Kamis, 30 April 2026
NTB Makmur Mendunia
NTB Makmur Mendunia

Kenaikan Muka Air Laut NTB

Mangrove dan Terumbu Karang Dinilai Kunci Lindungi Pesisir Mataram

Pakar UMMAT mendesak solusi alami melalui pemulihan ekosistem mangrove dan terumbu karang guna mengatasi abrasi di pesisir Mataram.

Tayang:
Editor: Idham Khalid
TRIBUNLOMBOK.COM/WAWAN SUGANDIKA
ABRASI PANTAI: Kondisi salah satu rumah warga di Kelurahan Bintaro, Kecamatan Ampenan, Kota Mataram, NTB rusak akibat abrasi, Jumat (17/1/2025). Pakar UMMAT mendesak solusi alami melalui pemulihan ekosistem mangrove dan terumbu karang guna mengatasi abrasi di pesisir Kota Mataram. 

Menurutnya, pemeliharaan perlu dilakukan hingga mangrove mampu beradaptasi secara alami dengan lingkungannya.

“Setelah diyakini mangrove itu tumbuh, akarnya menghujam, bisa memproduksi unsur hara, barulah dilepas secara mandiri,” jelas Syafril.
Ia juga menyoroti lemahnya evaluasi terhadap program penanaman mangrove yang telah dilakukan sebelumnya.

“Selama ini yang saya lihat, tidak ada evaluasi. Berapa yang tumbuh, berapa yang mati, itu tidak pernah dihitung,” ujarnya.

Ratusan KK Terancam Banjir Rob

ABRASI KOTA MATARAM - Kondisi abrasi yang memakan sepadan pantai di kelurahan Bintaro Ampenan Kota Mataram
ABRASI KOTA MATARAM - Kondisi abrasi yang memakan sepadan pantai di kelurahan Bintaro Ampenan Kota Mataram (TRIBUNLOMBOK.COM/WAWAN SUGANDIKA)

Sementara itu, ancaman banjir rob akibat kenaikan muka air laut masih menghantui wilayah pesisir Kecamatan Ampenan, Kota Mataram

Berdasarkan catatan Pemerintah Kecamatan Ampenan, pada November 2025 lalu diperkirakan sekitar 500 Kepala Keluarga (KK) terancam terdampak banjir rob, terutama saat musim hujan dan bulan purnama.

Camat Ampenan, Muzakkir Walad, menyebutkan bahwa dampak paling berat dirasakan warga yang bermukim di kawasan tanah GG (governor ground) atau tanah milik negara di sempadan pantai.

“Dampak terberat dirasakan oleh warga yang memang bermukim di daerah tanah GG atau sempadan pantai. Dan memang tidak sebagai wilayah yang harus diganti kerugiannya, karena mereka sudah lama diperingatkan untuk tidak membangun di sana,” ujar Muzakkir, Senin (17/11/2025).

Ia menambahkan, peringatan serta perencanaan penataan kawasan pesisir tersebut sebenarnya telah dilakukan sejak 2016. Berdasarkan data kecamatan, terdapat 364 KK di Ampenan yang masuk kategori berisiko tinggi terhadap banjir rob.

(*)

Sumber: Tribun Lombok
Halaman 2/2
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved