Opini
Urgensi Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama di Lombok
Penyelenggaraan Muktamar NU di Lombok memiliki urgensi yang sangat fundamental dalam rangka memperkuat dan memperluas pengaruh nilai moderasi Islam.
Sejarah kehadiran organisasi Nahdlatul Ulama secara formal di Lombok dimulai pada tahun 1930-an melalui mandat langsung dari Rais Akbar Hadratusy Syaikh Hasyim Asy'ari. Penunjukan Syaikh Abdul Manan sebagai Konsul NU pertama di wilayah ini menandai dimulainya pengorganisasian ulama tradisional yang sangat sistematis di wilayah Nusa Tenggara.
Peran strategis ulama keturunan Arab tersebut kemudian dilanjutkan oleh tokoh-tokoh karismatik seperti Tuan Guru Faisal yang memiliki hubungan sangat takzim dengan tokoh-tokoh nasional seperti KH Abdurrahman Wahid. Hubungan harmonis antara ulama lokal dan pusat selama puluhan tahun ini menunjukkan bahwa Lombok telah lama menjadi basis pertahanan ideologi organisasi yang sangat loyal. Penempatan Muktamar ke-35 NU di Lombok merupakan bentuk apresiasi tertinggi atas loyalitas serta dedikasi para ulama Sasak dalam menjaga panji Nahdlatul Ulama di wilayah timur Nusantara.
Hubungan antara Nahdlatul Ulama dan Nahdlatul Wathan sebagai organisasi lokal terbesar di Nusa Tenggara Barat juga menjadi alasan sosiologis yang sangat kuat. Meskipun keduanya memiliki struktur organisasi yang berbeda, namun secara ideologis kedua lembaga ini berada dalam satu napas perjuangan Ahlussunnah wal Jama'ah. Pendiri Nahdlatul Wathan, Tuan Guru Kyai Haji Muhammad Zainuddin Abdul Madjid, tercatat pernah memimpin Nahdlatul Ulama di wilayah Sunda Kecil pada masa awal kemerdekaan.
Kesamaan mazhab Syafi'i dalam bidang fiqih serta Asy'ariyah dalam bidang akidah menciptakan harmoni sosial yang sangat stabil di tengah masyarakat. Dukungan penuh dari keluarga besar Nahdlatul Wathan terhadap rencana penyelenggaraan Muktamar ke-35 NU merupakan sinyal positif bagi terciptanya persatuan ulama di tingkat nasional. Sinergi antara organisasi nasional dan lokal ini akan menjadi contoh nyata bagi daerah lain dalam membangun ekosistem dakwah yang kondusif.
Secara geopolitik organisasi, Lombok dipandang sebagai daerah yang paling netral di luar Pulau Jawa untuk menyelenggarakan forum sebesar Muktamar NU. Kondisi politik internal Pengurus Besar Nahdlatul Ulama yang sempat mengalami dinamika ketegangan memerlukan suasana pendingin yang tidak terpengaruh oleh faksi-faksi dominan di tanah Jawa.
Kesepakatan islah yang terjadi di Pondok Pesantren Lirboyo pada akhir tahun 2025 memberikan mandat untuk segera melaksanakan Muktamar NU dalam suasana yang damai dan bermartabat. Lombok menawarkan atmosfer yang tenang dengan dukungan masyarakat yang sangat ramah serta infrastruktur pariwisata yang sangat memadai. Keberadaan tokoh sepuh seperti Tuan Guru Haji Lalu Turmuzi Badaruddin atau Datok Bagu sebagai figur jangkar memberikan jaminan moral bagi kesuksesan acara tersebut. Beliau merupakan simbol kearifan yang mampu menyatukan berbagai perbedaan pandangan di dalam tubuh organisasi.
Urgensi penyelenggaraan di Lombok juga berkaitan erat dengan visi organisasi dalam menyongsong abad kedua eksistensinya. Nahdlatul Ulama harus berani melangkah lebih jauh dari sekadar organisasi nasional menjadi kekuatan peradaban global yang diperhitungkan dunia. Dengan mengadakan Muktamar ke-35 NU di wilayah yang dikenal sebagai negeri seribu masjid, organisasi ini sedang mengirimkan pesan diplomasi internasional tentang model Islam yang damai dan toleran.
Tema-tema strategis seperti penguatan ekonomi kerakyatan melalui koperasi serta pemberdayaan usaha mikro, kecil, dan menengah dapat diimplementasikan secara nyata di tengah masyarakat agraris dan pariwisata Lombok. Muktamar NU di Lombok sangat berpotensi dapat menghasilkan rekomendasi konkret yang mampu menjawab tantangan transformasi digital tanpa meninggalkan akar tradisi pesantren. Transformasi pendidikan pesantren yang adaptif terhadap zaman harus menjadi prioritas utama agar kader nahdliyin mampu bersaing di kancah global.
Penyelenggaraan Muktamar ke-35 NU di Lombok juga dapat menjadi pesan yang jelas terkait keberpihakan dan komitmen kuat NU dalam pengentasan kemiskinan dan pemutusan garis kesenjangan kesejahteraan. Komitmen sejalan dengan misi organisasi untuk hadir sebagai solusi bagi kesejahteraan umat melalui program pembangunan ekonomi inklusif.
Selain aspek ekonomi, Muktamar ini juga akan memperkuat semangat nasionalisme serta kedaulatan wilayah di daerah-daerah luar Jawa. Pesan tentang finalitas Negara Kesatuan Republik Indonesia dan Pancasila akan bergema lebih keras ketika disuarakan dari bumi Lombok yang memiliki sejarah perlawanan panjang terhadap kolonialisme. Heroisme para ulama dalam Babad Praya menunjukkan bahwa semangat bela negara telah lama menyatu dengan ajaran agama di tanah Lombok.
Keterhubungan antara Jawa dan Lombok melampaui jarak geografis karena kedekatan hati serta kesamaan visi peradaban. Fakta bahwa aksara, bahasa, dan ritual keagamaan di Jawa dan Lombok memiliki akar yang sama tidak boleh dianggap sebagai kebetulan sejarah semata. Hal tersebut merupakan garis takdir yang menempatkan Lombok sebagai penyangga utama peradaban Islam di wilayah timur Indonesia yang harus segera diberikan panggung nasional melalui Muktamar ke-35 NU.
Saya meyakini bahwa kesuksesan perhelatan Muktamar ke-35 NU di Lombok, nantinya akan menjadi standar baru bagi penyelenggaraan forum-forum tingkat tinggi organisasi di masa depan yang lebih inklusif dan tidak terpusat. Nahdlatul Ulama sedang melakukan desentralisasi peradaban yang akan memperkuat struktur organisasi hingga ke tingkat ranting di seluruh pelosok negeri. Dengan dukungan penuh dari pemerintah daerah serta organisasi keagamaan lain di wilayah Nusa Tenggara Barat, Muktamar ke-35 NU dipastikan akan menjadi muktamar paling damai dan produktif sepanjang sejarah.
Rekonsiliasi nasional serta penguatan basis ideologi Aswaja akan menjadi hasil utama yang akan dibawa pulang oleh para kiai dan delegasi ke daerah masing-masing. Harapan besar ini digantungkan pada keberanian para pemimpin organisasi di Jakarta untuk segera menetapkan Lombok sebagai tuan rumah resmi dalam forum Konferensi Besar nantinya.
Penyelenggaraan Muktamar ke-35 NU di Lombok merupakan bentuk nyata dari penerapan prinsip rahmatan lil alamin dalam konteks pembangunan nasional yang berkeadilan. Nahdlatul Ulama menunjukkan bahwa setiap jengkal tanah di Nusantara memiliki nilai strategis yang sama dalam memajukan peradaban umat manusia. Karena itu, urgensi Muktamar ke-35 NU di Lombok adalah tentang bagaimana menghormati masa lalu Jawa-Sasak yang gemilang sambil membangun jembatan menuju masa depan peradaban global.
Keputusan untuk melaksanakan Muktamar ke-35 NU di bumi Sasak lebih besar daripada hanya melihatnya sebagai pemilihan lokasi koordinat di peta, karena hal tersebut bernilai sebagai pemosisian diri dalam arus sejarah yang benar. Kekuatan literasi naskah Babad, legitimasi mandat dari Hadratusy Syaik Hasyim Asy'ari, hingga semangat islah Lirboyo semuanya menunjuk ke satu arah, yaitu Lombok.
(*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/lombok/foto/bank/originals/Nahdatul-Ulama.jpg)