Wisata NTB
Makam Tolobali: Pusara Sultan, Pejuang dan Penyebar Agama Islam di Bima
Makam Tolobali di Kota Bima adalah destinasi wisata sejarah yang menjadi tempat peristirahatan terakhir bagi tiga Sultan Bima.
Ringkasan Berita:
- Makam Tolobali di Kota Bima adalah destinasi wisata sejarah yang menjadi tempat peristirahatan terakhir bagi tiga Sultan Bima.
- Nama Tolobali berasal dari bahasa Bima, Tolo Ra Bali (sawah yang dikembalikan), merujuk pada tanah yang dulunya diberikan Sultan kepada ulama namun dikembalikan karena kesulitan bercocok tanam.
TRIBUNLOMBOK.COM, BIMA - Kompleks Makam Tolobali yang terletak di Kota Bima merupakan salah satu destinasi wisata sejarah dan religi yang wajib dikunjungi.
Nama Tolobali sendiri berasal dari frasa Bima, Tolo Ra Bali, yang berarti sawah yang dikembalikan.
Sejarawan Bima, Alan Malingi, menjelaskan asal-usul unik dari lokasi kompleks makam ini.
Dikisahkan, kawasan ini awalnya adalah tanah persawahan yang diberikan oleh Sultan Bima kepada para ulama dan mubalig.
Namun, karena para pemuka agama tersebut tidak memiliki keahlian dalam bercocok tanam, tanah sawah itu akhirnya dikembalikan kepada Kesultanan.
Seiring waktu, area bekas persawahan ini bertransformasi menjadi kawasan permukiman padat dan di dalamnya berdiri kompleks pemakaman bersejarah.
Makam Tolobali menjadi aset penting bagi sejarah Kesultanan Bima karena di dalamnya terbaring tiga tokoh utama, yang dikenal sebagai kesatria, pejuang, sekaligus seniman Kesultanan.
Mereka adalah, Sultan Abdul Khair Sirajuddin: Sultan Bima kedua.
Sultan Nuruddin, putra dari Sultan Abdul Khair Sirajuddin, yang juga merupakan Sultan Bima ketiga.
Sultan Jamaluddin, putra dari Sultan Nuruddin, yang merupakan Sultan Bima keempat.
Selain para Sultan, kompleks ini juga menjadi tempat peristirahatan terakhir bagi para guru dan keturunan Melayu yang berjasa besar dalam penyebaran agama Islam di Bima, termasuk Syekh Umar Al Bantami, yang dikenal masyarakat setempat sebagai Sehe Banta dari Banten, ia merupakan guru dari Sultan Nuruddin.
Secara tata letak, makam di bagian paling timur diperkirakan merupakan pusara Sultan Nuruddin bersisian dengan gurunya, Syekh Umar Al Bantami (ditandai dua nisan).
Makam Sultan Abdul Khair Sirajuddin berada di bagian tengah, dan Makam Sultan Jamaluddin terletak di ujung barat.
Di luar area utama, terdapat 36 makam kuno lain, termasuk makam tokoh ulama Bima, Tuan Guru H.M. Said Amin BA (mantan Ketua MUI Kabupaten Bima) dan puteranya.
Makam Tolobali mudah diakses karena terletak di pusat Kota Bima, yakni di bagian utara, Kecamatan Asakota.
Pengunjung dapat menjangkaunya menggunakan kendaraan roda dua, mobil, atau menikmati perjalanan dengan benhur (cidomo).
Tidak ada protokol khusus yang dipersyaratkan bagi pengunjung yang ingin berziarah.
Secara arsitektur, bangunan utama makam ini terlihat mencolok di antara ratusan makam warga lainnya.
Bentuk atapnya menyerupai piramida, mengerucut ke atas, sementara bagian bawahnya berfungsi sebagai pembatas sekaligus pintu masuk.
Bangunannya tinggi besar dan memancarkan kesan kuno, menjadikannya penanda sejarah yang kontras dengan lingkungan sekitarnya.
Makam ini ramai dikunjungi, terutama saat bulan Ramadan dan hari raya, oleh warga, keturunan Sultan, dan para ulama untuk berziarah.B
| Wisatawan asal Malaysia Dominasi Kunjungan ke NTB Februari 2026 |
|
|---|
| Simfoni Gemericik Air dan Aroma Sate Bulayak di Tepian Sungai Aik Nyet Sesaot |
|
|---|
| Trekking Empat Jam Menuju Pesona Megah Air Terjun Tiu Sekeper |
|
|---|
| Lebih dari Sekadar Nama, Pantai Duduk Adalah Definisi Santai yang Sesungguhnya |
|
|---|
| Catatan Perjalanan: 5 Wisata di Lombok Tengah yang Bikin Selalu Ingin Kembali |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/lombok/foto/bank/originals/Makam-kuno-di-Bima.jpg)