Kamis, 7 Mei 2026
NTB Makmur Mendunia
NTB Makmur Mendunia

Opini

Tambora: Kisah Kerajaan Hilang hingga Inspirasi Frankenstein

Letusan Tambora di Pulau Sumbawa memiliki dampak global, tidak hanya terhadap iklim dan sejarah, tetapi juga terhadap imajinasi manusia.

Tayang:
Editor: Sirtupillaili
TRIBUNLOMBOK.COM/Rachmat, H, 2015
TAMBORA - Kondisi kawah Gunung Tambora di Pulau Sumbawa, NTB tahun 2015. Ini adalah kaldera aktif terbesar di Indonesia dengan diameter sekitar 7 km, keliling 16 km, dan kedalaman mencapai 1.100–1.500 meter. 

Oleh: Niken Arumdati, ST, M.Sc dan Dr. Ir. Heryadi Rachmat,MM

Ketika film Frankenstein karya sutradara Guillermo del Toro tayang di Netflix pada November 2025, kisah klasik tentang Victor Frankenstein kembali menarik perhatian dunia. 

Dalam tiga hari pertama penayangannya, film ini ditonton lebih dari 29 juta kali, dipuji karena visual gotiknya yang memukau serta kedalaman emosional ceritanya. Bagi banyak penonton, Frankenstein adalah kisah tentang ambisi manusia, kesepian, dan pencarian makna kehidupan.

Namun sedikit yang menyadari bahwa akar cerita ini, secara tidak langsung, dapat ditelusuri hingga ke sebuah gunung api di Indonesia. Pada April 1815, Gunung Tambora di Pulau Sumbawa meletus dengan kekuatan luar biasa. Letusan ini tercatat sebagai salah satu yang paling dahsyat dalam sejarah manusia. Awan panas menyapu lereng gunung, hujan abu menutupi wilayah yang luas, dan ribuan manusia kehilangan nyawa.

Di sekitar Tambora saat itu berdiri beberapa kerajaan kecil yang menjadi bagian dari jaringan perdagangan maritim Nusantara, di antaranya Kerajaan Tambora dan Kerajaan Pekat. Masyarakat di kawasan ini memiliki bahasa, tradisi, dan sistem sosial yang berkembang selama berabad-abad. Namun ketika letusan besar terjadi pada 10 April 1815, semuanya berubah dalam waktu singkat.

Permukiman terkubur oleh abu vulkanik. Desa-desa hilang dari peta. Kerajaan yang pernah hidup di lereng gunung lenyap hampir tanpa jejak.

Karena itulah, para peneliti sering menyebut kawasan ini sebagai “Pompeii of the East.” Sebutan tersebut merujuk pada kota Pompeii di Italia yang terkubur oleh letusan Gunung Vesuvius pada tahun 79 Masehi. 

Baca juga: Tambora: Dari Letusan Terdahsyat Menjadi Warisan Geologi Dunia

lihat fotoLUMPUR TAMBORA - Kondisi dasar Kaldera Tambora di Danau Motil Lahalo dipenuhi lumpur pada tahun 2015.
LUMPUR TAMBORA - Kondisi dasar Kaldera Tambora di Danau Motil Lahalo dipenuhi lumpur pada tahun 2015.

Seperti Pompeii, wilayah Tambora menyimpan jejak peradaban yang tertimbun oleh material vulkanik. Penemuan artefak seperti keramik dan sisa-sisa permukiman menunjukkan bahwa di tempat tersebut pernah berkembang masyarakat yang hidup dalam jaringan perdagangan maritim Nusantara.

Namun kisah Tambora tidak berhenti pada tragedi lokal. Letusan besar itu menyemburkan abu dan gas sulfur ke atmosfer dalam jumlah sangat besar. Partikel-partikel tersebut membentuk lapisan yang menghalangi sinar matahari mencapai permukaan bumi. Dampaknya terasa hingga ke belahan dunia lain. Tahun berikutnya, 1816, dikenal sebagai “The Year Without a Summer”—tahun tanpa musim panas.

Di Eropa dan Amerika Utara, suhu turun drastis. Cuaca menjadi tidak menentu, hujan dan badai terjadi terus-menerus, dan panen gagal di berbagai wilayah. Krisis pangan melanda masyarakat, sementara langit tampak gelap dan suram selama berbulan-bulan.

Dalam suasana inilah sebuah karya sastra legendaris lahir.

Pada musim panas 1816 di tepi Danau Geneva, Swiss, sekelompok penulis muda, Lord Byron, Percy Bysshe Shelley, Mary Shelley, dan John Polidori, terjebak di sebuah vila karena cuaca dingin dan hujan yang tidak kunjung berhenti. Untuk mengisi waktu, mereka saling menantang menulis cerita horor.

Dari pertemuan itu lahirlah novel Frankenstein karya Mary Shelley, sebuah karya yang kemudian menjadi salah satu cerita gotik paling berpengaruh dalam sejarah sastra dunia.

Rantai peristiwa ini menunjukkan hubungan yang menarik: letusan gunung api di Indonesia memicu perubahan iklim global, yang kemudian menciptakan suasana kelam di Eropa, suasana yang menginspirasi lahirnya karya sastra klasik dunia.

Dengan kata lain, peristiwa lokal di Indonesia ternyata memiliki dampak global, tidak hanya terhadap iklim dan sejarah, tetapi juga terhadap imajinasi manusia.

Sumber: Tribun Lombok
Halaman 1/2
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved