Sabtu, 16 Mei 2026
NTB Makmur Mendunia
NTB Makmur Mendunia

Opini

Sasak, Bangsa Tanpa Jalan Keluar

Sebagai lembaga yang mengklaim diri berbasis orang Sasak, MAS tidak boleh berdiri sebagai hakim.

Tayang:
Editor: Sirtupillaili
Dok.Istimewa
ILUSTRASI - Joget Ale ale, salah satu tari seni kreasi tradisional yang berkembang dan digemari banyak masyarakat Suku Sasak di kampung-kampung. 

Padahal, masalah sosial dan budaya tidak bisa diselesaikan dengan kutukan. Tetapi diperlukan pemahaman mendalam atas konteks hidup rakyat. Selama para elit terus memandang masalah hanya dari menara normatif, bangsa Sasak akan terus menjadi bangsa tanpa jalan keluar.

Konsekuensi dari kebuntuan ini sangat besar. Pertama, masyarakat kehilangan kepercayaan terhadap elit. Sasak tidak memiliki tokoh sentral. Karena setiap kali masalah muncul, rakyat tahu bahwa yang akan datang hanyalah kutukan, bukan solusi. 

Kedua, kebudayaan terjebak dalam stagnasi. Jangankan bergerak dinamis menyesuaikan diri dengan realitas baru, kebudayaan Sasak membeku dalam wacana nilai adiluhung yang hanya diulang-ulang. 

Ketiga, generasi muda merasa tercerabut dari akar budaya yang relevan, karena setiap ekspresi baru yang mereka lahirkan selalu dicap sebagai penyimpangan. Situasi ini berpotensi menimbulkan alienasi. Generasi muda tidak lagi merasa bangga sebagai bagian dari budaya Sasak. Dalam masa yang sama, juga tidak memiliki ruang untuk menciptakan identitas baru.

Atas dasar itu, saya melihat bahwa Sasak adalah bangsa yang sibuk mengutuk masalah tanpa pernah menjadikannya peluang untuk melahirkan kebijaksanaan baru. Jalan keluar selalu buntu karena pandangan elitis dan normatif menutup kemungkinan lahirnya solusi alternatif. 

Bukan memperkaya budaya dengan inovasi dan invensi, masyarakat justru dikurung dalam penghakiman moral. Elit justru mempertebal jarak dengan rakyat bawah. Bukan memperkuat solidaritas sosial ruang, membangun tafsir, dan ekspresi seni-budaya baru. Akhirnya, bangsa Sasak justru terus-menerus dihadapkan pada rasa malu yang tak masuk akal dan kutukan membabi buta.

Dalam situasi apa pun, perkawinan di bawah umur, Ale-ale, dan nyongkolan tidak seharusnya dipandang hanya sebagai penyimpangan. Lebih konstruktif dan strategis dipandang sebagai cermin yang memperlihatkan kegelisahan sosial, kebutuhan rakyat bawah, dan dinamika budaya yang hidup. 

Dari sana, bangsa Sasak bisa merumuskan nilai baru yang lebih relevan, lebih arif, dan lebih berkeadilan.

Dengan begitu, bangsa Sasak bisa menemukan jalan keluar yang bukan sekadar larangan atau kutukan. Tetapi juga rekonstruksi kultural yang menggabungkan nilai yang masih relevan dengan kebutuhan baru. Dengan begitu, jalan keluar tidak hanya menguntungkan elit, namun sekaligus memberi ruang bagi rakyat bawah untuk bersuara. 

Jalan keluar seharusnya tidak sekadar menjaga kewibawaan elit, tetapi juga membangun kebijaksanaan kolektif. 


Malaysia, 20 Agustus 2025.

Sumber: Tribun Lombok
Halaman 3/3
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved