NTB Makmur Mendunia
NTB Makmur Mendunia

Opini

Interlude Pilkada dan Prediksi Ilmiah

Opini ditulis oleh Mujaddid Muhas, memberi paradigma, menakar kemenanagan dalam kontestasi Pilkada melalui hasil survei lmiah

Editor: Idham Khalid
Dok.Istimewa
Penulis Buku Nalar Pemilu dan Demokrasi (2011), M.A 

Oleh: Mujaddid Muhas, M.A.

Suatu sore menjelang petang, obrolan santai dengan seorang kawan karib, sajian kopi hangat dan sepiring pisang goreng berkeju di sebuah kedai kopi.

Kedai kopi itu tampak rimbun, menyokong suasana obrolan lepas landai. Tema-tema random, dimulai dari risau dengan hasil-hasil prediksi survei yang bertentangan dan saling klaim kemenangan dan ada yang memelas dengan kekalahan. Kendati masih bersifat prediktif, bahkan bisa saja "manipulatif".

Saya katakan padanya, kegiatan ilmiah survei sudah berusia cukup tua, abad ke-18 akhir (1860). Sensus lebih tua lagi, berkisar pada abad ke-10, persisnya tahun 1086, sensus kepada penduduk telah dilakukan siklusnya di Inggris. Teman saya bilang,"Mengapa sekarang makin banyak yang tak terbukti nyata? Antara prediksi dengan hasilnya.

Saya respons kembali. Apabila ada, prediksi lembaga survei yang tidak sesuai dengan hasil Pemilu atau Pilkada, secara etik mesti ada pertanggungjawaban publiknya. Konsekuensi dari pernyataan "truth claim" ilmiah yang dipublikasi. Tiap prediksi, pasti ada realitanya. Pemilih yang menentukan kelak: pilihan pada tanggal penentuan di Tempat Pemungutan Suara (TPS).

Politik itu akomodatif dan impresif. Bagi politisi, momentum itu bukan sekali, tetapi berkali-kali. Dirinya bisa kalah kali ini, tetapi pada momentum lainnya menang. Entah menang telak ataukah menang tipis. Politik memiliki jalur dan lajurnya yang berdimensi. Berubah-ubah, dinamis dari proses, berkelindan meliuk-liuk serta terkadang rumit diprediksi.

Kendati demikian, paradigma ilmiah bisa membaca kecenderungan-kecenderungan melalui pola dan preferensi yang menunjang dan relevan untuk itu.

Kita napak tilas sejenak, berbagai keunikan perhelatan Pemilu kemarin. Sebagaimana diketahui dari literasi media, Pilkada tahun 2018-2020, selain para kandidat yang bertanding, terdapat 25 daerah, kandidatnya melawan kotak kosong alias calon tunggal: 4 diantaranya kota dan 21 kabupaten.

Ini mencerminkan pada dua keping yang saling menegasi. Keping Pasangan calon (Paslon) yang diminati Partai Politik (Parpol) sehingga terpusar pada hanya Paslon tunggal yang telah dianggap mumpuni untuk memimpin daerah. Keping lainnya, terjadi "krisis" Paslon sehingga tak ada Paslon yang bisa diusulkan Parpol atau gabungan Parpol.

Tahun 2020, Pilkada seolah membiak mengalami "kedinastian". Pertandingan dilakoni yang sekalangan "internal inti". Bapak versus anak bertanding untuk meraih pucuk pimpinan daerah pada Pilkada Kabupaten Malaka. Diungguli sang anak dengan "menumbangkan" sang ayah yang merupakan inkamben. Lainnya yang seritme, sang ayah menjadi gubernur, menang Pilkada Provinsi Kepri, dan anaknya menjadi Wakil Bupati Bintan.

Lain pula, pasangan suami istri yang bertanding pada Pilkada berbeda daerah. Masing-masing memenangkan pertandingan. Sang suami sebagai Walikota Batam (inkamben), dan istrinya didapuk menang sebagai Wakil Gubernur Kepulauan Riau.

Terdapat pula, calon independen yang menang Pilkada Tanjung Jabung Timur yang merupakan inkamben, dengan memilih jalur independen.

Keunikan yang telah terjadi, kini sebagai peristiwa lazim Pilkada. Sirkulasi yang berputar sekitar radius dinasti elit politik. Bahwa keterpilihannya mesti dihormati sebagai pilihan dari kebanyakan pemilih yang memilihnya: formal konstitusional. Kendati dari sisi sirkulasi, seolah tak ada orang lain, atau barangkali aspirasi Parpol yang "terkunci" hanya punya pilihan disekitar orang-orang itu saja ataukah suatu interlude Pilkada.

Melanjutkan obrolan bersama kawan, kopi di cangkir telah mulai surut, lelampu kedai sudah mulai dinyalakan. Survei-survei itu berpengaruhkah? Dengan singkat saya respons: berpengaruh. Terutama dianjurkan sebagai panduan pemetaan dan pengetahuan bagi Paslon. Sejauh mana gambaran dan takaran suara pada saat survei dilakukan.

Entah peluang terpilih karena popularitas dan tingkat ketersukaan. Bagi yang inkamben, mungkin lantaran pemilih telah merasakan baik kebijakan sebelumnya, sehingga diingini kembali memimpin daerah. Sedangkan bagi yang bukan inkamben, berjuang menggulirkan gagasan dan tawaran segar untuk dipilih sebagai pemimpin yang layak menggantikan inkamben.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved