Selasa, 5 Mei 2026
NTB Makmur Mendunia
NTB Makmur Mendunia

Berita Lombok Timur

Lampu Merah di Simpang Empat Rempung Mati, Pengendara Waswas

Pengendara mulai khawatir lonjakan risiko kecelakaan di jalan raya yang menghubungkan Masbagik menuju Labuhan Lombok

Tayang:
Penulis: Rozi Anwar | Editor: Wahyu Widiyantoro
TRIBUNLOMBOK.COM/Rozi Anwar
SIMPANG JALAN - Suasana simpang empat Rempung, Kecamatan Pringgasela, Lombok Timur yang tanpa pengaturan karena lampu lalu lintas mati, pada Senin (4/5/2026). Pengendara mulai khawatir lonjakan risiko kecelakaan di jalan raya yang menghubungkan Masbagik menuju Labuhan Lombok. 

Ringkasan Berita:
  • Pengendara mulai khawatir lonjakan risiko kecelakaan di jalan raya yang menghubungkan Masbagik menuju Labuhan Lombok.
  • Arus kendaraan yang padat tanpa kendali sinyal visual kerap menyebabkan kemacetan dan meningkatkan potensi kecelakaan.

Laporan Wartawan TribunLombok.com, Rozi Anwar 

TRIBUNLOMBOK.COM, LOMBOK TIMUR - Lampu pengaturan lalu lintas di persimpangan jantung jalur wisata dan logistik Lombok Timur padam total. 

Ratusan pengendara setiap harinya mengeluhkan kondisi lampu lalu lintas yang mati selama dua pekan terakhir di simpang empat Rempung, Kecamatan Pringgasela, Kabupaten Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat (NTB).

Pengendara mulai khawatir lonjakan risiko kecelakaan di jalan raya yang menghubungkan Masbagik menuju Labuhan Lombok dan Pringgasela menuju Kota Selong ini.

Bagi para pengguna jalan, ketiadaan lampu merah di perempatan itu bukan sekadar gangguan, melainkan ancaman nyata. 

Terlebih, lokasi ini merupakan jalur utama pariwisata menuju kawasan Sembalun sekaligus jalur vital truk-truk bermuatan logistik yang menuju Pelabuhan Kayangan.

Baca juga: Pemuda Lombok Timur Minta Hadiah Lomba Lampu Hias Dialihkan ke Dana Pembinaan

"Sudah dua minggu lampu ini mati total," keluh, seorang tukang ojek Patur Putra (32) saat ditemui saat mangkal di tepian simpang empat pada Senin (4/5/2026).

Sembari menunggu penumpang, matanya tak lepas dari lalu-lalang kendaraan yang saling potong jalur. 

Ia mengaku kendaraan biasanya setiap pagi dan sore pengendara motor dan mobil ramai berkendara.

"Pagi dan sore biasanya cukup ramai. Ini kan jalan menuju daerah wisata, tapi juga dilewati truk-truk besar menuju Kayangan," ujar Patur.

Kekhawatiran serupa juga dirasakan Dani Iskandar (28), pengendara harian jalur tersebut menambahkan, tanpa lampu, etika berlalu lintas seolah lenyap. 

Beberapa pengendara justru saling memacu diri untuk mendahului, yang enggan mengalah.

"Agak khawatir juga, kadang tidak ada yang mau mengalah, semuanya saling mendahului. Kalau lampu stop mati kan bahaya. Ini bisa menjadi pemicu kecelakaan lalu lintas," tambah Dani.

Tak hanya menyulitkan, namun kondisi ini dinilai telah mengabaikan aspek keselamatan dasar di jalan raya. 

Arus kendaraan yang padat tanpa kendali sinyal visual kerap menyebabkan kemacetan singkat dan hampir terjadi tabrakan dari empat penjuru simpang ini.

Sumber: Tribun Lombok
Halaman 1/2
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved