Fenomena LGBT di Mataram
Cara Komunitas LGBT Mataram Terkoneksi Lewat Aplikasi Khusus
Penelitian UIN Mataram menemukan bahwa komunitas LGBT di Kota Mataram menjalani aktivitas sehari-hari seperti masyarakat umum.
Ringkasan Berita:
- Penelitian UIN Mataram menemukan bahwa komunitas LGBT di Kota Mataram menjalani aktivitas sehari-hari seperti masyarakat umum, namun kerap menghadapi stigma sosial dan kesulitan mengakses pekerjaan formal.
- Riset juga mengungkap penggunaan aplikasi digital berbasis lokasi untuk berkomunikasi dan membangun jejaring antaranggota komunitas secara real time.
TRIBUNLOMBOK.COM, MATARAM - Fenomena Lesbian, Gay, Biseksual, dan Transgender (LGBT) di Kota Mataram belakangan ini tengah menjadi sorotan di media sosial.
Hasil riset mendalam yang dilakukan oleh peneliti dari Universitas Islam Negeri (UIN) Mataram, Dr. Rosalina Utamy membeberkan berbagai temuan lapangan terkait realitas sosial, hambatan ekonomi, hingga pola komunikasi digital yang digunakan oleh komunitas tersebut di Kota Mataram.
Dalam Podcast Tribun Lombok, yang tayang Jumat (5/6/2026), berdasarkan hasil pemantauan langsung di lapangan, anggota komunitas LGBT pada dasarnya menjalani rutinitas harian yang sama dengan masyarakat umum.
"Mereka bekerja dan beraktivitas normal saat berkumpul dengan kelompoknya yang dinilai memberikan ruang aman,"jelasnya.
Namun, stigma sosial yang melekat membuat mereka kerap menghadapi dinding tebal saat mencoba mengakses pasar kerja formal.
"Mereka sulit untuk mendapatkan pekerjaan yang menerima mereka. Seperti contohnya, yang transgender, misalkan, saya garis bawahnya, yang transgender masih bongkar pasang, yang artinya pagi dan malam berbeda,"lanjutnya.
Salah satu temuan riset adalah pemanfaatan teknologi digital berbasis lokasi oleh komunitas LGBT di Mataram.
Jejaring ini bergerak secara rapi dan terkoneksi melalui aplikasi khusus di gawai mereka yang memiliki fitur pelacak jarak antar-pengguna secara real time.
Dr Rosalina mengakui bahwa ia baru mengetahui keberadaan sistem digital yang begitu spesifik ini setelah terjun langsung melakukan kajian di lapangan.
"Teman-teman LGBT ini punya aplikasi untuk mengetahui jarak teman-temannya itu di mana. Dan saya baru tahu ketika saya melakukan kajian ini. Saya pikir kita hanya bisa punya aplikasi untuk order makanan saja. Ternyata, mereka juga punya aplikasi untuk mempermudah mereka untuk berkomunikasi dan melakukan aktivitas. Termasuk aktivitas seksual. Jadi, mereka terkoneksi di aplikasi itu," jelasnya.
Kendati memicu keresahan, Dr. Rosalina menekankan bahwa temuan ini tidak sepatutnya direspons masyarakat dengan kepanikan yang berlebihan.
Temuan riset ini harus dipandang sebagai sinyal waspada (warning) bagi semua pihak untuk merumuskan strategi pencegahan yang tepat.
Langkah edukasi dan preventif dinilai krusial agar dampak sosial maupun kesehatan dari fenomena ini tidak meluas ke lingkungan keluarga serta generasi muda berikutnya.
Menjawab rasa penasaran publik mengenai cara mengidentifikasi keberadaan komunitas ini, Dr Rosalina menjelaskan bahwa secara literatur teori psikologi memang terdapat pembagian karakteristik visual maupun kepribadian.
Ia mencontohkan adanya istilah buci yang maskulin dan femme yang feminin pada lesbian, serta peran top dan bottom pada kelompok gay yang mempengaruhi gestur tubuh mereka. Namun, ia mengingatkan masyarakat agar tidak mudah menghakimi atau memberi label orientasi seksual seseorang hanya dari tampilan luar saja.
| Angka Kawin Cerai Tinggi dan Tabunya Edukasi Seks Jadi Faktor Pemicu LGBT di Mataram |
|
|---|
| Dr Rosa Beberkan Keseharian Komunitas LGBT di Mataram, Pagi Jadi Laki-laki, Malam Ubah Penampilan |
|
|---|
| Riset UIN Mataram: Mayoritas Pelaku LGBT di Mataram Berpendidikan Tinggi dan Pekerja Profesional |
|
|---|
| Riset UIN Mataram Bongkar Pemicu LGBT: Dari Faktor Genetik hingga Trauma Pelecehan di Ponpes |
|
|---|
| Bongkar Fenomena LGBT di Mataram, Dr Rosalina Lakukan Observasi Mendalam Selama Dua Tahun |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/lombok/foto/bank/originals/Dr-Rosalina-Utami.jpg)