Selasa, 12 Mei 2026
NTB Makmur Mendunia
NTB Makmur Mendunia

Berita NTB

Lahan Kritis di NTB Menyusut, Tersisa 182 Ribu Hektar

Luas lahan kritis di NTB terus menurun dan kini tersisa sekitar 182 ribu hektar pada 2026.

Tayang:
Penulis: Robby Firmansyah | Editor: Idham Khalid
Tribunnews.com/TribunLombok.com/Ahmad Wawan Sugandika
ALIH FUNGSI - Penampakan alih fungsi ahan di bukit di Mandalika, Lombok Tengah. Luas lahan kritis di NTB terus menurun dan kini tersisa sekitar 182 ribu hektar pada 2026. 

Dampak dari kerusakan hutan bisa menyebabkan bencana alam. Misalnya jika musim hujan kebanjiran dan musim kemarau berakibat pada kekurangan air bersih. 

“Karena sudah tidak ada tempat lagi untuk menampung air. Begitu kan lahan kritis itu,” katanya. 

Berdasarkan kondisi tersebut, lanjut dia, Pemprov NTB mendorong perubahan pola pengelolaan lahan untuk menekan angka lahan kritis yang masih tinggi di sejumlah daerah. 

Salah satu pendekatan yang dinilai efektif adalah konsep agroforestri seperti yang berkembang di sejumlah wilayah Pulau Lombok.

Ia menilai, pola pengelolaan hutan berbasis tanaman produktif mampu menjaga tutupan hutan sekaligus memberi manfaat ekonomi bagi masyarakat.

“Konsep-konsep yang dilakukan teman-teman di Pulau Lombok ini harus kita adopsi. Di wilayah kaki Rinjani banyak masyarakat berkegiatan, tapi hutannya masih tetap ada,” ungkapnya.

Ia mendorong masyarakat menanam tanaman produktif seperti durian, kemiri, dan pohon bernilai ekonomi lainnya. Ia menilai, pendekatan tersebut penting untuk mengubah pola pikir masyarakat dalam memanfaatkan kawasan hutan secara berkelanjutan.

“Dengan menanam durian, kemiri, dan pohon-pohon yang bisa menghasilkan, itu pola pendekatan yang harus kita dorong kepada masyarakat,” katanya.

Terkait penyebab lahan kritis, ia menyebut aktivitas manusia menjadi faktor utama. Termasuk pembukaan lahan yang menghilangkan tutupan vegetasi. 

Namun, tidak semua kawasan minim pohon dapat dikategorikan rusak, karena beberapa wilayah memang memiliki karakter ekosistem alami seperti savana di kawasan Rinjani.

(*)

Sumber: Tribun Lombok
Halaman 2/2
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved