Sungai di Lombok Masih Tercemar, Pegiat Lingkungan Hingga Pemerintah Berikan Edukasi ke Masyarakat
Kordinator komunitas lingkungan Earth Hour Wibisono Setiyoadi, sebut sungai sebagai lingkungan paling tercemar di Lombok, Senun (7/2/2022).
Penulis: Robbyan Abel Ramdhon | Editor: Lalu Helmi
Laporan Wartawan TribunLombok.com, Robbyan Abel Ramdhon
TRIBUNLOMBOK.COM, MATARAM – Kordinator komunitas lingkungan Earth Hour Wibisono Setiyoadi, sebut sungai sebagai lingkungan paling tercemar di Lombok, Senun (7/2/2022).
Menurutnya, fakta empiris ini terjadi karena masih banyak masyarakat yang memiliki tingkat kepedulian rendah terhadap kebersihan sungai.
“Kebersihan sungai dan pantai yang masih sangat kurang,” tuturnya.
Baca juga: Penanganan Kebersihan Lingkungan Lombok Dinilai Baik, Earth Hour Mataram: Tambah Sarana & Prasarana
Baca juga: Limbah Medis di SLBN 2 Mataram, Polisi Usut Dugaan Pidana Pencemaran Lingkungan
Ia menambahkan, gerakan-gerakan edukasi hingga tindakan konkret berupa penegasan regulasi terkait aturan di belantara sungai harus segera dilakukan.
Menambahkan pendapatnya, Wibi menjelaskan perlu adanya kordinasi dari semua elemen masyarakat, komunitas hingga pemerintah untuk lebih sering dan konsisten lagi melakukan gerakan turun lapangan.
“Gerakan kolektif tidak boleh surut, semua bagian dari lingkungan harus diperhatikan secara merata,” tandasnya.
Sependapat dengan Wibi, Ruhma Ruksalana kordinator komunitas Jelajah Jangkok ungkap perubahan warna sungai terjadi di beberapa titik pasca banjir 6 Desember lalu.
“Akibat kuatnya arus, debit air tinggi,” singkatnya.
Belum lagi, tambah Ruhma, soal masyarakat yang masih menjadikan sungai sebagai tempat pembuangan sampah.
Permasalahan ini menurutnya harus diselidiki lebih serius mengingat tingkat pencemaran di sungai semakin tinggi.
Menurutnya, perhatian-perhatian berupa transparansi hasil dari penelitian ilmiah mengenai sungai nyaris tidak ada.
“Jurnal penelitian ilmiah tentang tingkat pencemaran di sungai sangat sedikit, apabila ada dan dilakukan oleh bidang yang berkepentingan, hasil penelitiannya tidak dipublikasikan,” bebernya.
Tegas Ruhma, penting bagi publik atau masyarakat mengetahui berbagai hasil penelitian tersebut sebagai landasan evaluasi di waktu mendatang.
“Juga jadi ancang-ancang program bagi pegiat lingkungan sih sebenarnya,” lanjutnya.