Program NACL Mataram: Nelayan Bisa Menabung dari Hasil Menangkap Sampah di Laut
Pembentukan kelompok pengolahan hasil laut membantu nelayan dan istri nelayan menciptakan produk olahan, guna meningkatkan harga jual.
Ringkasan Berita:
- Pembentukan kelompok pengolahan hasil laut membantu nelayan dan istri nelayan menciptakan produk olahan (camilan ikan, pemindangan) guna meningkatkan harga jual dan menghindari permainan harga oleh tengkulak.
- Nelayan kini memiliki buku tabungan hasil menjual sampah plastik yang dipungut dari laut ke Bank Sampah, sebuah inovasi yang berhasil mengumpulkan 46 ton sampah dalam setahun dan meraih penghargaan nasional.
TRIBUNLOMBOK.COM, MATARAM – Pemerintah Kota Mataram terus memperkuat ketahanan ekonomi masyarakat pesisir melalui diversifikasi penghasilan dan pelestarian ekosistem.
Langkah ini diambil untuk mengatasi fluktuasi harga ikan yang kerap dimainkan oleh tengkulak serta mengantisipasi berkurangnya hasil tangkapan akibat kerusakan lingkungan.
Camat Ampenan, Muzakir Walad, menjelaskan bahwa saat ini nelayan tidak boleh hanya bergantung pada hasil tangkapan harian mentah yang harganya rentan "dibanting" oleh pemilik cold storage atau tengkulak.
Untuk meningkatkan nilai jual, pemerintah membentuk Kelompok Pengolahan dan Pemasaran Hasil Perikanan (Poklasar).
Wadah ini memfasilitasi pengolahan ikan menjadi produk bernilai ekonomi tinggi, seperti ikan kering untuk camilan hingga proses pemindangan.
"Pengolahan hasil ini memberikan kontribusi luar biasa bagi penghasilan nelayan, terutama para istri nelayan. Mereka tidak harus menjual ikan hari itu juga dengan harga murah, tapi bisa mengolahnya agar lebih awet dan bernilai tinggi," ujar Muzakir Wala, dalam Podcast yang tayang, Kamis (30/4/2026).
Inovasi ini menjadi keran penghasilan kedua yang sangat krusial, terutama saat musim angin barat ketika nelayan tidak bisa melaut.
Selain sektor pengolahan, Wali Kota Mataram, H. Mohan Roliskana, menginisiasi program inovatif bernama NACL (Nelayan Andalan Cinta Laut).
Program ini mengajak nelayan untuk tidak hanya menangkap ikan, tetapi juga memungut sampah plastik di tengah laut.
"Program NACL ini adalah integrasi antara mencari nafkah dengan menjaga ekosistem. Sampah plastik yang dibawa nelayan dari laut akan ditimbang di Bank Sampah," jelas Muzakir.
Hasil penjualan sampah tersebut langsung masuk ke dalam buku tabungan masing-masing nelayan. Tercatat dalam setahun terakhir, program ini berhasil mengumpulkan hampir 46 ton sampah plastik dari laut.
Berkat inovasi ini, Wali Kota Mataram meraih penghargaan nasional dari Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) di Surabaya dalam kategori Kepala Daerah dengan perhatian penuh terhadap ekosistem laut.
Di sisi lain, potensi pariwisata pesisir juga terus dikembangkan melalui destinasi berbasis konservasi. Kehadiran penangkaran penyu di wilayah Mapak dan Pantai Cantik Sekarbela kini menjadi daya tarik baru bagi wisatawan yang berkunjung ke pesisir Mataram.
"Tujuannya adalah keseimbangan. Jika nelayan ingin hasil tangkapan melimpah, ekosistemnya harus dijaga. Inilah edukasi dan perubahan paradigma yang sedang kita bangun bersama masyarakat nelayan kita," pungkasnya.
Baca juga: Wajah Baru Pantai Ampenan 2026: Dari Pusat Kuliner Seafood hingga Amfiteater Megah
| Wajah Baru Pantai Ampenan 2026: Dari Pusat Kuliner Seafood hingga Amfiteater Megah |
|
|---|
| Dilema Pesisir Ampenan 2026: Alat Makin Canggih, Hasil Tangkapan Justru Menipis |
|
|---|
| Optimalkan Potensi Pesisir, Mataram Komitmen Ikuti Penganugerahan Bidang Kelautan dan Perikanan |
|
|---|
| Wujudkan Ekonomi Biru, Pemkot Mataram Tata Kawasan Pesisir Jadi Pusat Wisata Kuliner dan Bahari |
|
|---|
| Banjir Rob Terjang Bintaro Ampenan, 5 Rumah Rusak dan Akses Jalan Amblas |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/lombok/foto/bank/originals/NelayanTangkapKuranji.jpg)