Berita Komunitas
Indra Jaya Usman Ungkap Bernasnya Visi Gus Dur Tentang Kebudayaan
Ketua DPD Demokrat NTB Indra Jaya Usman menghadiri acara "Malam Gusdurian" yang diinisiasi oleh Gusdurian Mataram.
Penulis: Lalu Helmi | Editor: Robbyan Abel Ramdhon
Laporan Wartawan TribunLombok.com, Lalu Helmi
TRIBUNLOMBOK.COM, MATARAM - Ketua DPD Demokrat NTB Indra Jaya Usman menghadiri acara "Malam Gusdurian" yang diinisiasi oleh Gusdurian Mataram, Kamis (16/2/2023).
Acara itu mengangkat tajuk Abu Macel Bertutur dan bertempat di Ruang Teater Terbuka Taman Budaya Mataram Nusa Tenggara Barat (NTB).
Hadir pula dalam kesempatan ini Ketua PWNU NTB Prof Masnun Tahir dan sejumlah tokoh NTB. Mereka secara bergiliran menyamaikan beragam pandangan tentang Gus Dur.
Para tokoh di antaranya Lalu Bayu, Tauhid Rifa'i, Lalu Daud Nurjadi, Umar Ahmad Seth, Fadil Adli, dan ratusan kelompok muda dari Gusdurian.
Baca juga: Profil Franz Magnis Suseno, Filsuf Jerman yang Perdalalam Teologi di Indonesia, Teman Baik Gus Dur
Indra Jaya Usman yang juga merupakan sarjana filsafat selaku pembicara dalam kegiatan tersebut mengakui visi bernas Gus Dur tentang kebudayaan.
Gus Dur, kata IJU melihat budaya dalam dua sisi. Budaya sebagai pandangan hidup (weltanschauung), sistem nilai yang menjadi tradisi, paradigma dan cita rasa.
Dijelaskan IJU, dalam konteks ini sepertinya Gus Dur berusaha menempatkan agar tradisi itu menjadi konteks dari agama. Bahwa agama yang selama ini menjadi aturan itu kemudian diletakkan konteksnya dalam budaya.
Selain sebagai kiai, intelektual Islam, dan negarawan, Gus Dur ialah pemikir kebudayaan.
Baca juga: TGB Ziarah Makam Pendiri NU di Hari Raya Idul Adha 2022, dari Gus Dur hingga Gus Solah
Pemikirannya terentang sejak dalam konteks budaya secara antropologis sehingga melahirkan gagasan tentang budaya Islam Indonesia. Hingga dalam konteks filosofis yang melahirkan gagasan serta perjuangan kemanusiaan.
Dalam konteks itulah, tradisi perlu dirawat sebagai penjaga sistem nilai yang hidup di masyarakat tersebut.
Definisi antropologis dari budaya itu yang membuahkan gagasan pribumisasi Islam.
Gagasan khas Gus Dur itu merupakan upayanya untuk menjaga tradisi Nusantara agar tidak tergerus oleh kehadiran Islam yang membawa budaya sendiri.
Baca juga: 13 Kata-kata Bijak Rocky Gerung, Filsuf Akal Sehat yang Melankolik dengan Kesunyian
Islam yang bersifat universal harus dibumikan ke budaya nusantara agar proses konversi agama tidak menimbulkan konflik dan ‘gegar’ budaya.
Melalui pribumisasi Islam, hubungan antara agama dan budaya lokal dijembatani justru melalui kebudayaan. Hal itu dilakukan melalui dua pendekatan.
Pertama, penempatan budaya sebagai konteks bagi penerapan ajaran agama. Proses itu didasarkan pada pemahaman Gus Dur bahwa hubungan antara agama dan budaya seperti hubungan antara filsafat dan ilmu (sains).
Demikian pula agama dan budaya. Bagi Gus Dur, Islam ialah agama hukum (religion of law). Hal itu yang menjadi tantangan sebab Islam sebagai ‘jaringan aturan’ harus diletakkan dalam konteks budaya yang merupakan ‘proses perubahan’. Antara aturan dan perubahan harus dipertemukan, justru melalui keduanya.
Bagaimana caranya? Inilah yang mengantarkan kita pada substansi gagasan pribumisasi Islam.
"Itu pesan yang saya lihat juga dari salah satu pesan dalam peringatan satu abad NU yakni penolakan terhadap sistem khilafah," bebernya
Kedua, kata IJU Gus Dur sepertinya mengatakan pentingnya perluasan sumber perumusan hukum Islam.
Tidak hanya pada sumber keagamaan, yakni Al-Qur’an, hadis, ijma, dan qiyas, tetapi juga sumber-sumber kemanusiaan. Nilai-nilai kemanusiaan dijadikan sebagai sumber perumusan hukum.
Tentu, nilai-nilai itu tidak bertentangan dengan teks suci meskipun tidak tertulis dalam kitab suci.
Sementara itu, Ketua PWNU NTB, Masnun Tahir dalam sambutanya menyampaikan bahwa di abad ke dua Nahdlatul Ulama ini dibutuhkan kehadiran NU di setiap lini kehidupan.
"NU di abad kedua harus hadir di setiap sudut kehidupan masyarakat," katanya.
Nahdlatul Ulama, lanjutnya, diperlukan kehadirannya baik di dunia maupun akhirat karena NU tidak hanya mengurus yang masih hidup tapi juga yang sudah meninggal.
"Apa pun kondisi dan posisi NU harus hadir," ungkapnya.
Lebih jauh Rektor Universitas Islam Negeri (UIN) Mataram ini menyebutkan bahwa Gus Dur masih menginspirasi sampai sekarang.
"Meski beliau sudah meninggal tapi Gus Dur masih mengisiparasi semua orang dan manfaatnya dirasakan oleh masyarakat umum," katanya.
Sebelumnya Koordinator Gusdurian Mataram Fairuz Abadi atau yang akrab di sapa Abu Macel ini menyampaikan bahwa Kegiatan Gusdurian ini bagian dari perayaan momen 1 Abad NU.
Malam Gusdurian akan diadakan sekali sebulan tiap malam bulan purnama.
"Insyaallah kami sudah melaporkan kepada Alisa Wahid, bahwa Gusdurian di Mataram Lombok NTB akan mengadakan malam Gus Durian tiap bulan," katanya.
Gusdurian lanjutnya hadir untuk meneruskan pemikiran Gus Dur yang selalu menjaga harmonisasi kepada siapa saja.
"Oleh karena itu Gusdurian ini dari kita, oleh kita, dan untuk kita," kata pria yang pernah mengemban amanah sebagai Ketua PCNU Kota Mataram ini.
Bergabung dengan Grup Telegram TribunLombok.com untuk update informasi terkini: https://t.me/tribunlombok.
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.