Selasa, 19 Mei 2026
NTB Makmur Mendunia
NTB Makmur Mendunia

Wisata NTB

Makam Tolobali: Pusara Sultan, Pejuang dan Penyebar Agama Islam di Bima

Makam Tolobali di Kota Bima adalah destinasi wisata sejarah yang menjadi tempat peristirahatan terakhir bagi tiga Sultan Bima.

Tayang:
Editor: Laelatunniam
ISTIMEWA
WISATA RELIGI - Makam kuno di Kota Bima yang merupakan makam Sultan Bima dan para penyiar agama Islam. Kompleks Makam Tolobali di Kota Bima adalah destinasi sejarah dan religi yang menampung pusara tiga Sultan Bima serta ulama berpengaruh. 

Ringkasan Berita:
  • Makam Tolobali di Kota Bima adalah destinasi wisata sejarah yang menjadi tempat peristirahatan terakhir bagi tiga Sultan Bima.
  • Nama Tolobali berasal dari bahasa Bima, Tolo Ra Bali (sawah yang dikembalikan), merujuk pada tanah yang dulunya diberikan Sultan kepada ulama namun dikembalikan karena kesulitan bercocok tanam.

TRIBUNLOMBOK.COM, BIMA - Kompleks Makam Tolobali yang terletak di Kota Bima merupakan salah satu destinasi wisata sejarah dan religi yang wajib dikunjungi.

Nama Tolobali sendiri berasal dari frasa Bima, Tolo Ra Bali, yang berarti sawah yang dikembalikan.

Sejarawan Bima, Alan Malingi, menjelaskan asal-usul unik dari lokasi kompleks makam ini.

Dikisahkan, kawasan ini awalnya adalah tanah persawahan yang diberikan oleh Sultan Bima kepada para ulama dan mubalig.

Namun, karena para pemuka agama tersebut tidak memiliki keahlian dalam bercocok tanam, tanah sawah itu akhirnya dikembalikan kepada Kesultanan.

Seiring waktu, area bekas persawahan ini bertransformasi menjadi kawasan permukiman padat dan di dalamnya berdiri kompleks pemakaman bersejarah.

Makam Tolobali menjadi aset penting bagi sejarah Kesultanan Bima karena di dalamnya terbaring tiga tokoh utama, yang dikenal sebagai kesatria, pejuang, sekaligus seniman Kesultanan.

Mereka adalah, Sultan Abdul Khair Sirajuddin: Sultan Bima kedua.

Sultan Nuruddin, putra dari Sultan Abdul Khair Sirajuddin, yang juga merupakan Sultan Bima ketiga.

Sultan Jamaluddin, putra dari Sultan Nuruddin, yang merupakan Sultan Bima keempat.

Selain para Sultan, kompleks ini juga menjadi tempat peristirahatan terakhir bagi para guru dan keturunan Melayu yang berjasa besar dalam penyebaran agama Islam di Bima, termasuk Syekh Umar Al Bantami, yang dikenal masyarakat setempat sebagai Sehe Banta dari Banten, ia merupakan guru dari Sultan Nuruddin.

Secara tata letak, makam di bagian paling timur diperkirakan merupakan pusara Sultan Nuruddin bersisian dengan gurunya, Syekh Umar Al Bantami (ditandai dua nisan).

Makam Sultan Abdul Khair Sirajuddin berada di bagian tengah, dan Makam Sultan Jamaluddin terletak di ujung barat.

Di luar area utama, terdapat 36 makam kuno lain, termasuk makam tokoh ulama Bima, Tuan Guru H.M. Said Amin BA (mantan Ketua MUI Kabupaten Bima) dan puteranya.

Makam Tolobali mudah diakses karena terletak di pusat Kota Bima, yakni di bagian utara, Kecamatan Asakota.

Sumber: Tribun Lombok
Halaman 1/2
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved