Selasa, 19 Mei 2026
NTB Makmur Mendunia
NTB Makmur Mendunia

Opini

Tambang dan Ilusi Ekonomi NTB

Secara angka, ekonomi NTB tumbuh sangat tinggi, tetapi secara sosial, dampaknya belum tentu dirasakan secara merata oleh masyarakat.

Tayang:
Editor: Idham Khalid
TRIBUNLOMBOK.COM
Dr. Maharani - Penulis adalah Peneliti Lombok Research Center (LRC). 

Berakhirnya ekspor konsentrat AMNT seharusnya menjadi momentum refleksi bagi pemerintah daerah maupun pemerintah pusat. NTB tidak boleh terus menerus menggantungkan ekonomi pada sektor tambang. Sebab sumber daya mineral bersifat terbatas dan tidak dapat diperbarui. Ketika cadangan habis atau pasar global berubah, daerah akan menghadapi risiko krisis ekonomi yang serius. Apalagi secara nasional kita di ”kejutkan” oleh berita yang menginformasikan bahwa rupiah sudah tembus diatas 17.500 per dolarnya.

Sudah saatnya NTB membangun fondasi ekonomi yang lebih inklusif dan berkelanjutan. Potensi sektor pertanian, peternakan, perikanan, pariwisata, ekonomi kreatif, hingga industri kecil harus diperkuat secara serius. NTB memiliki kekayaan alam dan budaya yang luar biasa, mulai dari kawasan wisata di Pulau Lombok hingga potensi pertanian dan peternakan di Pulau Sumbawa. Namun selama ini, sektor-sektor tersebut sering kalah prioritas dibanding investasi tambang skala besar.

Pemerintah juga perlu lebih kritis dalam membaca data pertumbuhan ekonomi. Pertumbuhan tinggi yang hanya ditopang satu sektor tidak boleh dijadikan alasan untuk mengklaim keberhasilan pembangunan secara menyeluruh. Sebab ekonomi yang sehat adalah ekonomi yang mampu bertahan dalam jangka panjang, menciptakan pemerataan, dan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat luas.

Kasus NTB hari ini memberikan pelajaran penting bahwa angka pertumbuhan ekonomi bisa “menipu” jika tidak dibaca secara mendalam dan dengan kejujuran pikiran. Di atas kertas, ekonomi terlihat melesat tinggi. Tetapi di balik angka itu, ada ketergantungan besar terhadap tambang, ada kerentanan fiskal, dan ada persoalan kesejahteraan yang belum terselesaikan.

Ilusi pertumbuhan ekonomi terjadi ketika daerah terlalu sibuk mengejar angka statistik, tetapi lupa membangun ketahanan ekonomi rakyat. Dan ketika penopang utama itu berhenti, barulah terlihat bahwa pertumbuhan yang dibanggakan selama ini ternyata tidak benar-benar memiliki pondasi yang kokoh. Jika hal ini dibiarkan terus maka, cita-cita besar Gubernur Lalu Iqbal untuk masyarakat NTB yang “Makmur Mendunia” hanya akan menjadi visi dan slogan kosong yang tidak memiliki makna.

(*)

Sumber: Tribun Lombok
Halaman 2/2
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved