Berita NTB
NTB Siapkan Strategi Oplah Hadapi Prediksi Kemarau Ekstrem
Pemprov NTB siapkan sumur bor dan distribusi air untuk hadapi kemarau 2026 yang diprediksi lebih kering.
Penulis: Robby Firmansyah | Editor: Idham Khalid
Ringkasan Berita:
- Pemprov NTB siapkan sumur bor dan distribusi air untuk hadapi kemarau 2026 yang diprediksi lebih kering.
- Optimalisasi lahan dan perbaikan irigasi dilakukan untuk menjaga produksi pangan tetap stabil.
Laporan Wartawan TribunLombok.com, Robby Firmansyah
TRIBUNLOMBOK.COM, MATARAM - Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) mulai menyiapkan langkah mitigasi menghadapi musim kemarau tahun 2026 yang diprediksi lebih kering dan panjang dibanding tahun-tahun sebelumnya.
Gubernur NTB, Lalu Muhamad Iqbal menyampaikan sejak beberapa bulan lalu Badan Penanggulan Bencana Daerah (BPBD) sudah menyiapkan langkah mitigasi, yakni dengan menyiapkan sumur bor di wilayah rawan kekeringan dan mobil tangki untuk pendistribusian air bersih nantinya.
"Sumur bor, kendaraan tangki sudah kita siapkan," kata Iqbal, Rabu (15/4/2026).
Meski demikian, Iqbal tetap berharap bahwa prediksi ini tidak benar-benar terjadi. Sama hal dengan tahun lalu, BMKG memprediksi akan terjadi kemarau panjang, namun kondisi masih tergolong normal.
"Mudah-mudahan dugaan akan ada kemarau panjang tidak terjadi, dugaan yang sama juga tahun lalu," kata Iqbal.
Baca juga: Antisipasi Cuaca Buruk, Menhub Dudy Purwagandi Minta Mitigasi Ketat Arus Mudik di NTB
Sebagai salah satu daerah lumbung pangan nasional, NTB oleh pemerintah pusat diberikan target 400 ribu ton gabah dalam mendukung ketahan pangan tahun 2026. Dengan prediksi BMKG itu daerah berjuluk 'Bumi Gogo Rancah (Gora)' ini sudah bersiap menghadapi itu.
Mantan Dubes Indonesia untuk Turki ini mengatakan tahun 2025 lalu, NTB mendapatkan program optimalisasi lahan (Oplah) dari Kementerian Pertanian (Kementan) sebanyak 14 ribu hektar untuk mendukung ketahanan pangan.
"Sudah ada oplah yang banyak dialokasikan di daerah-daerah tadah hujan," kata Iqbal.
Artinya lahan pertanian yang selama ini hanya mampu memanen gabah satu kali dalam setahun, kini bisa memproduksi dua kali dalam setahun. Selain itu juga pemerintah provinsi sudah melakukan rehabilitasi terhadap saluran irigasi yang selama ini belum optimal kinerjanya.
"Insyaallah sudah kita mitigasi supaya tidak kekurangan suplai airnya," kata Iqbal.
Iqbal juga mengatakan penyuluh pertanian bersama dengan pekasih atau petugas pengatur air sudah diberikan arahan untuk menyiapkan mitigasi menghadapi kemarau panjang ini.
(*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/lombok/foto/bank/originals/KEMARAU-PANJANG-2026.jpg)