Dilema Pesisir Ampenan 2026: Alat Makin Canggih, Hasil Tangkapan Justru Menipis
Nelayan Ampenan mengeluhkan penurunan drastis hasil tangkapan di tahun 2026 meski sudah menggunakan alat modern.
Ringkasan Berita:
- Nelayan Ampenan mengeluhkan penurunan drastis hasil tangkapan di tahun 2026 meski sudah menggunakan alat modern, yang diperparah oleh tingginya biaya operasional bahan bakar.
- Penurunan jumlah ikan disebabkan oleh rusaknya terumbu karang (rumah ikan) akibat praktik penangkapan ilegal seperti pengeboman dan pengambilan karang untuk bahan bangunan di masa lalu.
TRIBUNLOMBOK.COM, MATARAM – Kondisi pesisir pantai di wilayah Ampenan dan Sekarbela, Kota Mataram, kini tengah menghadapi tantangan serius.
Meski teknologi melaut semakin modern, para nelayan justru mengeluhkan penurunan jumlah hasil tangkapan yang signifikan dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.
Hal tersebut disampaikan Ketua Kelompok Nelayan Rembulan 1 Sekarbela, Zuhud, dalam Podcast TribunLombok.com, yang tayang Kamis (30/4/2026).
Zuhud, yang telah memimpin kelompok nelayan di Lingkungan Sembalun, Tanjung Karang sejak 2017, menceritakan perubahan drastis yang dirasakan para nelayan.
Ia menyebutkan bahwa pada masa lalu, dengan alat yang masih sederhana, ikan justru sangat mudah didapat.
"Tahun 2026 ini, alat memang semakin canggih. Ada jaring tongkol, panah dan lain-lain. Dulu kita hanya pakai pancing murni, tapi ikannya Alhamdulillah banyak. Sekarang, meski alat canggih, hasil kita sedikit. Kadang melaut seminggu hanya dapat sekali dua kali," keluh Zuhud.
Kondisi ini diperparah dengan tingginya biaya operasional. Untuk mencari ikan tongkol hingga ke Selat Bali, nelayan membutuhkan sedikitnya 20 liter bahan bakar untuk mesin tempel 15 PK.
"Kalau kurang minyak atau tidak ada dana, kami tidak berani turun melaut," tambahnya.
Menanggapi keluhan tersebut, Camat Ampenan, Muzakir Walad, mengakui adanya kontradiksi antara kecanggihan alat dan hasil tangkapan.
Menurutnya, salah satu penyebab utama adalah rusaknya rumah ikan atau terumbu karang akibat perilaku manusia di masa lalu.
"Ikan itu sebenarnya banyak, tapi rumahnya (karang) yang bermasalah. Dulu ada praktik pengeboman dan pengambilan batu karang untuk bahan bangunan. Perilaku tidak cerdas ini mematikan ekosistem. Inilah yang membuat ikan menjauh," jelas Muzakir.
Muzakir juga mengutip catatan Alfred Wallace yang pernah mengagumi kekayaan fauna di perairan Ampenan sebagai garis imajiner yang menjanjikan.
Ia menekankan pentingnya menjaga ekosistem agar potensi laut sepanjang 8,17 kilometer di Mataram ini tetap stabil.
Pemerintah Kota Mataram melalui berbagai program terus berupaya memberikan dukungan bagi nelayan, di antaranya bantuan sarana.
Pemberian jaring tongkol, alat navigasi, lampu penerang, mesin tempel, hingga bantuan perahu.
| Optimalkan Potensi Pesisir, Mataram Komitmen Ikuti Penganugerahan Bidang Kelautan dan Perikanan |
|
|---|
| Wali Kota Mataram Resmikan Kelurahan Cantik di Ampenan: Pastikan Data Akurat, Program Tepat Sasaran |
|
|---|
| Wujudkan Ekonomi Biru, Pemkot Mataram Tata Kawasan Pesisir Jadi Pusat Wisata Kuliner dan Bahari |
|
|---|
| Jejak Karomah Habib Husein, Pedagang Skaligus Tabib yang Sempurnakan Islam di Ampenan |
|
|---|
| Sambut Lebaran Topat 2026, Pemkot Mataram Gelar Aksi Bersih Pantai Ampenan hingga Loang Baloq |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/lombok/foto/bank/originals/Ketua-Kelompok-Nelayan-Rembulan-1-Sekarbela-Zuhud.jpg)