Pilkada NTB
OPINI: Melawan Keraguan, Iqbal-Dinda Mengubah Dinamika Politik NTB
Sebagai pendatang baru dalam politik praktis dengan tawaran gagasan membangun daerah kelahirannya kerap, Lalu Iqbal dianggap tidak memiliki relevansi
Penulis: Amir Mahmud
TRIBUNLOMBOK.COM – “Jangan berjalan di depanku, karena mungkin aku tidak mengikuti. Jangan berjalan di belakangku, karena mungkin aku tidak memimpin. Tapi berjalanlah disamping dan jadilah temanku.” Albert Camus.
Ungkapan di atas adalah penggalan kalimat dari seorang filsuf, penulis juga seorang jurnalis Prancis. Kata-katanya memberi inspirasi bagi Sebagian orang untuk menilai dunia ini dengan sangat absurd. Tapi itulah hidup dalam perspektif Camus. Bagi kita belum tentu.
Betapapun Ikbal dipersepsi negatif oleh lawan politik, beliau terus memberikan respon positif. Tentu sikap dan mental itu tidak mudah dilakukan. Sikap positif selalu dia tanamkan pada dirinya untuk ditiru pendukung dan relawannya.
Menjadi Iqbal dalam kaca mata politik lokal saat ini sungguh berat. Sebagai pendatang baru dalam politik praktis dengan tawaran gagasan membangun daerah kelahirannya kerap dianggap tidak memiliki relevansi, apalagi bermutu.
Kampanye-kampanye yang diusung dan disebarkan baik dirinya juga elemen pendukung direspon lain bahkan negatif. Semua respon itu dimaknai positif sebagai sebuah dinamika demokrasi.
Iqbal yang memilih Indah Dhamayanti Putri sebagai pasangan calon gubernur, kemudian diakronimkan menjadi pasangan Iqbal-Dinda.
Pasangan Iqbal-Dinda menunjukkan kematangan sikap mental dalam proses demokrasi yang semakin kompetitif. Bagi Paslon lain mungkin menilai pasangan Iqbal-Dinda dalam perhelatan pilkada NTB dinilai tidak memberikan pengaruh apapun.
Dalam beberapa realitas sosial di lapangan pergerakan dan perjuangan Paslon 03 (Iqbal-Dinda) seringkali harus "mengalah" demi menjaga proses dan dinamika politik terus terjaga kondusif, aman dan damai. Juga pada realitas dunia maya Ikbal-dinda tidak luput dari hujatan, ejekan dan perlakuan buruk lainnya.
Pada hemat penulis, paslon gubernur 03 (Ikbal-dinda) menunjukkan kesadaran politik terbuka dan inklusif. Sebagai pendatang baru dalam politik lokal, kematangan paslon 03 menyikapi realitas politik "brutal" tidak menjadikannya rendah diri dan merespon keadaan tersebut dengan negatif. Justru terus meyakinkan masyarakat untuk memahami politik dan dirinya sebagai pembanding pilihan baru dari beberapa Paslon lain yang ikut berpartisipasi.
Kesiapan Paslon
Semenjak Muhammad Iqbal menyatakan diri maju sebagai salah satu calon gubernur, Dubes RI untuk negara Turki itu telah menyiapkan semua hal yang berkaitan dengan kebutuhan dan konsekuensi dari pilihan hidup yang dia ambil.
Bagi saya (penulis) melihat sepak terjang dan langkah politik Lalu Muhammad Iqbal menunjukkan kematangan politiknya walaupun dianggap pendatang baru dalam kontestasi politik lokal. Kapasitas personalnya mampu memberikan pembeda dan warna baru dalam perhelatan pilkada NTB.
Meminjam ungkapan Najwa Sihab: Hidup yang tidak dipertaruhkan tidak akan dimenangkan. Sebagaimana juga Seneca dalam puluhan abad yang lalu katakan : jalan penuh kesulitan akan membawa kita menjadi hebat. Kira-kira semangat Paslon gubernur 03 tergambar seperti penyataan Seneca itu.
Pada kenyataannya kapasitas politik Paslon gubernur 03 sampai saat ini terus memberi bukti sedikit demi sedikit. Diragukan orang tidak dapat partai, dibuktikan partai presiden menjadi pengusung utama. Diragukan lawan politik tidak laku, dibuktikan hasil survei paling tinggi. Diragukan lawan politik tidak miliki kapasitas memimpin NTB, dibuktikan pernah jadi Dubes. Semua keraguan dia jawab dengan pembuktian.
Paslon gubernur 03 Iqbal-dinda, menyikapi semua perbedaan baik sikap, mental, persepsi, konsep, bahkan pilihan dukungan sebagai "asupan gizi" pengetahuan juga kesadaran politik bagi penguatan dan pendewasaan demokrasi lokal.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/lombok/foto/bank/originals/iqbal-amir-mahmud.jpg)