Fenomena LGBT di Mataram
Riset UIN Mataram: Mayoritas Pelaku LGBT di Mataram Berpendidikan Tinggi dan Pekerja Profesional
Fenomena LGBT di Mataram tidak memandang status sosial karena mayoritas informan berpendidikan tinggi dan bekerja profesional.
Ringkasan Berita:
- Fenomena LGBT di Mataram tidak memandang status sosial karena mayoritas informan berpendidikan tinggi dan bekerja profesional.
- Komunitas ini bergerak rapi menggunakan aplikasi ponsel berbasis lokasi untuk berkomunikasi.
TRIBUNLOMBOK.COM, MATARAM - Hasil riset mendalam mengenai fenomena LGBT di Kota Mataram yang dilakukan oleh peneliti UIN Mataram, Dr. Rosalina Utamy, mengungkap fakta yang mengejutkan.
Berdasarkan data yang dihimpun di lapangan, orientasi seksual menyimpang ini nyatanya tidak memandang latar belakang sosial maupun ekonomi seseorang.
Dr. Rosa menegaskan bahwa mayoritas informan yang ditelitinya justru memiliki tingkat pendidikan yang sangat baik dan memegang pekerjaan sebagai profesional.
"Kalau secara general, informan saya ini adalah memiliki pekerjaan yang profesional,"jelasnya.
"Dari segi pendidikan, mereka punya tingkat pendidikan yang sangat bagus dan pekerjaan profesional. Artinya LGBT ini tidak melihat Anda siapa, pekerjaan Anda siapa," lanjutnya.
Fenomena ini pada dasarnya merupakan bagian dari masalah kesehatan mental yang bisa berpotensi dialami oleh siapa saja, dari kalangan mana saja, sehingga para pelakunya sangat membutuhkan pendampingan yang tepat.
Salah satu temuan paling memilukan dalam riset ini adalah adanya informan yang mengalami disorientasi seksual akibat menjadi korban pelecehan saat masih duduk di bangku sekolah.
Ironisnya, penyimpangan tersebut tidak hanya ditularkan atau dilakukan oleh teman sebaya, melainkan juga melibatkan oknum guru atau pendidik mereka sendiri.
Dr. Rosa menceritakan salah satu kasus aktual yang menimpa tiga orang santri di sebuah pondok pesantren yang menjadi korban sodomi secara bersamaan.
Dampak psikologis dari kejadian masa lalu itu membekas sangat dalam hingga mereka tumbuh dewasa.
Akibat trauma tersebut, satu orang mengalami krisis identitas berat hingga merasa rendah diri sebagai laki-laki dan memilih menjadi transgender tipe bongkar pasang, sementara dua orang lainnya kini tumbuh dengan orientasi seksual sebagai gay.
"Dampaknya adalah ketika dia besar, dia merasa tidak layak sebagai seorang laki-laki. Sehingga memberikan dia rasa rendah diri, dan memilih untuk menjadi pelaku dan menjadi transgender,"terangnya.
Dalam kehidupan sehari-hari, aktivitas kelompok komunitas ini sebenarnya tampak sama seperti masyarakat biasa, terutama saat mereka sedang bekerja.
Namun, kelompok LGBT, khususnya para transgender, menghadapi tembok besar berupa diskriminasi di dunia kerja formal karena penampilan mereka yang dinilai berbeda.
"Demi menyambung hidup dan menunjang perekonomian, mereka akhirnya memilih untuk masuk ke sektor-sektor informal seperti membuka atau bekerja di salon kecantikan serta di tempat hiburan malam. Selain itu, mereka kerap membentuk perkumpulan olahraga sebagai wadah aktualisasi diri agar bisa diterima dengan rasa aman dan nyaman,"jelas Dr. Rosa.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/lombok/foto/bank/originals/Peneliti-UIN-Mataram-Dr-Rosalina-Utamy-bahas-lgbt.jpg)