Rabu, 10 Juni 2026
NTB Makmur Mendunia
NTB Makmur Mendunia

Berita NTB

Ikhtiar NTB Kendalikan Harga Cabai Lewat Sektor Pendidikan

Pemprov NTB melibatkan lebih dari 200 SMA/SMK untuk menanam cabai guna meningkatkan produksi dan menekan lonjakan harga.

Tayang:
Penulis: Robby Firmansyah | Editor: Idham Khalid
Biro Adpim NTB
TINJAU PASAR - Gubernur NTB Lalu Muhamad Iqbal saat berdialog dengan pedagang cabai di Pasar Tanak Mira Sumbawa Barat, Jumat (13/3/2026). 
Ringkasan Berita:
  • Pemprov NTB melibatkan lebih dari 200 SMA/SMK untuk menanam cabai guna meningkatkan produksi dan menekan lonjakan harga cabai akibat mekanisme pasar dan cuaca.

  • Program ini diharapkan menciptakan pusat produksi cabai baru, menjaga pasokan di pasar, serta mengurangi ketergantungan pada pasokan dari luar daerah.

 

Laporan Wartawan TribunLombok.com, Robby Firmansyah

TRIBUNLOMBOK.COM, MATARAM - Tingginya harga cabai yang disebabkan oleh mekanisme pasar, membuat Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) menyiapkan program penguatan produksi cabai melalui keterlibatan sekolah baik SMA maupun SMK. 

Dengan jumlah lebih dari 200 sekolah di NTB, program ini diharapkan mampu menciptakan pusat-pusat produksi baru sekaligus menjadikan sekolah sebagai penggerak atau champions komoditas cabai daerah. Ini disampaikan Gubernur Lalu Muhamad Iqbal saat mengunjungi Pasar Tanak Mira, Kabupaten Sumbawa Barat bersama Bupati Sumbawa Barat Amar Nurmansyah, Jumat (13/3/2026).

Gubernur Iqbal mengatakan, untuk bahan pokok yang penentuan harganya menjadi kewenangan pemerintah cenderung masih bisa dikendalikan, namun berbeda dengan bahan pokok yang ditentukan oleh mekanisme pasar. 

"Gula, minyak goreng, beras harganya relatif, bahkan dibawah harga acuan. Sama dengan harga acuan atau relatif dibawah harga acuan. Artinya dengan kemampuan pemerintah melalui Bulog untuk melakukan intervensi harganya relatif terjaga," kata Iqbal, Jumat (13/3/2026). 

Baca juga: Harga Cabai Sentuh Rp120 Ribu per Kilogram di Lombok Barat

Namun untuk komoditas seperti cabai yang penentuan harganya disebabkan mekanisme pasar, ini cenderung lebih sulit dikendalikan. Ditambah dengan cuaca yang tidak menentu membuat panen terganggu. 

Akibatnya ketersediaan cabai rawit di pasar tidak sesuai antara permintaan dan ketersediaan, akibatnya harganya melambung tinggi. Salah satu upaya yang bisa dilakukan adalah mendatangkan cabai dari luar. 

Namun ini tidak bisa serta merta dilakukan, karena harus membutuhkan offtaker yang menerima dan mendistribusikan cabai ke pasar-pasar. Karena mendatangkan cabai dari luar bukanlah urusan pemerintah dengan pemerintah, melainkan antara bisnis dengan bisnis (B to B). 

Itulah alasan Iqbal meminta agar sekolah terlibat dalam memproduksi cabai ini. Selain itu dia juga mendorong agar kabupaten/kota untuk meningkatkan produksi hortikultura. 

Upaya ini dilakukan agar kebutuhan masyarakat dapat terpenuhi secara berkelanjutan, sekaligus menjaga harga pangan di tingkat pasar. 

(*)

Sumber: Tribun Lombok
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved