Kamis, 16 April 2026
NTB Makmur Mendunia
NTB Makmur Mendunia

Kenaikan Muka Air Laut NTB

NTB Dikepung Kenaikan Air Laut, Ahli Ingatkan Risiko Pesisir Tenggelam

Kenaikan air laut akan memperluas potensi banjir karena air sungai tidak bisa mengalir ke laut, terutama saat intensitas hujan tinggi.

Editor: Sirtupillaili
TRIBUNLOMBOK.COM/Dzul Fikri
DISKUSI - Pakar ilmu kebumian UIN Mataram M Irwan PhD (tengah) berbicara saat diskusi pada forum Ngopi di LP2M UIN Mataram, Kamis (15/1/2026). Hadir pula Kepala Bappeda NTB Baiq Nelly Yuniarti (kanan) dan Plt. Kalak BPBD Kota Mataram Ahmad Muzakki (kiri). 

Ringkasan Berita:
  • Pakar memprediksi tahun 2050, ketinggian air laut bisa meningkat hingga 1 meter
  • Daerah pariwisata berpotensi terdampak bila tidak segera diantisipasi.
  • Diperlukan upaya biologis seperti mengembalikan fungsi mangrove dan terumbu karang untuk mencegah abrasi.

TRIBUNLOMBOK.COM, MATARAM - Para ilmuwan di Universitas Islam Negeri (UIN) Mataram menyoroti ancaman serius kenaikan permukaan air laut yang mulai menenggelamkan wilayah pesisir Nusa Tenggara Barat (NTB)

Hal ini diungkapkan dalam forum diskusi "Ngopi" alias Ngorol Para Ilmuan, yang berlangsung, di ruang terbuka gedung LP2M UIN Mataram, pada Kamis 15 Januari 2026. 

Ilmuan yang hadir dalam diskusi ini antara lain M. Irwan, Ph.D, pakar Ilmu Kebumian dan Perubahan Iklim UIN Mataram, Dr. Syafril - Dosen Magister Ilmu Lingkungan, Universitas Muhammadiyah Mataram, dan Dr Agus, M.Si, pakar kebijakan publik NTB.

Para pakar memprediksi tahun 2050, ketinggian air laut bisa meningkat hingga satu meter, yang berisiko melumpuhkan sektor pariwisata dan ekonomi daerah. 

Beberapa masalah utama diidentifikasi dalam forum ini, meliputi buruknya tata kelola sampah, deforestasi yang memicu banjir bandang, serta kurangnya kesadaran lingkungan di masyarakat. 

Sehingga dibutuhkan kebijakan tegas dan regulasi tata ruang yang ketat guna memitigasi dampak perubahan iklim yang ekstrem. 

Solusi yang ditawarkan mencakup langkah teknis seperti penanaman hutan mangrove dan pembangunan hunian vertikal untuk mengurangi penggunaan lahan pesisir. 

Para ilmuan juga menekankan pentingnya kolaborasi lintas sektor serta perubahan perilaku manusia demi menjaga kelestarian alam di masa depan.

Baca juga: EKSKLUSIF - Daratan Mataram Mulai Tenggelam: Kisah Mereka yang Rumahnya Digulung Ombak

Data kenaikan muka air laut

Dalam pemaparannya, M. Irwan, PhD menjelaskan, kenaikan muka air laut merupakan ancaman nyata bagi sektor pariwisata yang merupakan bisnis utama di NTB.

Berdasarkan hasil perhitungan dan simulasi, kenaikan air laut mulai signifikan sejak tahun 2000. 

Ia memperkirakan pada tahun 2050 kenaikan akan mencapai 1 meter, dan jika seluruh es di kutub mencair, kenaikan secara global bisa mencapai 2 meter.

"Jadi kita sudah mengestimasi akan semakin meluas daerah yang akan tenggelam," katanya.

Beberapa daerah yang terancam tenggelam meliputi kawasan gili, pesisir pantai barat dan selatan, Mataram, serta Mandalika.

Kenaikan air laut akan memperluas potensi banjir karena air sungai tidak bisa mengalir ke laut, terutama saat intensitas hujan tinggi. Hal ini diperparah oleh fenomena iklim ekstrem dan peningkatan penguapan (evaporasi) akibat tingginya konsentrasi karbon dioksida (CO2) di atmosfer.

Masyarakat belum merasa terancam

lihat fotoEKOLOGI - Dr Syafil, dosen Magister Ilmu Lingkungan, Universitas Muhamadiyah Mataram saat berbicara dalam forum diskusi Ngopi (Ngobrol para ilmuan) di LP2M UIN Mataram, Kamis (15/1/2026).
EKOLOGI - Dr Syafil, dosen Magister Ilmu Lingkungan, Universitas Muhamadiyah Mataram saat berbicara dalam forum diskusi Ngopi (Ngobrol para ilmuan) di LP2M UIN Mataram, Kamis (15/1/2026).

Irwan mencatat bahwa banyak warga, seperti di Mataram, belum merasa terancam karena belum terdampak secara langsung. Akibatnya, masyarakat cenderung tidak peduli terhadap upaya mitigasi.

Sumber: Tribun Lombok
Halaman 1/2
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved