Berita Lombok Tengah

Kasus Begal Menjamur di NTB, Pengamat: Kemiskinan Bukan Faktor Utama

“Karena dalam tindakan kriminal itu tentunya juga dipengaruhi faktor lain, tergantung pada jenis tindak kriminalnya,” cetusnya.

Penulis: Robbyan Abel Ramdhon | Editor: Lalu Helmi
Tribun Jabar
ILustrasi Begal 

Laporan Wartawan Tribunlombok.com, Robbyan Abel Ramdhon

TRIBUNLOMBOK.COM, MATARAM – Menurut data terakhir dari Badan Pusat Statistik (BPS) NTB 2020, Lombok Tengah merupakan kabupaten yang masuk dalam tiga besar daerah dengan kasus kejahatan tertinggi di NTB.

Sebanyak 946 kasus kejahatan terjadi selama bentang tahun 2020 di Lombok Tengah.

Kejahatan yang paling banyak terjadi di wilayah tersebut, antara lain pencurian kendaraan bermotor sebesar 170 kasus, penganiayaan ringan 163 kasus, dan pencurian dengan pemberatan 111 kasus.

Baca juga: Amaq Sinta Bisa Lepas Dari Jerat Pidana, Begini Pandangan Hukum Prof Zainal Asikin

Baca juga: Begini Arahan Kabareskrim ke Kapolda NTB Soal Kelanjutan Kasus Amaq Sinta

Meski ada indikasi sosial berupa faktor ekonomi (kemiskinan) yang menjadi penyebab besarnya kasus pencurian motor di lokasi Sirkuit Mandalika ini, hal itu tidak sejalan dengan data lain dari BPS yang mengatakan, penduduk miskin di Lombok Tengah sebesar 13,44 persen.

Angka ini lebih rendah dibandingkan kabupaten-kabupaten lain di NTB.

Lalu Suprawan, Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam Universitas Islam Negeri Mataram berpendapat, ada kecenderungan masyarakat menganggap bahwa tindak kriminal sebagai salah satu jalan dalam mencapai taraf kemapanan (ekonomi).

“Hal itulah yang menjadikan kemiskinan dapat mempengaruhi tindak kriminal dalam masyarakat, karena dalam kelompok ini, tindak kriminal sering dianggap sebagai bagian dari upaya untuk meningkatkan standar hidup,” terangnya kepada Tribunlombok.com, Jumat (15/4/2022).

Mempertebal pendapatnya, ia menyebut pengaruh kemiskinan terhadap terjadinya tindakan kriminal yakni sebesar 20 persen hingga 30 persen.

“Karena dalam tindakan kriminal itu tentunya juga dipengaruhi faktor lain, tergantung pada jenis tindak kriminalnya,” cetusnya.

Memberikan perbandingan, Suprawan juga menyinggung Kabupaten Lombok Utara yang memiliki angka kemiskinan tertinggi di Lombok, namun tingkat kriminalitasnya rendah.

“Artinya ada faktor lain seperti faktor sosial dan budaya juga sebagai pengaruhnya,” tekannya.

Berdasarkan publikasi BPS NTB per Maret 2021, Lombok Utara menjadi kabupaten dengan penduduk termiskin di NTB, yakni sebesar 27,4 persen, disusul Kabupaten Lombok Timur 15,38 persen, dan Kabupaten Bima 14,88 persen dan menempati posisi kesembilan sebagai daerah dengan tingkat kriminalitas tertinggi dari sepuluh kabupaten di NTB.

Senada dengan Suprawan, Doktor Saipul Hamdi Sosiolog Universitas Mataram menjelaskan, kriminalitas bukan hanya semata karena kemiskinan, tetapi terdapat juga faktor budaya yang mempengaruhi terjadinya tindakan tersebut.

Halaman
12
Sumber: Tribun Lombok
  • Berita Populer
    Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    berita POPULER

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved