Minggu, 12 April 2026
NTB Makmur Mendunia
NTB Makmur Mendunia

Berita Lombok Timur

Pusat Riset Rumput Laut Kelas Dunia Dibangun di Lombok Timur

Pusat riset rumput laut kelas dunia dibangun di Lombok Timur bekerjasama dengan Kemendiktisaintek dan sejumlah kampus

Penulis: Rozi Anwar | Editor: Wahyu Widiyantoro
TRIBUNLOMBOK.COM/Iistimewa
PUSAT RISET - Bupati Lombok Timur, Haerul Warisin bersama Wakil Menteri Diktisaintek, Stella Christie dalam peletakan batu pertama pusat riset rumput laut kelas dunia di Desa Ekas, Kecamatan Jerowaru, Lombok Timur, Kamis (12/2/2026). Pusat riset rumput laut kelas dunia dibangun di Lombok Timur bekerjasama dengan Kemendiktisaintek dan sejumlah kampus. 

Ringkasan Berita:
  • Pusat riset rumput laut kelas dunia dibangun di Lombok Timur bekerjasama dengan Kemendiktisaintek dan sejumlah kampus.
  • Indonesia saat ini sudah menguasai 75 persen pangsa pasar rumput laut tropis dunia, dengan nilai pasar mencapai USD 12 miliar atau Rp 198 triliun.

Laporan Wartawan TribunLombok.com, Rozi Anwar 

TRIBINLOMBOK.COM, LOMBOK TIMUR - Pemerintah Kabupaten Lombok Timur bersama Universitas Mataram (Unram) dan Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendiktisaintek) resmi membangun pusat riset rumput laut kelas dunia.

Wakil Menteri Diktisaintek, Stella Christie, mengatakan riset rumput laut Indonesia akan melompat jauh, menggandeng dua kekuatan sains dunia Universitas California, Berkeley dan Beijing Genomic Institute (BGI).

“Kami sudah menggandeng industri nasional dan dua kekuatan besar sains dunia. Tujuan riset bukan sekadar ilmu, tapi meningkatkan pendapatan dan ekonomi rakyat," katanya pada Kamis (12/2/2026) malam.

Indonesia saat ini sudah menguasai 75 persen pangsa pasar rumput laut tropis dunia, dengan nilai pasar mencapai USD 12 miliar atau Rp 198 triliun. 

Baca juga: Ekas Buana Lombok Timur Resmi Jadi Lokasi Pusat Riset Rumput Laut Dunia

Angka itu akan membengkak seiring inovasi hilirisasi: dari pupuk, plastik biodegradable, hingga bio-avtur untuk pesawat.

"Tanpa riset, Indonesia hanya akan menjadi penonton di tengah ribuan triliun rupiah yang berputar di ekonomi global," ujarnya.

Desa Ekas menjadi saksi, bahwa pembangunan tak selalu harus dimulai di kota besar. Bahwa riset bisa menjadi jalan keluar dari ketimpangan. Petani rumput laut bisa menjadi bagian dari revolusi sains dunia.

"Kalau kita tidak mulai riset dari sekarang, kita tidak akan kebagian dari ribuan triliun yang berputar di dunia," pesan Stella.

Bupati Lombok Timur, Haerul Warisin, menyambut proyek ini dengan harapan besar. 

Ia ingin ITSRC tak sekadar menjadi gedung riset, tapi solusi atas persoalan klasik, seperti bibit rumput laut yang belum unggul.

"Potensi kita besar, kualitas kita baik, tapi belum optimal. Dengan kehadiran peneliti, kita bisa hasilkan bibit unggul dan dampak ekonominya langsung dirasakan masyarakat," ujar Iron sapaan akrabnya.

Di lokasi yang sama, akan berdiri klinik kedokteran spesialis kepulauan sebuah terobosan layanan kesehatan di wilayah pesisir. 

Rektor Unram, Bambang Hari Kusumo, menyebut fasilitas ini bagian dari tujuh program pendidikan dokter spesialis Unram, dan akan mulai dibangun dalam enam bulan ke depan.

"Lahan ini hibah dari Pemda. Harapannya, masyarakat tidak hanya terlayani kesehatannya, tapi kawasan ini tumbuh jadi sentra produksi rumput laut," jelas Iron.

Sumber: Tribun Lombok
Halaman 1/2
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved