Selasa, 28 April 2026
NTB Makmur Mendunia
NTB Makmur Mendunia

Wisata Bima

Mengenal Uma Lengge, Rumah Adat Bima Nusa Tenggara Barat

Uma Lengge bukan hanya sekadar bangunan tradisional, melainkan simbol identitas dan filosofi hidup masyarakat adat suku Mbojo, khususnya yang bermukim

Editor: Laelatunniam
ISTIMEWA
CAGAR BUDAYA - Uma Lengge, struktur rumah adat Bima ini memiliki desain unik berbentuk mengerucut dengan atap rumbia, berdiri kokoh di atas fondasi batu tanpa menggunakan paku semuanya disatukan dengan pasak kayu. 

TRIBUNLOMBOK.COM, BIMA - Setelah puas menjelajahi panorama alam Bima di Nusa Tenggara Barat, jangan lewatkan kesempatan untuk mengunjungi salah satu destinasi budaya yang sarat makna, Cagar Budaya Uma Lengge.

Terletak di Desa Sambori, Kecamatan Lambitu, Uma Lengge menjadi salah satu warisan budaya Bima yang masih lestari hingga kini.

Uma Lengge bukan hanya sekadar bangunan tradisional, melainkan simbol identitas dan filosofi hidup masyarakat adat suku Mbojo, khususnya yang bermukim di wilayah Wawo.

Struktur rumah adat ini memiliki desain unik berbentuk mengerucut dengan atap rumbia, berdiri kokoh di atas fondasi batu tanpa menggunakan paku semuanya disatukan dengan pasak kayu.

Material bangunannya berasal dari alam seperti kayu dan bambu, menjadikannya ramah lingkungan sekaligus tahan terhadap gempa dan angin kencang.

Dalam bahasa lokal, “uma” berarti rumah dan “lengge” berarti tinggi atau menjulang.

Nama tersebut menggambarkan bentuk arsitektural dan nilai simbolik dari bangunan ini, yang dulunya berfungsi sebagai rumah tinggal dan juga tempat penyimpanan hasil panen.

Ketika berkunjung ke kawasan ini, wisatawan akan diajak merasakan langsung atmosfer budaya lokal.

Salah satu tradisi menarik adalah mengenakan rimpu, pakaian adat perempuan Bima, sebagai bentuk penghormatan terhadap adat istiadat setempat.

Ini menjadi pengalaman wisata budaya yang autentik, mempererat interaksi antara pengunjung dan masyarakat lokal.

Tak jauh dari Uma Lengge, terdapat bangunan bernama Jompa, yaitu lumbung tradisional yang dibangun secara terpisah dari rumah utama.

Jompa digunakan untuk menyimpan hasil pertanian seperti padi dan jagung.

Dalam tradisi Bima, hanya kaum perempuan yang diperbolehkan mengambil hasil panen dari dalam Jompa, sebagai simbol kepercayaan terhadap peran penting ibu dalam menjaga kesejahteraan keluarga.

Kini, meskipun Uma Lengge tidak lagi difungsikan sebagai tempat tinggal, keberadaannya tetap penting sebagai warisan budaya masyarakat Wawo.

Di beberapa desa seperti Desa Maria, masyarakat bahkan membangun ratusan Jompa sebagai lumbung kolektif, lengkap dengan nomor identitas keluarga masing-masing.

Sumber: Tribun Lombok
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved