Kamis, 11 Juni 2026
NTB Makmur Mendunia
NTB Makmur Mendunia

Dampak Nilai Rupiah Melemah, Harga Oli di Mataram Meroket

Harga oli mengalami kenaikan bertahap hingga sekitar Rp10.000–Rp20.000 per botol, dengan harga saat ini berkisar Rp60.000 hingga Rp100.000.

Tayang: | Diperbarui:
Penulis: Robby Firmansyah | Editor: Laelatunniam
TRIBUNLOMBOK.COM/Robby Firmansyah
RUPIAH MELEMAH - Montir Bengkel Maju Jaya Motor, Muhammad Nurhazani saat menuangkan oli ke salah satu sepeda motor pelanggan, Kamis (11/6/2026). Pelemahan rupiah dan kenaikan harga minyak dunia berdampak pada sektor otomotif di Mataram, NTB, terutama kenaikan harga oli dan suku cadang. 

Ringkasan Berita:
  • Pelemahan rupiah dan kenaikan harga minyak dunia berdampak pada sektor otomotif di Mataram, NTB, terutama kenaikan harga oli dan suku cadang.
  • Harga oli mengalami kenaikan bertahap hingga sekitar Rp10.000–Rp20.000 per botol, dengan harga saat ini berkisar Rp60.000 hingga Rp100.000.

Laporan Wartawan TribunLombok.com, Robby Firmansyah

TRIBUNLOMBOK.COM, MATARAM - Gejolak harga minyak dunia yang disertai pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat mulai berdampak pada sektor otomotif di Kota Mataram, Nusa Tenggara Barat (NTB).

Kenaikan harga tersebut kini dirasakan langsung oleh pelaku usaha bengkel maupun para pemilik kendaraan yang harus merogoh kocek lebih dalam untuk perawatan rutin.

Montir Bengkel Maju Jaya Motor, Muhammad Nurhazani (27), mengungkapkan bahwa harga sejumlah suku cadang dan pelumas mengalami kenaikan dalam sebulan terakhir.

Menurutnya, kenaikan paling terasa terjadi pada produk oli yang menjadi kebutuhan utama kendaraan bermotor.

“Dalam sebulan ini sudah tiga kali naik. Awalnya naik Rp5.000, kemudian Rp10.000, dan terakhir naik lagi Rp20.000,” ujarnya saat ditemui, Kamis (11/6/2026).

Ia mencontohkan, oli yang sebelumnya dijual seharga Rp50.000 kini telah menembus Rp60.000 per botol. Kondisi tersebut membuat banyak pelanggan mengeluhkan kenaikan harga, meski pada akhirnya mereka tetap membeli karena kebutuhan perawatan kendaraan tidak bisa ditunda.

“Banyak yang mengeluh, tapi mau bagaimana lagi. Harga modalnya memang sudah naik,” kata Zani.

Saat ini, harga oli termurah di bengkel tersebut berada di kisaran Rp60.000, sedangkan oli dengan harga tertinggi mencapai Rp100.000 untuk merek MPX.

Jika sebelumnya oli premium menjadi pilihan favorit pelanggan, kini sebagian konsumen mulai beralih ke produk dengan kualitas standar yang lebih terjangkau.

Meski demikian, lonjakan harga tidak berdampak signifikan terhadap jumlah pelanggan. Aktivitas servis kendaraan tetap berjalan normal karena perawatan kendaraan dianggap sebagai kebutuhan yang harus dipenuhi.

“Jumlah pelanggan masih stabil. Mau bagaimana lagi, ini sudah menjadi kebutuhan,” ujarnya.

Selain oli, beberapa komponen suku cadang juga mengalami kenaikan harga. Namun, peningkatannya relatif lebih kecil, berkisar antara Rp2.000 hingga Rp5.000 per item sehingga masih dianggap wajar oleh konsumen maupun pelaku usaha.

Zani menambahkan, sebelum harga melonjak, oli sempat mengalami kelangkaan di pasaran. Ketika stok kembali tersedia, harga jual justru mengalami kenaikan yang cukup signifikan.

Kondisi ini menjadi gambaran bagaimana tekanan ekonomi global mulai merembet ke sektor usaha lokal. Di satu sisi, pelaku usaha harus menyesuaikan harga dengan biaya pengadaan yang meningkat.

Di sisi lain, konsumen juga dituntut untuk beradaptasi dengan biaya perawatan kendaraan yang semakin tinggi. Namun, sejauh ini, kebutuhan mobilitas masyarakat membuat permintaan terhadap layanan bengkel tetap bertahan di tengah tren kenaikan harga tersebut.

Sumber: Tribun Lombok
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved