Wisata Lombok
Mengenal Maulid Adat Bayan di Lombok Utara, Menutu Bisok Menik hingga Praje Mulud
Masyarakat Adat Bayan di Kabupaten Lombok Utara memiliki tradisi unik untuk merayakan Maulid Nabi Muhammad SAW. Maulid Adat ini kental nuansa budaya.
Penulis: Lalu Helmi | Editor: Sirtupillaili
Puluhan hingga ratusan laki-laki (pepadu) terlibat dalam acara presean yang digelar di areal Masjid Kuno Bayan Beleq itu.
Ratusan hingga ribuan orang hadir menyaksikan tradisi tersebut.
Bahkan, tak jarang, tradisi adu ketangkasan tersebut digelar hingga pukul 03.00 dinihari.
Proses maulid adat berlanjut ke hari kedua.
Ritual adat di hari kedua dimulai dengan acara Bisok Menik.
Kegiatan Bisok Menik atau mencuci beras bukan sekadar membersihkan beras sebelum dimasak, namun memiliki makna sejarah.
Bisok Menik merupakan tradisi yang terawat panjang di masyarakat adat Bayan, Kecamatan Bayan, Kabupaten Lombok Utara.
Lokasi Bisok Menik ini tidak pernah diubah sejak zaman dahulu hingga sekarang yaitu di Lokok Bajo.
Menarik menyaksikan kekompakan para ibu rumah tangga menggunakan pakaian tradisional.
Mereka berjajar rapi. Membawa beras di atas kepalanya yang ditaruh di sebuah baki dari anyaman bambu.
Kemudian berjalan beriringan di jalan raya menuju Lokoq Bajo.
Sebagai syarat yang boleh mencuci beras ini adalah perempuan yang suci.
Tak boleh ada perempuan haid ikut dalam Bisok Menik.
Sepanjang jalan mereka tak diperkenankan saling berbicara.
Ketika sampai di mata air Lokoq Bajo, beras pun mulai dicuci bersih.
Setelah beras dicuci, kemudian di masak menjadi nasi.
Kemudian menata hidangan pada sebuah tempat yang dibuat dari rautan bambu yang disebut ancak.
Prosesi bisok beras diawali dengan penyembelihan hewan ternak yang dikumpulkan komunitas adat setempat. san ekor ayam dipotong didalam kampu.
Semua hewan ternak yang dipotong adalah sumbangan dari komunitas adat setempat, yang jika dihitung secara matematika, harganya sampai ratusan juta rupiah.
Terlihat kekompakan masyarakat adat yang tidak pernah berhitung ketika melakukan ritual adat pemotongan hewan.
Setelah semuanya siap, bahan mentah tersebut kemudian dimasak di Pedangan atau apur adat masyarakat setempat yang letaknya di areal kampu.
Sembari ada yang memasak, masyarakat lain juga menyiapkan ancak yang terbuat dari bambu.
Ancak ini merupakan sebutan dari masyarakat setempat kepada wadah yang nantinya dijadikan tempat meletakkan makanan untuk dibawa ke Masjid Kuno Bayan Beleq.
Praje Mulud

Momen inilah yang menjadi puncak perayaan Maulid Adat Bayan atau biasa disebut dengan istilah Praje Mulud.
Dalam Praje Mulud ini, beberapa pemuda didandani menyerupai sepasang pengantin yang diiring dari rumah “Pembekel Beleq Bat Orong (pemangku adat dari Bayan Barat) menuju Masjid Kuno dengan membawa sajian berupa hidangan seperti nasi dan lauq pauqnya di atas ancak saji.
Praje Mulud ini menggambarkan proses terjadinya perkawinan langit dan bumi, Adam dan Hawa yang disimbolkan dengan pasangan pengantin yang dilakukan oleh pranata-pranata adat Bayan.
Sementara pengalun membawa payung Agung.
Payung Agung ini hanya boleh dibawa oleh Amaq Lokaq Penguban yang dijemput oleh masyarakat Adat Bayan Barat, (Bat Orong).
Payung Agung tersebut di gunakan untuk memayungi pasangan pengantin pada saat Praje Mulud dari Bayan Barat ke Masjid kuno.
Para pengiring penganten juga membawa ancak terbuat dari bambu yang digunakan untuk mengagek.
Ancak berbentuk persegi dan di buat oleh kaum pria.
Ancak ini merupakan tempat menaruh hidangan pada saat acara makan bersama di Masjid Kino oleh para pemuka Agama Adat, sedangkan untuk masyarakat adat makan bersama didalam kampu.
Setelah rombongan Praje Mulud masuk ke dalam Masjid Kuno Bayan dan dengan rapi, yang kemudian salah satu pemuka agama memimpin do’a dilanjutkan dengan makan bersama.
Kegiatan ini merupakan wujud rasa syukur warga Adat Sasak Bayan kepada para ulama sekaligus menjadi perayaan kelahiran Nabi Muhammad SAW yang dirayakan secara adat.
Setelah acara puncak selesai, proses dilanjutkan dengan “Majang” yaitu prosesi menghiasi Berugaq Agung menggunakan kain dan dilakukan oleh kaum perempuan berdasarkan garis keturunan.
Di tiang sebelah tenggara oleh Melokaq Gantungan rombong, tiang tengah timur oleh Penyunat, tiang timur laut oleh Pande, tiang barat laut oleh keturunan Kyai Lebe.
Sementara untuk bisok (mencuci) berugaq Agung adalah tugas dari dua orang laki-laki dari masyarakat adat.
Hal ini dilakukan agar berugaq agung yang di gunakan sebagai tempat majang dan memblonyo dalam keadaan bersih dan suci.
“Membelonyo” sendiri merupakan kegiatan pemberian tanda kepada masyarakat adat oleh wanita dari keturunan yang ikut dalam proses Majang tersebut.
Blonyo adalah minyak yang terbuat dari kelapa Mareng yang dibuat masyarakat Bat Orong, dimana kelapa tersebut dibawa dari masyarakat Adat Karang Bajo.
Kekompakan dan kekeluargaan amat terasa dalam setiap momen sakral tersebut.
Satu hal yang tetap dipegang teguh komunitas adat Bayan dalam melaksanakan berbagai ritual adat, yaitu ringan sama dijinjing dan berat sama dipikul.
Maulid Adat Bayan dan ritual adat lainya sebagai perekat bagi komunitas setempat.
(*)