Pesan Ramadan
Merajut Harmoni Ramadan dalam Komunikasi Berbasis Cinta
Komunikasi antarmanusia berbasis cinta juga lebih intens dipraktekkan kala kita berpuasa karena semua kita tidak ingin merusak puasa
Prof. Dr. Kadri, M.Si
Guru Besar Ilmu Komunikasi UIN Mataram
Sebagai ilmu yang “omni present” (bisa hadir di mana-mana), ilmu komunikasi sangat fleksibel untuk dipadukan kajiannya dengan disiplin ilmu lain. Perpaduan itulah yang melahirkan satu kajian yang hybrid dalam rumpun ilmu komunikasi, seperti komunikasi politik yang merupakan perpaduan kajian ilmu komunikasi dan ilmu politik, atau perpaduan ilmu komunikasi dan ilmu ekonomi yang menghasilkan bidang kajian komunikasi bisnis, serta beberapa fokus kajian hybrid lainnya.
Posisi kajian komunikasi yang fleksibel seperti itulah yang memungkin komunikasi bisa ditempel dengan beragam istilah. Salah satunya adalah “komunikasi berbasis cinta” yang secara bebas dimaknai sebagai aktivitas komunikasi manusia yang menjadikan cinta sebagai dasar atau spirit-nya.
Bulan Ramadan adalah bulan mulia yang memungkinkan setiap warga Muslim mempraktekkan komunikasi berbasis cinta karena nilai-nilai cinta yang ada di dalamnya sejalan dengan spirit cinta yang selalu ada dalam hati, pikiran, dan aksi syaimin dan syaimat.
Cinta kepada siapa yang menjadi landasan komunikasi berbasis cinta? Pertanyaan ini yang harus dijawab terlebih dahulu untuk melanjutkan penjelasan tentang komunikasi berbasis cinta dan kaitannya dengan ibadah puasa.
Setidaknya ada tiga sasaran cinta yang harus ada dalam komunikasi berbasis cinta, yakni cinta kepada Allah, cinta pada sesama manusia, dan cinta pada lingkungan. Oleh karena itu, implementasi komunikasi berbasis cinta dapat diotemukan dalam komunikasi transendental (komunikasi manusia dengan Tuhannya), komunikasi antarmanusia, dan komunikasi lingkungan.
Berdasarkan tiga jenis cinta tersebut maka komunikasi berbasis cinta harus melibatkan tiga nilai sekaligus, yakni nilai ilahiah (ketuhanan), nilai humanis (kemanusiaan), dan nilai ekologis (lingkungan).
Baca juga: Konsep Waktu Dalam Komunikasi di Bulan Ramadan
Perpaduan tiga nilai tersebut di atas berkonsekuensi pada level implementasi komunikasi berbasis cinta. Penerapan komunikasi berbasis cinta dalam tiga ranah komunikasi (komunikasi transendental, komunikasi antarmanusia, dan komunikasi lingkungan) tidak boleh berlangsung dikotomis. Artinya, saat komunikasi antaranusia berlangsung, kita tidak hanya butuh cinta antarmanusia, tetapi juga penting menjadikan cinta kepada Allah dan cinta pada lingkungan sebagai spirit.
Kekhusuan berkomunikasi dengan Tuhan (komunikasi transendental) juga harus berkonsekuensi bagi peningkatan kecintaan kita pada nilai-nilai kemanusiaan dan lingkungan. Perilaku (komunikasi) kita terhadap lingkungan harus disemangati oleh keyakinan bahwa hal tersebut adalah perintah Tuhan dan niat untuk menyelamatkan kehidupan manusia sebagai penghuni bumi.
Implementasi perpaduan tiga wujud komunikasi berbasis cinta sebagaimana yang dijelaskan di atas memiliki frekuensi yang relatif tinggi selama bulan Ramadan. Keseriusan beribadah (sebagai wadah komunikasi transendental) selama Ramadan tidak terbantahkan lagi karena setiap orang mengejar bonus berlipatganda pahala yang tersedia di dalamnya.
Komunikasi antarmanusia berbasis cinta juga lebih intens dipraktekkan kala kita berpuasa karena semua kita tidak ingin merusak puasa dengan membenci atau konflik dengan orang lain. Dengan demikian, mempraktekkan komunikasi berbasis cinta sangat berkontribusi bagi peningkatan kualitas ibadah puasa kita.
Komunikasi antarmanusia berbasis cinta butuh saling pengertian dan bangunan keseimbangan untuk memastikan proses komunikasi berjalan efektif. Dua atau lebih orang yang terlibat dalam komunikasi interpersonal sejatinya mempunyai kesamaan pemahaman dan minat tentang apa yang dikomunikasikan, kesamaan orientasi dan arah komunikasi, kesamaan pilihan waktu dan tempat komunikasi, serta kesamaan dan keseimbangan lainnya. Bila ada dua insan berbeda jenis kelamin menjalin hubungan cinta (seperti suami istri) maka mereka butuh kesamaan-kesamaan tersebut untuk memastikan hubungan mereka berlangsung penuh cinta kasih.
Secara teoritik, strategi komunikasi efektif seperti ini telah dijelaskan oleh teori ABX Newcomb yang mensimbolisasikan teorinya dengan segi tiga sama kaki bersudut A, B, dan X. Komunikasi berbasis cinta mensyaratkan adanya keseimbangan suasana hati yang akan memandu keselarasan aksi setiap insan yang terlibat di dalamnya.
Memang di tengah keragaman karakter dan selera setiap individu, membangun kesamaan dan keseimbangan bukan perkara mudah. Namun karena adanya keinginan yang kuat untuk mewujudkan komunikasi yang efektif sekaligus membangun harmoni (cinta), maka perbedaan-perbedaan yang ada dapat dieliminasi bersamaan dengan ikhtiar memperbesar irisan kesamaan.
Ibadah puasa di bulan Ramadan adalah momentum yang tepat membangun irisan kesamaan antarpersonal karena syaimin dan syaimat memiliki kesamaan niat, keseragaman cara berpuasa, dan suasana hati yang sama religius untuk menjaga kesempurnaan ibadah masing-masing.
Kesamaan inilah yang membuat komunikasi berbasis cinta relatif intens dan mudah dipraktekkan oleh umat Islam selama bulan Ramadan. Dan akan lebih baik lagi bila praktik komunikasi berbasis cinta ini mampu terus dipertahankan pasca bulan Ramadan agar setiap ruang di bumi dipenuhi aktivitas komunikasi berbasis cinta. Semoga…
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/lombok/foto/bank/originals/Kadri-Prof.jpg)