Wisata Lombok

Mengenal Maulid Adat Bayan di Lombok Utara, Menutu Bisok Menik hingga Praje Mulud

Masyarakat Adat Bayan di Kabupaten Lombok Utara memiliki tradisi unik untuk merayakan Maulid Nabi Muhammad SAW. Maulid Adat ini kental nuansa budaya.

Penulis: Lalu Helmi | Editor: Sirtupillaili
TRIBUNLOMBOK.COM/LALU HELMI
Ritual Menutu Mulud atau menumbuk padi di acara Maulid Adat Karang Bajo, Kecamatan Bayan, Lombok Utara, Senin, (10/10/2022). 

Laporan Wartawan TribunLombok.com, Lalu Helmi

TRIBUNLOMBOK.COM, MATARAM - Setiap daerah di Indonesia memiliki cara tersendiri merayakan hari kelahiran Nabi Muhammad SAW atau Maulid Nabi.

Sebagaimana perayaan Maulid Nabi yang dilakukan masyarakat adat Karang Bajo, Kecamatan Bayan, Kabupaten Lombok Utara.

Perayaan Maulid Nabi di Karang Bajo lekat dengan nuansa adat dan tradisi.

Mereka menyebut tradisi ini dengan nama Maulid Adat atau dalam bahasa setempat Mulud Adat.

Maulid Adat di Karang Bayan tidak dilaksanakan pada 12 Rabiul Awal penanggalan Hijriah. Tapi dirayakan tiap 14-15 Rabiul Awal Hijriah.

Namun sejatinya, mereka menganut sistem penanggalan yang berbeda.

Baca juga: Bertepatan dengan Maulid Nabi, Warga Songak Lombok Timur Gelar Event Budaya Bejango Bliq ke-11

Mereka mengacu kepada kalender adat yang disebut Warige Sreat Adat Bayan.

Pada hari pertama, seluruh kegiatan dirangkum dengan nama prosesi adat kayuq aiq.

Prosesi awal dimulai dengan ritual nyembeq atau menyembeq.

Menyembeq dilakukan oleh Inan Menik.

Inan Menik merupakan simbol jabatan adat yang diberikan kepada perempuan sepuh dari garis keturunan masyarakat adat Karang Bajo.

Ritual menyembeq dilakukan di areal pekarangan rumah Inan Menik di Karang Dalem.

Inan Menik menempati rumah yang dalam bahasa setempat disebut Kampu.

Baca juga: Mengenal Bale Beleq, Rumah Adat di Desa Karang Bayan, Sudah Ada sejak Tahun 1500

Ritual Menutu Mulud atau menumbuk padi di acara Maulid Adat Karang Bajo, Kecamatan Bayan, Lombok Utara, Senin, (10/10/2022).
Ritual Menutu Mulud atau menumbuk padi di acara Maulid Adat Karang Bajo, Kecamatan Bayan, Lombok Utara, Senin, (10/10/2022). (TRIBUNLOMBOK.COM/LALU HELMI)

Sebelum masuk ke areal Karang Dalem dan menuju kampu, seluruh masyarakat diwajibkan menggunakan pakaian adat Karang Bajo.

Tidak boleh menggunakan kain lain selain kain adat.

Untuk laki-laki, hanya menggunakan kain tenun sebagai sarung, bebet sebagai ikat pinggang dan sapuq sebagai pengikat kepala.

Sementara bagi perempuan, hanya menggunakan kain hingga menutupi dada.

Siapa pun yang masuk tidak boleh menggunakan kain apapun selain kain adat, termasuk pakaian dalam.

Ketika masuk areal Karang Dalem, masyarakat akan menyerahkan pemberian kepada Inan Menik seperti hewan ternak, hasil bumi, maupun uang.

Pemberian tersebut diniatkan dengan nazar yang diinginkan pemberi.

Pemberian tersebut nantinya akan dijadikan bahan memasak untuk ritual adat begawe pada saat momen puncak yakni Praje Mulud.

Masyarakat selanjutnya akan menunggu giliran untuk disembeq oleh Inan Menik yang telah menunggu di pesanggrahan kampu.

Masyarakat akan disembeq dengan campuran tiga buah yakni gambir, kapur sirih, dan pinang atau dalam bahasa setempat lekoq.

Ritual menyembeq memiliki dua makna filosofis.

Pertama, sebagai bentuk penghormatan dan ngalap berkah dari Inan Menik atas kelahiran Nabi Muhammad SAW.

Kedua, khusus bagi pendatang atau tamu di luar masyarakat adat, ritual menyembeq sekaligus menjadi pertanda bahwa mereka telah diterima menjadi bagian dari masyarakat adat.

Tamu tersebut selanjutnya diperbolehkan melihat atau mengunjungi sejumlah ritual maupun tempat adat di Karang Bajo, Bayan, KLU.

Setelah prosesi menyembeq dilakukan, ritual selanjutkan yakni menutu pare bulu.

Menutu pare bulu merupakan ritual adat menumbuk padi.

Menutu ini biasanya dipimpin langsung oleh Inan Menik atau seseorang yang diberikan mandat oleh Inan Menik.

Padi yang ditumbuk pertama kali saat ritual menutu pun tidak sembarangan.

Padi yang ditumbuk perdana adalah padi lokal yang ditanam di Desa Senaru.

Sejumlah perempuan dari desa adat kemudian akan melakukan ritual menutu di wadah yang disebut rantok beleq.

Ritual tersebut akan diiringi dengan tabuhan Gendang Gerantung.

Ditabuhnya gendang gerantung merupakan salah satu petanda mulud adat telah dimulai.

Setelah ritual menutu selesai dilakukan, selanjutkan sisa-sisa tumbukan padi atau dedaq beserta bambu menutu ke sungai yang berjarak 500 meter dari kampung.

Kemudian pada malam hari di perayaan maulid adat hari pertama, akan dilakukan dua prosesi adat yang bertempat di Masjid Kuno Bayan Beleq.

Ritual pertama adalah pemasangan tunggul atau umbul-umbul di empat penjuru masjid.

Setiap tunggul memiliki makna filosifis tersendiri.

Keempat tunggul tersebut dipasang masing-masing pranata adat atau anak keturunan dari empat generasi (pembekelan) yang terhimpun.

Adapun keempat pembekelan tersebut adalah Amaq Lokak Pande di arah tenggara, Amaq Lokaq Penguban di Barat Daya, Amaq Lokaq Walin Gumi di Barat Laut, Amaq Lokaq Karang Bajo di Timur Laut.

Setiap pembekelan bertanggung jawab memasang setiap tunggul sebagai simbol persatuan.

Pemasangan tunggul ini juga diiringi tabuhan gendang gerantung.

Setelah pemasangan tunggul selesai, maka akan dilakukan tradisi presean atau oleh masyarakat setempat disebut temetian.

Puluhan hingga ratusan laki-laki (pepadu) terlibat dalam acara presean yang digelar di areal Masjid Kuno Bayan Beleq itu.

Ratusan hingga ribuan orang hadir menyaksikan tradisi tersebut.

Bahkan, tak jarang, tradisi adu ketangkasan tersebut digelar hingga pukul 03.00 dinihari.

Proses maulid adat berlanjut ke hari kedua.

Ritual adat di hari kedua dimulai dengan acara Bisok Menik.

Kegiatan Bisok Menik atau mencuci beras bukan sekadar membersihkan beras sebelum dimasak, namun memiliki makna sejarah.

Bisok Menik merupakan tradisi yang terawat panjang di masyarakat adat Bayan, Kecamatan Bayan, Kabupaten Lombok Utara.

Lokasi Bisok Menik ini tidak pernah diubah sejak zaman dahulu hingga sekarang yaitu di Lokok Bajo.

Menarik menyaksikan kekompakan para ibu rumah tangga menggunakan pakaian tradisional.

Mereka berjajar rapi. Membawa beras di atas kepalanya yang ditaruh di sebuah baki dari anyaman bambu.

Kemudian berjalan beriringan di jalan raya menuju Lokoq Bajo.

Sebagai syarat yang boleh mencuci beras ini adalah perempuan yang suci.

Tak boleh ada perempuan haid ikut dalam Bisok Menik.

Sepanjang jalan mereka tak diperkenankan saling berbicara.

Ketika sampai di mata air Lokoq Bajo, beras pun mulai dicuci bersih.

Setelah beras dicuci, kemudian di masak menjadi nasi.

Kemudian menata hidangan pada sebuah tempat yang dibuat dari rautan bambu yang disebut ancak.

Prosesi bisok beras diawali dengan penyembelihan hewan ternak yang dikumpulkan komunitas adat setempat. san ekor ayam dipotong didalam kampu.

Semua hewan ternak yang dipotong adalah sumbangan dari komunitas adat setempat, yang jika dihitung secara matematika, harganya sampai ratusan juta rupiah.

