksi ekologi. Masjid tidak hanya menyiapkan mimbar bagi khotib dan penceramah untuk menyampaikan ayat-ayat tentang menjaga lingkungan tetapi juga harus menggelar karpet tebal bagi jama’ahnya untuk menyiapkan, mengkonsolidasikan, dan menyusun langka kongkrit penyelamatan lingkungan.
Jemaah masjid mesti mengambil bagian dalam agenda penyelamatan dan pelestarian hutan serta lingkungan di sekitar mereka. Mereka harus punya rasa memiliki (sense of belonging) terhadap lingkungan yang bersih, asri, dan indah. Jika hal ini mereka miliki maka jama’ah masjid lah yang akan menjadi perisai atas gerakan perusakan hutan dan lingkungan yang ada di wilayahnya.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/lombok/foto/bank/originals/Kadri-Prof.jpg)