NTB

NTB Siapkan Strategi Optimalisasi Lahan untuk Hadapi Potensi Kemarau Panjang

TRIBUNLOMBOK.COM/ROBBY FIRMANSYAH
MITIGASI KEMARAU - Gubernur Lalu Muhamad Iqbal memberikan penjelasan tentang mitigasi kemarau panjang saat ditemui di Mataram, Rabu (15/7/2026). Badan Penanggulan Bencana Daerah (BPBD) NTB sudah menyiapkan langkah mitigasi kemarau panjang. 
Ringkasan Berita:
  • Badan Penanggulan Bencana Daerah (BPBD) NTB sudah menyiapkan langkah mitigasi kemarau panjang.
  • Sebagai salah satu daerah lumbung pangan nasional, NTB diberi target 400 ribu ton gabah dalam mendukung ketahan pangan tahun 2026.

Laporan Wartawan TribunLombok.com, Robby Firmansyah

TRIBUNLOMBOK.COM, MATARAM - Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Barat (Pemprov NTB) bersiap menghadapi musim kemarau tahun 2026.

Berdasarkan prediksi badan meteorologi, klimatologi dan geofisika (BMKG) tahun ini kemarau yang akan terjadi jauh lebih kering dan panjang dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.

Gubernur Lalu Muhamad Iqbal menyampaikan sejak beberapa bulan lalu Badan Penanggulan Bencana Daerah (BPBD) sudah menyiapkan langkah mitigasi, yakni dengan menyiapkan sumur bor di wilayah rawan kekeringan dan mobil tangki untuk pendistribusian air bersih nantinya.

"Sumur bor, kendaraan tangki sudah kita siapkan," kata Iqbal, Rabu (15/4/2026).

Baca juga: Cadangan Beras Indonesia Cukup untuk 11 Bulan ke Depan

Meski demikian, Iqbal tetap berharap bahwa prediksi ini tidak benar-benar terjadi. 

BMKG pada tahun lalu juga memprediksi akan terjadi kemarau panjang, namun kondisi masih tergolong normal.

"Mudah-mudahan dugaan akan ada kemarau panjang tidak terjadi, dugaan yang sama juga tahun lalu," kata Iqbal.

Sebagai salah satu daerah lumbung pangan nasional, NTB diberi target 400 ribu ton gabah dalam mendukung ketahan pangan tahun 2026. 

Dengan prediksi BMKG itu daerah berjuluk 'Bumi Gogo Rancah (Gora)' ini sudah bersiap menghadapi itu.

Mantan Dubes Indonesia untuk Turki ini mengatakan tahun 2025 lalu, NTB mendapatkan program optimalisasi lahan (Oplah) dari Kementerian Pertanian (Kementan) sebanyak 14 ribu hektar untuk mendukung ketahanan pangan.

"Sudah ada oplah yang banyak dialokasikan di daerah-daerah tadah hujan," kata Iqbal.

Artinya lahan pertanian yang selama ini hanya mampu memanen gabah satu kali dalam setahun, kini bisa memproduksi dua kali dalam setahun. 

Selain itu juga pemerintah provinsi sudah melakukan rehabilitasi terhadap saluran irigasi yang selama ini belum optimal kinerjanya.

"Insyaallah sudah kita mitigasi supaya tidak kekurangan suplai airnya," kata Iqbal.

Iqbal juga mengatakan penyuluh pertanian bersama dengan pekasih atau petugas pengatur air sudah diberikan arahan untuk menyiapkan mitigasi menghadapi kemarau panjang ini.

(*)