Terlihat kekompakan masyarakat adat yang tidak pernah berhitung ketika melakukan ritual adat pemotongan hewan.

Setelah semuanya siap, bahan mentah tersebut kemudian dimasak di Pedangan atau apur adat masyarakat setempat yang letaknya di areal kampu.

Sembari ada yang memasak, masyarakat lain juga menyiapkan ancak yang terbuat dari bambu.

Ancak ini merupakan sebutan dari masyarakat setempat kepada wadah yang nantinya dijadikan tempat meletakkan makanan untuk dibawa ke Masjid Kuno Bayan Beleq.

Praje Mulud

Ritual Menutu Mulud atau menumbuk padi di acara Maulid Adat Karang Bajo, Kecamatan Bayan, Lombok Utara, Senin, (10/10/2022).
Ritual Menutu Mulud atau menumbuk padi di acara Maulid Adat Karang Bajo, Kecamatan Bayan, Lombok Utara, Senin, (10/10/2022). (TRIBUNLOMBOK.COM/LALU HELMI)

Momen inilah yang menjadi puncak perayaan Maulid Adat Bayan atau biasa disebut dengan istilah Praje Mulud.

Dalam Praje Mulud ini, beberapa pemuda didandani menyerupai sepasang pengantin yang diiring dari rumah “Pembekel Beleq Bat Orong (pemangku adat dari Bayan Barat) menuju Masjid Kuno dengan membawa sajian berupa hidangan seperti nasi dan lauq pauqnya di atas ancak saji.

Praje Mulud ini menggambarkan proses terjadinya perkawinan langit dan bumi, Adam dan Hawa yang disimbolkan dengan pasangan pengantin yang dilakukan oleh pranata-pranata adat Bayan.

Sementara pengalun membawa payung Agung.

Payung Agung ini hanya boleh dibawa oleh Amaq Lokaq Penguban yang dijemput oleh masyarakat Adat Bayan Barat, (Bat Orong).

Payung Agung tersebut di gunakan untuk memayungi pasangan pengantin pada saat Praje Mulud dari Bayan Barat ke Masjid kuno.

Para pengiring penganten juga membawa ancak terbuat dari bambu yang digunakan untuk mengagek.

Ancak berbentuk persegi dan di buat oleh kaum pria.

Ancak ini merupakan tempat menaruh hidangan pada saat acara makan bersama di Masjid Kino oleh para pemuka Agama Adat, sedangkan untuk masyarakat adat makan bersama didalam kampu.

Setelah rombongan Praje Mulud masuk ke dalam Masjid Kuno Bayan dan dengan rapi, yang kemudian salah satu pemuka agama memimpin do’a dilanjutkan dengan makan bersama.

Kegiatan ini merupakan wujud rasa syukur warga Adat Sasak Bayan kepada para ulama sekaligus menjadi perayaan kelahiran Nabi Muhammad SAW yang dirayakan secara adat.

Setelah acara puncak selesai, proses dilanjutkan dengan “Majang” yaitu prosesi menghiasi Berugaq Agung menggunakan kain dan dilakukan oleh kaum perempuan berdasarkan garis keturunan.

Di tiang sebelah tenggara oleh Melokaq Gantungan rombong, tiang tengah timur oleh Penyunat, tiang timur laut oleh Pande, tiang barat laut oleh keturunan Kyai Lebe.

Sementara untuk bisok (mencuci) berugaq Agung adalah tugas dari dua orang laki-laki dari masyarakat adat.

Hal ini dilakukan agar berugaq agung yang di gunakan sebagai tempat majang dan memblonyo dalam keadaan bersih dan suci.

“Membelonyo” sendiri merupakan kegiatan pemberian tanda kepada masyarakat adat oleh wanita dari keturunan yang ikut dalam proses Majang tersebut.

Blonyo adalah minyak yang terbuat dari kelapa Mareng yang dibuat masyarakat Bat Orong, dimana kelapa tersebut dibawa dari masyarakat Adat Karang Bajo.

Kekompakan dan kekeluargaan amat terasa dalam setiap momen sakral tersebut.

Satu hal yang tetap dipegang teguh komunitas adat Bayan dalam melaksanakan berbagai ritual adat, yaitu ringan sama dijinjing dan berat sama dipikul.

Maulid Adat Bayan dan ritual adat lainya sebagai perekat bagi komunitas setempat.

(*)

Sumber: Tribun Lombok
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

Berita Populer

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved