Senin, 4 Mei 2026
NTB Makmur Mendunia
NTB Makmur Mendunia

Opini

Tantangan Kebebasan Pers di Era Algoritme Digital

Setiap tahun, Hari Pers Nasional (HPN) menjadi momentum penting untuk merefleksikan kembali peran pers dalam kehidupan demokrasi.

Tayang:
Editor: Laelatunniam
Istimewa
OPINI - Abdul Rasyid Zaenal, Sekretaris Jenderal DPP Pro Jurnalismedia Siber (PJS). 

Oleh: Abdul Rasyid Zaenal, Sekretaris Jenderal DPP Pro Jurnalismedia Siber (PJS)

TRIBUNLOMBOK.COM - Setiap tahun, Hari Pers Nasional (HPN) menjadi momentum penting untuk merefleksikan kembali peran pers dalam kehidupan demokrasi.

Pada 2026 ini, refleksi tersebut terasa semakin relevan ketika dunia jurnalistik berhadapan dengan realitas baru, dominasi algoritme digital dalam menentukan arus informasi.

Kebebasan pers yang dahulu lebih banyak diuji oleh kekuasaan politik dan ekonomi, kini juga diuji oleh kekuasaan teknologi.

Di era digital, informasi bergerak sangat cepat. Media sosial, mesin pencari, dan berbagai platform digital menjadi gerbang utama masyarakat dalam mengakses berita.

Namun gerbang tersebut tidak netral. Algoritme bekerja berdasarkan logika popularitas, interaksi, dan kepentingan komersial. Akibatnya, kualitas informasi sering kali kalah oleh sensasi, kecepatan, dan viralitas.

Inilah tantangan besar kebebasan pers hari ini. Secara formal, kebebasan berekspresi memang lebih terbuka. Siapa pun bisa menulis, mempublikasikan, bahkan membangun media sendiri. Tetapi kebebasan itu tidak otomatis berarti ruang publik yang sehat.

Ketika distribusi informasi sepenuhnya ditentukan oleh algoritme, karya jurnalistik yang mendalam, kritis, dan berimbang justru kerap tenggelam oleh konten yang provokatif atau emosional.

Pers arus utama kini berada dalam posisi sulit. Di satu sisi, mereka dituntut mempertahankan standar etik dan profesionalisme.

Di sisi lain, mereka dipaksa mengikuti logika platform digital agar tetap relevan dan terbaca.

Tekanan untuk mengejar klik, tayangan, dan engagement sering kali berbenturan dengan tugas utama pers sebagai penyedia informasi yang akurat dan mendidik.

Lebih jauh lagi, algoritme digital turut menciptakan ruang gema (echo chamber).

Masyarakat cenderung hanya menerima informasi yang sejalan dengan pandangan mereka.

Polarisasi sosial semakin tajam, sementara fakta objektif semakin sulit menemukan tempatnya.

Dalam situasi seperti ini, kebebasan pers tidak lagi hanya soal bebas dari sensor negara, tetapi juga bebas dari kendali tak terlihat algoritme.

Sumber: Tribun Lombok
Halaman 1/2
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved