Selasa, 2 Juni 2026
NTB Makmur Mendunia
NTB Makmur Mendunia

BPJS Kesehatan

Manfaatkan Program JKN, Anak di Mataram Jalani Rawat Inap Gratis di RS Unram

Pande I Kadek Asta Raditya (4), seorang balita asal Cakranegara, Kota Mataram, terpaksa dilarikan ke Instalasi Gawat Darurat (IGD).

Tayang:
Editor: Laelatunniam
Istimewa
BPJS KESEHATAN - Warga Cakranegara pengguna layanan BPJS Kesehatan. 
Ringkasan Berita:
  • Pande I Kadek Asta Raditya (4), balita asal Cakranegara, Mataram, dirawat di RS Universitas Mataram akibat kambuhnya asma bronkial disertai batuk berdahak dan demam tinggi.
  • Seluruh biaya pengobatan dan rawat inap Raditya ditanggung Program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN), yang sangat membantu keluarganya dalam perawatan rutin.

TRIBUNLOMBOK.COM, MATARAM - Pande I Kadek Asta Raditya (4), seorang balita asal Cakranegara, Kota Mataram, terpaksa dilarikan ke Instalasi Gawat Darurat (IGD) Rumah Sakit Universitas Mataram (Unram) akibat kambuhnya penyakit asma bronkial yang disertai batuk berdahak dan demam tinggi, pada Rabu (18/2/2026).

Raditya dirujuk ke RS Unram setelah sebelumnya sempat mendapatkan penanganan medis di RS Bhayangkara.

Namun, karena kondisi sesak napas dan batuknya terus memburuk, tim medis memutuskan merujuk pasien ke fasilitas kesehatan yang memiliki peralatan lebih lengkap untuk pemantauan intensif.

Ayah kandung Raditya, I Komang Pande Suardika, menjelaskan bahwa putranya memang memiliki riwayat asma akut sejak bayi yang diduga karena faktor genetik. Selama ini, gejala ringan biasanya ditangani mandiri di rumah menggunakan alat penguap (nebulizer).

 
"Anak saya, Raditya, sebelumnya sempat dirawat di RS Bhayangkara. Namun, karena sesaknya belum membaik dan batuknya semakin keras, dokter merujuknya ke RS Unram agar mendapatkan penanganan dengan fasilitas yang lebih lengkap serta pemantauan intensif," ujar I Komang Pande Suardika, ayah Raditya yang bekerja sebagai anggota kepolisian, pada Rabu (18/02).

Sejak bayi, Raditya diketahui memiliki riwayat gangguan pernapasan yang diduga berkaitan dengan faktor keturunan. Saat kambuh, napasnya menjadi berat dan batuk tak kunjung reda. Kondisi ini membuatnya beberapa kali menjalani perawatan di Rumah Sakit Bhayangkara, bahkan hampir setiap tahun harus dirawat inap ketika keluhan tidak membaik dengan pengobatan biasa.

Secara medis, gangguan seperti asma bronkial merupakan penyakit yang kerap dipicu faktor genetik atau alergi dalam keluarga. Paparan debu, udara dingin, infeksi saluran pernapasan, hingga perubahan cuaca juga dapat memicu kambuhnya gejala. Peradangan dan penyempitan saluran napas akibat kondisi tersebut dapat menimbulkan batuk, mengi, dan sesak napas, terutama pada malam hari atau saat daya tahan tubuh menurun.

“Dari kecil memang asmanya sering kambuh. Kalau kambuh biasanya saya rawat di rumah, kebetulan di rumah juga ada alat nebulizer untuk asma. Namun, beberapa hari ini tidak kunjung membaik, mungkin karena batuk juga sehingga dahaknya susah keluar dan pada akhirnya saya bawa ke UGD,” ungkap Suardika.

Raditya masuk ke RS Unram pada malam hari dan hingga kini masih dalam pemantauan tim medis. Dokter memberikan terapi untuk membantu melegakan pernapasan, menurunkan demam, serta mengatasi infeksi yang menyertai.

Sebagai peserta Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) kelas 2 melalui Klinik Brimob, seluruh pelayanan kesehatan Raditya ditanggung oleh Program JKN. Kepesertaan BPJS Kesehatan telah dimanfaatkan sejak ia kecil untuk menangani keluhan sesak napas yang kerap kambuh. Suardika pun mengaku sangat terbantu dengan kehadiran JKN karena perawatan berulang dan rawat inap yang dijalani setiap tahun membutuhkan biaya yang tidak sedikit.

“Sejak kecil anak saya selalu pakai BPJS untuk berobat. Dengan adanya JKN, kami tidak mengeluarkan biaya sama sekali. Sekarang Raditya masih menjalani perawatan. Kami berharap kondisinya segera membaik sehingga ia dapat kembali beraktivitas seperti biasa,” ucapnya.
 

Sumber: Tribun Lombok
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved