Berita Sumbawa Barat

Pemda Sumbawa Barat Adakan SSGI untuk Mengetahui Status Gizi Balita

Untuk mengetahui status gizi balita, pemerintah Kabupaten Sumbawa Barat bulan November ini akan menggelar Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) 2024

Penulis: Rozi Anwar | Editor: Idham Khalid
pixabay.com
Ilustrasi bayi makan 

Laporan Wartawan TribunLombok.com, Rozi Anwar 

TRIBUNLOMBOK.COM, SUMBAWA BARAT - Pemerintah Kabupaten Sumbawa Barat akan menggelar Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) tahun 2024 untuk mengetahui status gizi balita daerah itu.

Program tersebut direncanakan terlaksana pada bulan November ini,  dengan PT Sucofindo ditunjuk untuk melakukan survei.

"Lembaga pelaksananya sudah kita tunjuk PT Sucofindo. Dan mereka sedang bersiap melaksanakan survei," kata Kepala Dinas Pengendalian Penduduk Keluarga Berencana Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DP2KBP3A) KSB, Agus Purnawan saat ditemui pada Senin (11/11/2024)

Agus melanjutkan, SSGI ini merupakan kegiatan yang sangat penting untuk memantau perkembangan status gizi masyarakat. Terutama status gizi anak balita yang mana salah satu implikasinya terhadap stunting. 

"Dari hasil SSGI kita bisa lihat kemudian apakah keakuratan data kita atas hasil intervensi stunting sudah sesuai atau tidak," ucapnya.

Berdasarkan data Elektronik Pencatatan dan Pelaporan Gizi Berbasis Masyarakat (EPPGBM) per Agustus 2024, angka stunting pada anak KSB sebesar 7,37 persen atau 880 anak dalam angka kognitif.

Baca juga: Cegah Stunting, ITDC Gelar Demo Masak dan Edukasi Gizi di Desa Prabu

Menurut Agus, harapannya dari hasil SSGI nanti rentang (gap) angka capaiannya tidak terlalu jauh dari EPPGBM tersebut. Dengan begitu menandakan pencatatan dan upaya intervensi pemerintah terhadap kondisi stunting terhadap anak telah tepat.

"Kita kan sudah pegang angka 7,37 berdasarkan EPPGBM. Nah semakin kecil gap-nya artinya data kita makin valid. Dan kalau bicara target, harapan kita di 1 atau 2 persen sajalah karena tahun lalu di angka 2,9 persen," ujar Agus.

Dada tahun 2023 lalu lanjutnya, KSB menjadi daerah dengan angka stunting terendah dan gap EPPGBM paling kecil dengan hasil SGSGI. 

"Mudah-mudahan tahun ini seperti itu lagi," singkatnya 

Ikhwal upaya penurunan stunting tahun ini. Agus mengakui, trendnya terjadi perlambatan dari tahun-tahun sebelumnya. Di mana hingga Agustus 2024 ini angka penurunannya hanya berkisar 0,6 persen dari 7,64 persen menjadi 7,37 persen. 

"Tapi mungkin itu angka kerak sehingga perlu intervensi lebih maksimal untuk penanganannya," pungkasnya.

(*)

Sumber: Tribun Lombok
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved