Rumah sakit dan Faskes Diminta Waspada Campak
Berdasarkan data hingga minggu ke-11 tahun 2026, tercatat sebanyak 58 KLB campak di 39 kabupaten/kota yang tersebar di 14 provinsi
Ringkasan Berita:
TRIBUNLOMBOK.COM - Kementerian Kesehatan Republik Indonesia mengeluarkan Surat Edaran Nomor HK.02.02/C/1602/2026 tentang Kewaspadaan terhadap Penyakit Campak bagi Tenaga Medis dan Tenaga Kesehatan.
Langkah ini diambil menyusul meningkatnya kasus campak dan terjadinya Kejadian Luar Biasa (KLB) di sejumlah daerah di Indonesia.
Berdasarkan data hingga minggu ke-11 tahun 2026, tercatat sebanyak 58 KLB campak di 39 kabupaten/kota yang tersebar di 14 provinsi.
Jumlah kasus sempat mencapai 2.740 pada awal tahun, meskipun kini menunjukkan tren penurunan menjadi 177 kasus.
Baca juga: NTB Tetapkan KLB Suspek Campak di Tiga Daerah, 985 Kasus Ditemukan hingga Maret 2026
Plt. Direktur Jenderal Penanggulangan Penyakit, Andi Saguni, menegaskan bahwa tenaga medis dan tenaga kesehatan menjadi kelompok yang rentan tertular karena intensitas kontak dengan pasien.
“Dengan meningkatnya kasus campak dan tingginya angka perawatan di rumah sakit, tenaga medis dan tenaga kesehatan menjadi kelompok yang berisiko tinggi. Oleh karena itu, langkah kewaspadaan dan perlindungan harus diperkuat di seluruh fasilitas pelayanan kesehatan,” ujar Andi Saguni, dikutip dari laman resmi Kemenkes.
Upaya Pengendalian
Sebagai upaya pengendalian, Kemenkes telah melaksanakan Outbreak Response Immunization (ORI) serta Catch-Up Campaign (CUC) Campak/MR di 102 kabupaten/kota dengan sasaran anak usia 9 hingga 59 bulan.
Namun demikian, kewaspadaan tetap perlu ditingkatkan, khususnya di lingkungan fasilitas kesehatan.
Melalui surat edaran ini, Kemenkes menginstruksikan rumah sakit dan fasilitas pelayanan kesehatan untuk memperkuat langkah-langkah pencegahan.
Antara lain dengan melakukan skrining dan triase dini, menyiapkan ruang isolasi, memastikan ketersediaan alat pelindung diri (APD), serta memperkuat sistem pengendalian infeksi.
Selain itu, tenaga medis dan tenaga kesehatan juga diminta untuk disiplin menerapkan protokol pencegahan infeksi, serta segera melaporkan apabila mengalami gejala yang mengarah pada campak.
“Kami mengimbau seluruh tenaga kesehatan untuk tetap disiplin menjalankan protokol pencegahan dan segera melaporkan jika menemukan kasus suspek. Respons cepat sangat penting untuk mencegah penularan yang lebih luas,” tambah Andi Saguni.
Kemenkes juga menegaskan bahwa seluruh kasus suspek campak harus dilaporkan dalam waktu maksimal 24 jam melalui sistem surveilans yang telah ditetapkan.
Apa Itu Campak?
Campak adalah suatu penyakit akut menular yang disebabkan oleh virus, biasanya menyerang anak-anak dengan derajat ringan sampai sedang, seperti dikutip dari laman Kesehatan Lanjutan (Keslan) Kemenkes.
Penularan penyakit campak adalah dari orang ke orang melalui droplet atau dapat pula melalui air borne.
Penyakit ini termasuk ke dalam golongan penyakit yang dapat dicegah dengan Imunisasi (PD3I).
Beberapa orang menganggap campak sebagai ruam kecil dan demam yang hilang dalam beberapa hari.
Namun penyakit campak juga sangat berbahaya karena dapat menyebabkan kecacatan dan kematian yang diakibatkan oleh komplikasi.
Campak dapat menyebabkan komplikasi yang serius pada pasien yang memiliki daya tahan tubuh rendah seperti diare, radang paru (Pneumonia), radang otak (Ensefalitis); kebutaan; gizi buruk dan bahkan kematian.
Kekebalan terhadap campak diperoleh setelah vaksinasi, infeksi aktif dan kekebalan pasif pada seorang bayi yang lahir dari ibu yang telah kebal (berlangsung selama 1 tahun).
Seseorang yang rentan terhadap campak adalah bayi berumur lebih dari 1 tahun, bayi yang tidak mendapatkan imunisasi, remaja dan dewasa muda yang belum mendapatkan imunisasi kedua.
Penyebab dan Cara Penularan
Campak disebabkan oleh virus yang termasuk dalam genus Morbillivirus dari keluarga Paramyxoviridae. Penularan campak sangat cepat dan mudah melalui :
1. Percikan saliva, ketika seseorang yang terinfeksi lalu batuk atau bersin, virus dapat menyebar ke udara dan menginfeksi orang lain yang berada di dekatnya.
2. Kontak langsung, kontak langsung dengan cairan tubuh penderita bisa menjadi sumber penularan.
3. Benda yang terkontaminasi, virus campak bisa bertahan hidup di permukaan benda selama beberapa jam. Bayi atau balita yang menyentuh benda tersebut kemudian memegang mulut atau hidungnya dapat terinfeksi.
Gejala
1. Mata merah dan sensitif terhadap cahaya
2. Menyerupai gejala pilek seperti batuk kering, hidung beringus dan sakit tenggorokan
3. Lemas dan letih
4. Demam tinggi
5. Bercak kemerahan / rash
6. Sakit dan nyeri
7. Tidak ada selera makan
8. Diare atau dan muntah-muntah
9. Bercak kecil berwarna putih keabu-abuan di mulut dan tenggorokan
Faktor Risiko
1. Bayi di bawah usia 12 bulan yang tidak diimunisasi campak
2. Anak yang tinggal di area padat penduduk
3. Bayi yang tidak mendapat asi eksklusif
4. Perjalanan ke suatu wilayah dengan tingkat campak tinggi
5. Kekurangan vitamin A
Penularan
Virus campak mudah menularkan penyakit. Virulensinya sangat tinggi terutama pada anak yang rentan dengan kontak keluarga sehingga hampir anak rentan tertular.
Campak ditularkan melalui droplet di udara oleh pasien sejak 1 hari sebelum timbulnya gejala klinis sampai 4 hari sesudah munculnya ruam.
Ibu yang pernah menderita campak akan menurunkan kekebalannya pada janin yang dikandungnya melalui plasenta dan kekebalan ini bisa bertahan sampai bayi berusia 4 - 6 bulan.
Pada usia 9 bulan bayi diharapkan membentuk antibodinya sendiri secara aktif setelah menerima vaksinasi campak.
Dalam waktu 12 hari setelah infeksi campak sampai puncak sekitar 21 hari, igM akan terbentuk dan cepat menghilang untuk kemudian digantikan oleh igG.
Cakupan imunisasi campak menyebabkan kekebalan kelompok (Herd Immunity) yang akan menyebabkan penurunan kasus campak di masyarakat.
Komplikasi
1. Infeksi telinga
2. Diare dan muntah
3. Dehidrasi
4. Pneumonia
5. Kebutaan
6. Bronkitis pada anak
7. Encephalitis atau radang otak
Pemeriksaan
Pemeriksaan klinis dokter biasanya sudah cukup untuk mendiagnosis campak berdasarkan gejala-gejala yang muncul.
Namun, dalam beberapa kasus, pemeriksaan tambahan seperti tes darah dan atau swab tenggorokan mungkin diperlukan untuk mengkonfirmasi diagnosis.
Pencegahan
1. Imunisasi campak
2. Berikan ASI untuk mencegah infeksi ini pada bayi
3. menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat seperti mencuci tangan
4. Rutin mendisinfeksi benda dan permukaan di rumah
5. Meningkatkan kekebalan tubuh anak dengan memberi asupan makanan yang bergizi, tidur yang cukup serta rutin berolahraga
Hal-hal yang perlu diperhatikan terkait penyakit campak
1. Mengurangi aktivitas terlalu banyak di luar rumah
2. Hindari bersin sembarangan
3. Hindari melakukan kontak dengan orang lain
4. Membiasakan rajin mencuci tangan
(*)
| Status KLB Campak Dicabut, Dinas Kesehatan NTB Siagakan Ratusan Intel Kesehatan |
|
|---|
| Petugas Kesehatan Haji NTB Pantau Intensif Jemaah dari Zona KLB Campak Cegah Penularan di Tanah Suci |
|
|---|
| Label Nutrisi pada Minuman Berpemanis, Cek Arti Level A Sampai D |
|
|---|
| Nakes di 14 Provinsi Dapat Prioritas Vaksinasi Campak |
|
|---|
| Nakes Bisa Kerja ke Luar Negeri, Cari Info Lowongan di Migrant Career Center |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/lombok/foto/bank/originals/IGD-Rumah-Sakit-Provinsi-NTB.jpg)