Kenaikan Muka Air Laut NTB
Mangrove dan Terumbu Karang Dinilai Kunci Lindungi Pesisir Mataram
Pakar UMMAT mendesak solusi alami melalui pemulihan ekosistem mangrove dan terumbu karang guna mengatasi abrasi di pesisir Mataram.
Menurutnya, pemeliharaan perlu dilakukan hingga mangrove mampu beradaptasi secara alami dengan lingkungannya.
“Setelah diyakini mangrove itu tumbuh, akarnya menghujam, bisa memproduksi unsur hara, barulah dilepas secara mandiri,” jelas Syafril.
Ia juga menyoroti lemahnya evaluasi terhadap program penanaman mangrove yang telah dilakukan sebelumnya.
“Selama ini yang saya lihat, tidak ada evaluasi. Berapa yang tumbuh, berapa yang mati, itu tidak pernah dihitung,” ujarnya.
Ratusan KK Terancam Banjir Rob
Sementara itu, ancaman banjir rob akibat kenaikan muka air laut masih menghantui wilayah pesisir Kecamatan Ampenan, Kota Mataram.
Berdasarkan catatan Pemerintah Kecamatan Ampenan, pada November 2025 lalu diperkirakan sekitar 500 Kepala Keluarga (KK) terancam terdampak banjir rob, terutama saat musim hujan dan bulan purnama.
Camat Ampenan, Muzakkir Walad, menyebutkan bahwa dampak paling berat dirasakan warga yang bermukim di kawasan tanah GG (governor ground) atau tanah milik negara di sempadan pantai.
“Dampak terberat dirasakan oleh warga yang memang bermukim di daerah tanah GG atau sempadan pantai. Dan memang tidak sebagai wilayah yang harus diganti kerugiannya, karena mereka sudah lama diperingatkan untuk tidak membangun di sana,” ujar Muzakkir, Senin (17/11/2025).
Ia menambahkan, peringatan serta perencanaan penataan kawasan pesisir tersebut sebenarnya telah dilakukan sejak 2016. Berdasarkan data kecamatan, terdapat 364 KK di Ampenan yang masuk kategori berisiko tinggi terhadap banjir rob.
(*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/lombok/foto/bank/originals/Kondisi-rumah-warga-di-Kelurahan-Bintaro-Ampenan-rusak-akibat-abrasi.jpg)