Kenaikan Muka Air Laut NTB
Mangrove dan Terumbu Karang Dinilai Kunci Lindungi Pesisir Mataram
Pakar UMMAT mendesak solusi alami melalui pemulihan ekosistem mangrove dan terumbu karang guna mengatasi abrasi di pesisir Mataram.
Ringkasan Berita:
- Pakar UMMAT mendesak solusi biologi melalui pemulihan ekosistem mangrove dan terumbu karang yang disertai pemeliharaan guna mengatasi abrasi di pesisir Kota Mataram.
- Upaya ini menjadi krusial mengingat ratusan kepala keluarga di Ampenan kini terancam banjir rob akibat kenaikan muka air laut yang terus menggerus daratan.
TRIBUNLOMBOK.COM, MATARAM - Dosen Magister Ilmu Lingkungan Universitas Muhammadiyah Mataram (UMMAT), Dr. Syafril mendorong pemulihan fungsi alami pesisir melalui penguatan ekosistem mangrove dan terumbu karang untuk melindungi pesisir panatai Kota Mataram.
Hal itu diungkapkannya menyusul fenomena abrasi dan kenaikan muka air yang terus menggerus wilayah ibu kota Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) itu.
Menurut Syafril, ancaman abrasi dan penyusutan daratan tidak dapat diatasi hanya dengan pendekatan teknis semata. Ia menilai, pembangunan fisik seperti tembok atau talud pantai perlu diimbangi dengan solusi berbasis ekologi.
“Upaya yang dilakukan tidak bisa hanya tindakan teknis fisik, seperti membuat tembok atau talud di pinggir pantai,” tegas Syafril dalam sesi forum Ngobrol Para Ilmuan (Ngopi) di UIN Mataram Kamis (15/1/2026).
Ia mendorong pemulihan fungsi alami pesisir melalui penguatan ekosistem mangrove dan terumbu karang yang berperan sebagai pelindung alami pantai.
“Harus ada upaya biologi, yaitu mengembalikan fungsi mangrove di wilayah pantai, dan juga memelihara terumbu karang,” jelasnya.
Syafril mengakui bahwa pendekatan ekologi membutuhkan waktu dan konsistensi, namun dinilai jauh lebih efektif dan berkelanjutan dalam jangka panjang.
Kritik Program Tanam Tanpa Pemeliharaan
Dalam kesempatan tersebut, Dr. Syafril juga mengkritik pola program rehabilitasi pesisir yang selama ini dinilai hanya berfokus pada kegiatan penanaman tanpa diikuti pemeliharaan dan evaluasi.
“Program menanam itu menurut saya tidak cukup. Harus diikuti dengan pemeliharaan,” ujarnya.
Ia menegaskan, mangrove yang ditanam tanpa perawatan berisiko mengalami kematian dini sehingga tujuan rehabilitasi tidak tercapai.
“Mangrove itu kalau tidak dipelihara akan mengalami kematian prematur. Percuma kita menanam dua ribu atau seratus ribu mangrove, tapi berapa yang benar-benar tumbuh?” tegasnya.
Syafril bahkan menyarankan perubahan paradigma dalam pengelolaan anggaran rehabilitasi lingkungan.
“Lebih baik anggaran seratus ribu itu dibagi, lima puluh ribu untuk penanaman dan lima puluh ribu untuk pemeliharaan,” katanya.
Baca juga: Analisis Satelit Ungkap Garis Pantai Pesisir Mataram Menyusut hingga 15 Meter
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/lombok/foto/bank/originals/Kondisi-rumah-warga-di-Kelurahan-Bintaro-Ampenan-rusak-akibat-abrasi.jpg)