Berita NTB
Disnakkeswan NTB Bantah 12 Sapi Mati di Gili Mas 'Dua Mati Empat Dijual Murah Karena Lemas'
Kepala Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan (Disnakkeswan) Nusa Tenggara Barat (NTB), Muhammad Riadi, membantah adanya 12 ekor sapi yang mati akibat
Penulis: Ahmad Wawan Sugandika | Editor: Laelatunniam
Laporan Wartawan TribunLombok.com, Ahmad Wawan Sugandika
TRIBUNLOMBOK.COM, LOMBOK BARAT – Kepala Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan (Disnakkeswan) Nusa Tenggara Barat (NTB), Muhammad Riadi, membantah adanya 12 ekor sapi yang mati akibat terlalu lama menunggu keberangkatan di Pelabuhan Gili Mas.
Ia menegaskan bahwa berdasarkan data di lapangan, hanya dua ekor sapi yang ditemukan mati saat petugas turun langsung ke lokasi. Sementara itu, empat ekor sapi lainnya dijual murah karena lemas.
“Ada 12 (sapi) mati itu nggak benar, yang benar itu mati dua dan kedapatannya waktu di (Pelabuhan) Gili Mas. Dan hari Sabtu dan Minggu ada 4 yang dijual murah karena dia kram otot karena terlalu lama berdiri, tapi itu tidak mati,” ucap Riadi menjawab TribunLombok.com, Senin (21/4/2025).
Menanggapi kepadatan truk pengangkut sapi di Gili Mas, Disnakkeswan NTB langsung menurunkan tim dokter hewan untuk memberikan pertolongan pertama.
Dari hasil pemeriksaan, sapi-sapi yang mati diketahui mengalami kelelahan dalam perjalanan, terlebih para peternak bahkan kedapatan mencampurkan sapi yang ukurannya kecil dengan yang besar.
“Kenapa mati, ya karena mereka (peternak) mengisi tronton terlalu padat dan tidak dipisahkan sapi besar dan kecil. Sapi Bali dicampur dengan sapi besar, dan pada saat kelelahan sapi Bali tidur dia ke injak saat di perjalanan,” ungkap Riadi.
Ia menambahkan, pihaknya telah berupaya maksimal memberikan pertolongan kepada sapi-sapi yang lemas dan kelelahan. Saat terjadi penumpukan kendaraan di pelabuhan, tim dokter hewan langsung diterjunkan. Bahkan, BPBD NTB turut membantu dengan mendistribusikan air bersih kepada para peternak yang tertahan di Pelabuhan Gili Mas.
“Itu bentuk upaya yang bisa dilakukan Pemprov NTB untuk menyelamatkan sapi supaya jangan sampai mati,” tegasnya.
Riadi juga menyoroti kurangnya perhatian dari pihak perusahaan pengangkut dan peternak terhadap kapasitas dan jadwal yang telah ditetapkan. Ia menjelaskan, kapasitas maksimal pengangkutan di Pelabuhan Gili Mas dan Lembar hanya 55 truk tronton, dengan interval keberangkatan setiap dua hari. Jadwal tersebut disesuaikan dengan keberangkatan kapal dari Pelabuhan Poto Tano di Kabupaten Sumbawa.
“Karena yang paling besar ngirim sapi dari Bima maka kita atur interpal 2 hari berangkat 40 tronton, sisanya yang 15 dari Sumbawa dan Dompu. Sekarang ini mereka bergerak bersamaan tidak sesuai dengan kapasitas angkut,” sebutnya.
Padahal lanjut dia, sebelum musim pengangkutan, pihaknya sudah mengadakan rapat dengan asosiasi peternak hingga pihak pelabuhan untuk menyepakati jadwal pemberangkatan. Utamanya menyampaikan kapasitas angkutan yang hanya bisa menampung 55 tronton untuk keberangkatan 2 hari.
Meski demikian, para perusahaan yang telah diberikan rekomendasi ini rupanya tidak mengikuti jadwal, mereka bahkan berangkat secara bersamaan.
Riadi mengakui, jika sebelumnya asosiasi juga sudah meminta penambahan kapal untuk pengangkutan pada tahun 2025 ini.
Akan tetapi, mengingat jumlah armada dan momen pengangkutan yang bersamaan dengan daerah lain diduganya menjadi alasan tidak bisa dilakukannya penambahan armada kapal.
| Kenaikan UMP NTB 2026 Tunggu Persetujuan Gubernur Iqbal |
|
|---|
| Masa Depan Investasi: NTB Bidik Sektor Pariwisata, Pertaniandan dan Energi Terbarukan |
|
|---|
| NTB Mulai Geser Fokus Investasi dari Pertambangan ke Energi Terbarukan |
|
|---|
| Target Investasi di NTB 2026 Naik Jadi Rp68 Triliun |
|
|---|
| NTB Urutan Keempat Nasional Pengirim Pekerja Migran, Terbanyak dari Lombok Timur |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/lombok/foto/bank/originals/truk-pengangkut-sapi.jpg)