Kamis, 7 Mei 2026
NTB Makmur Mendunia
NTB Makmur Mendunia

Tradisi Balap Lari Jalanan di Mataram: Miliki Peraturan Unik, hingga Dilakukan Dini Hari

Tradisi balap lari jalanan di Mataram yang hadir hanya di bulan puasa memiliki keunikan tersendiri.

Tayang:
Penulis: Jimmy Sucipto | Editor: Maria Sorenada Garudea Prabawati
(TribunLombok/Jimmy Sucipto).
Balap lari jalanan yang berlokasi di Kampung Pelembak, Ampenan, Mataram, turut dipadati oleh masyarakat, dan kedua pelari yang sudah mengambil ancang-ancang untuk melejit ke garis finish. 

Laporan Wartawan TribunLombok.com, Jimmy Sucipto

TRIBUNLOMBOK.COM, MATARAM – Tradisi balap lari jalanan di Mataram yang hadir hanya di bulan puasa memiliki keunikan tersendiri.

Pun soal peraturan yang diterapkan.

Seperti diketahui balap lari ini sendiri hadir di Kampung Pelembak, Tinggar, Ampenan, Mataram, Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB)

Dalam prakteknya, mereka berlari dengan ciri khas masing-masing, dari yang baru datang menggunakan sarung sebagai penutup tubuhnya, hingga berlari menggunakan celana boxer, hingga celana dalam saja.

Saat di temui oleh TribunLombok, Rabu (06/04/2022) dini hari, Andy mengatakan menjadi peserta tradisi balap lari jalanan tanpa mengenakan busana saat berlari.

Bukan tanpa alasan, menurut Andy berlari tanpa mengenakan busa dipercaya dapat menambah kecepatan mereka.

Baca juga: Komisaris ITDC Irzani Isi Kajian Ramadan di Masjid Nurul Bilad Mandalika: Jadilah Pemenang!

Tradisi unik ini tanpa adanya jadwal khusus, hanya menunggu ramainya masyarakat berkumpul, sekira pukul 12.00 WITA.

Tradisi ini pun berlangsung sejak hari pertama di Bulan Puasa, hingga Idul Fitri.

Seperti diketahui setelah masyarakat berkumpul, nantinya ada seorang yang berkeliling, mencari lawan tanding untuk jagoan yang sudah mereka tentukan.

Balap lari jalanan ini pun memiliki juri tersendiri.

Balap lari jalanan di Kampung Pelembak, Ampenan, Mataram jadi pusat perhatian warga, Rabu (6/4/2022). Dua orang pelari tampak mengambil ancang-ancang untuk melejit ke garis finish.
Balap lari jalanan di Kampung Pelembak, Ampenan, Mataram jadi pusat perhatian warga, Rabu (6/4/2022). Dua orang pelari tampak mengambil ancang-ancang untuk melejit ke garis finish. (TRIBUNLOMBOK.COM/JIMMY SUCIPTO)

Ada juri, yang mengamankan jalannya balapan, mereka diberi upah sebesar Rp20 ribu per-match.

Lalu, hakim garis finish yang bertugas untuk menentukan juara, dengan upah Rp10 ribu per-match.

Dan terakhir, wasit yang berposisi pada garis start, dan bertugas mengkoordinasi seluruh jaringan yang bertugas, diupah sebesar Rp25 ribu per-match.

Para petugas membawa sebatang kayu, guna memberi aba-aba, dan juga digunakan untuk menertibkan penonton.

Sumber: Tribun Lombok
Halaman 1/2
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved