Indonesia Kini Bisa Membaca Dasar Lautnya Sendiri dengan Kehadiran KRI Canopus-936
KRI Canopus-936 dibangun melalui kolaborasi tiga tahun antara PT Palindo Marine dari Indonesia dan Abeking & Rasmussen dari Jerman.
Ringkasan Berita:
- KRI Canopus-936 dibangun melalui kolaborasi tiga tahun antara PT Palindo Marine dari Indonesia dan Abeking & Rasmussen dari Jerman.
- Kini, dengan panjang 105 meter dan kemampuan beroperasi hingga 60 hari tanpa henti, KRI Canopus-936 siap memulai tugasnya membaca laut Indonesia dari permukaan hingga kedalamannya yang paling sunyi.
TRIBUNLOMBOK.COM — Indonesia adalah salah satu negara dengan wilayah laut terluas dan terdalam di dunia namun tidak memiliki kemampuan untuk membaca lautnya sendiri secara mandiri hingga ke lapisan paling dalam.
Namun hari ini, Indonesia kedatangan Kapal Republik Indonesia (KRI) Canopus-936 di Dermaga Kolinlamil, Tanjung Priok, Jakarta Utara, Senin (11/5/2026).
Kapal tersebut berlayar dari Jerman menuju Indonesia selama hampir dua bulan, disambut pesawat udara Casa 212-200 MPA P-8202 milik Wing Udara 1 TNI AL saat memasuki perairan Indonesia pada Rabu (6/5/2026), serta KRI Bung Tomo-357 di perairan Selat Sunda.
KRI Canopus-936 merupakan kapal bantu hidro-oseanografi tercanggih yang kini dimiliki TNI Angkatan Laut, dibangun oleh galangan Abeking & Rasmussen Jerman bekerja sama dengan PT Palindo Marine Indonesia.
Kapal hidro-oseanografi sepanjang 105 meter yang dirancang dan dibangun selama tiga tahun di galangan Abeking & Rasmussen, Jerman, itu memiliki kemampuan pemetaan dasar laut hingga kedalaman 11.000 meter.
Baca juga: Tiga Prajurit TNI Gugur di Lebanon Dalam Rentang Waktu 24 Jam
Hal ini membuat Indonesia kini bisa secara mandiri memetakan baharinya tanpa bergantung pada data asing.
Indonesia memiliki laut dalam seperti Palung Banda di Laut Banda mencapai kedalaman lebih dari 7.200 meter.
Tak hanya itu, Laut Sulawesi juga memiliki kedalaman 6.200 meter.
Selama ini, peta bawah laut Indonesia dalam resolusi tinggi sebagian besar dihasilkan oleh kapal riset asing dari lembaga oseanografi Amerika Serikat, Jepang, hingga negara-negara Eropa yang beroperasi di perairan Indonesia berdasarkan perjanjian riset bilateral.
Data yang dihasilkan tidak selalu sepenuhnya menjadi milik Indonesia.
Teknologi Dua Alat Tanpa Awak
Jantung kemampuan KRI Canopus-936 terletak pada dua sistem utama yang dibawanya antara lain Autonomous Underwater Vehicle (AUV) dan Remotely Operated Vehicle (ROV).
Dua perangkat eksplorasi bawah laut itu bekerja dengan cara berbeda namun saling melengkapi.
AUV adalah robot bawah air tanpa awak yang beroperasi secara mandiri menggunakan sistem komputer, navigasi, dan sensor internal.
Tanpa kabel, tanpa kendali langsung manusia, AUV mampu menjelajahi wilayah laut dalam secara otonom memetakan kontur dasar laut, mengukur suhu, salinitas, dan arus, serta mendeteksi anomali bawah permukaan.
ROV bekerja dengan prinsip serupa, namun tetap terhubung melalui kabel ke kapal induk.
| Temuan Benda Asing di Perairan Gili Trawangan, Label CSIC Mirip Perusahaan China Jadi Sorotan |
|
|---|
| Profil KRI Semarang, Alutsista TNI AL yang Kini Sedang Menjalankan Tugas di Lombok |
|
|---|
| KRI Semarang Tiba di Lombok, Masyarakat Bisa Kunjungan ke Kapal Mulai Besok |
|
|---|
| Belasan Warga di NTB Jadi Korban Penipuan Lolos Seleksi Anggota TNI AL Tanpa Tes |
|
|---|
| Detik-detik TNI AL Buntuti Kapal Kayu Pengangkut Etnis Rohingya yang Diduga Korban TPPO |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/lombok/foto/bank/originals/KRI-Canopus-936-tiba-di-Dermaga-Kolinlamiljpg.jpg)